Jumat, 24 September 2010

Selamat ulang tahun (cerpen)

..waktu bertahanlah sejenak, aku hanya ingin mengucapkan sebuah kalimat sederhana, selamat ulang tahun..


-------

Sambil memandangi langit-langit kamar, aku terus memutar-mutar handphone di tangan kananku. Ada berbagai macam pikiran yang sedang mengusikku saat ini. Pikiran yang berpusat pada satu nama.

Aku melirik jam dinding. Pukul 22.30, cukup larut, untukku yang besok masih harus bangun pagi untuk sekolah. Namun untuk sebuah alasan yang sejak tadi ada di dalam otakku, aku berusaha mempertahankan kelopak mataku agar tidak tertutup sekarang, karena ini belum saatnya.

“Sebentar lagi..” gumamku sambil terus-terusan melihat jam dinding dan juga handphoneku. “Cuma satu setengah jam lagi, dan abis itu elo bisa tidur..” lanjutku layaknya orang gila, berbicara sendiri malam-malam begini.

Tidak banyak yang aku lakukan. Aku hanya diam di atas kasurku, memeluk gulingku dan berlindung di bawah selimutku. Sesekali aku mengetuk-ngetukkan jari-jariku di atas kasur, sekedar untuk membuang waktu.

Belum ada satu jam berlalu, mataku sudah hampir terpejam. Dan itu menyebalkan. Hei, aku tidak ingin semuanya menjadi sia-sia di saat-saat yang paling mendekati seperti sekarang ini, bisikku lantang setengah marah, pada hatiku sendiri.

Dengan menahan ngantuk yang teramat sangat, aku terus berusaha untuk terjaga. Untuk sebuah pesan kecil, pesan kecil yang harus aku sampaikan saat ini juga. Dan harus di waktu yang tepat.

Meski hanya nyamuk-nyamuk menjengkelkan yang menemaniku, tapi aku terus berusaha bertahan. Layaknya sebuah tim sepak bola kampung melawan chelsea. Atau seperti, olga melawan chris jhon mungkin ?

Lagi-lagi aku melirik handphoneku, dan senyum tipis terpeta di bibirku ketika, aku sadar waktu yang aku tunggu akan segera tiba. Hanya lima menit lagi. Ahh, jadi terdengar seperti lagu dangdut, pikirku.

Buru-buru aku beranjak dari kasurku, dan berjalan ke arah balkon kamar. Untung malam ini aku tidak sedang memakai hot pants atau tank top sehingga angin malam yang berhembus tidak terlalu terasa menusuk kulitku, meski tetap saja ia menyelip di sekitarku tubuhku.

Aku menyiapkan sebatang lilin berwarna putih dihadapanku, lantas menyalakan api di atasnya. Dalam hati, aku mulai menghitung mundur. Lima..empat..tiga..dua...

Piipp..piippp...pipppp..

Tanda alarm handphoneku berbunyi dan langsung aku matikan. Aku menatap lilin di hadapanku. Tersenyum sejenak sebelum aku pejamkan mataku, untuk sepatah dua patah doa.

“Hanya ini, yang bisa aku lakukan untuk kamu. Semoga kamu selalu baik-baik saja, dan bahagia. Semoga dia siapapun yang ada disampingmu sekarang, bisa selalu membuatmu bahagia. Semoga kamu, tidak pernah mengecewakan siapapun yang menyangimu, dan semoga kebahagiaan tidak pernah menjauh dari kehidupanmu..”

“Fiuhhh..” dalam sekali tarikan nafas, aku langsung meniup lilin di hadapanku itu.

“Selamat ulang tahun, Radit..” sambungku, kali ini seolah berbisik pada angin, sambil berharap diam-diam, desisnya akan membawa ucapanku untuk dia yang dari tadi aku tunggu hari kelahirannya, untuk dia yang mungkin saat ini sedang lelap tertidur dengan berpuluh-puluh ucapan selamat yang masuk ke handphonenya, atau dia yang mungkin saat ini sedang penuh dengan tepung serta air juga olesan krim dari surprise partynya.

Aku kembali ke kamar, dan kembali ke atas ke ranjangku. Kembali memeluk gulingku, dan juga berlindung di bawah selimutku. Kembali membenamkan diriku, di duniaku, bukan dunianya, dan tentu saja bukan dunia kita.

Hanya ini. Hanya untuk ucapan selamat ulang tahun dan aku telah terjaga hingga hari berganti. Hanya untuk doa panjang umur dan aku tidak terlelap sejak tadi meski aku bisa. Hanya untuk ungkapan rasa syukur yang aku lakukan dengan diam-diam dan sendiri.

Untuk dia. Untuk Radit. Untuk masa lalu yang tidak pernah hilang. Untuk cinta yang masih ada. Untuk sebuah keinginan semu namun menggebu. Aku ingin menjadi pengucap pertama di tahunnya yang ke 17, dan ternyata aku bisa. Meski aku tahu, ia tidak tahu.

Aku bisa ke rumahnya sekarang jika aku mau. Aku juga bisa menelponnya jika aku ingin. Atau seperti yang lain, aku juga bisa mengirimkan pesan padanya. Namun aku tidak ingin menjadi biasa. Lagipula aku tahu. Bukan statusku lagi untuk menjadi ‘siapa’ yang pertama mengingat ulang tahunnya, meski memang itu yang terjadi.

Apa aku gila ? tentu saja tidak. Aku seratus atau malah seribu persen sadar atas apa yang baru saja aku lakukan. Meniup lilin untuk ulang tahun orang lain. Aku rasa seseorang yang gila tidak mungkin akan punya pikiran sekeren itu.

Puas dengan apa yang aku lakukan tadi. Dengan segera aku menuju alam mimpiku, yang memang sudah menanti sejak tadi namun sengaja aku tahan. “Sekali lagi selamat ulang tahun..” desahku pelan sebelum benar-benar terlelap.

-----

Sambil mengikat rambutku, aku memperhatikan kantung mata yang tergambar di wajahku, hadiah dari perbuatan semalam. Rasanya aku masih mengantuk. Ahh, seandainya sekolah mau mengerti semalam aku baru saja melakukan hal ajaib dan bersedia memberiku ijin karenanya. Khayalan yang bodoh, aku tahu.

Aku mengambil tas dan jam tanganku, sudah jam enam lebih, dan aku akan terlambat jika tidak buru-buru berangkat. Sedikit tergesa-gesa, aku langsung pergi ke sekolah. Di jalan, lampu merah menghentikan mobilku sejenak, aku merogoh handphoneku di tas, mengeluarkannya, dan segera mengetikkan sebuah pesan singkat.

To : Radit

Happy birthday yaa, wyatb :)

.TAMAT.

Ahahaha..krik banget ya ini cerpen -___-“

Okee, di tulis tiba-tiba, lagian ini juga udah jam setengah dua belas malam, jadi kalo otak gue random dan menghasilkan tulisan aneh macem ini, jangan salahin gue, tapi salahin kenapa kok dibaca juga tulisan gaje ini (?) haha.

Gue juga enggak tahu ini apa, dibilang cerpen, aneh, tapi dibilang bukan, ini emang cerpen, haha. Yaa, kalo terlanjur baca, nikmatin ajalah.

Dan kalo ada yang tahu, cerpen ini memang judulnya sama, kaya salah satu cerpen dari buku “Rectoverso”-nya dewi lestari. Tapi gue berani jamin, isinya beda banget, lagian gue masih jauh banget kalo di bandingin sama dewi lestari dan bahasa dewanya.

Makasih untuk sebuah kenangan dan cerita, untuk sebuah masa dan waktu, cerita ini terlahir darisana, dari sebuah cerita klasik yang mengendap di dalam jiwa.

Jumat, 17 September 2010

satu hari bersamamu (cerpen)

Aku menyelinap di antara tubuh-tubuh manusia lain yang tampak lebih besar dariku. Rasanya aku ingin menyingkir sesaat dari kerumunan keramaian ini. Aku terus berjalan menjauhi panggung utama, namun semakin aku jauh berjalan, suara itu malah terasa semakin jelas menyapa telingaku. Dan harus ku akui, aku agak sedikit merasa tidak nyaman dengan hal tersebut.


Ada awal dan akhirnya..


yang mungkin yang tak dapat terurai semua..


ada duka ada bahagia..


yang mungkin takkan pernah dapat terlupa..

Perasaan menyesal menggelayuti hatiku. Tahu ia ada disini, aku tentu akan menolak untuk hadir dalam acara musik kali ini. Aku tidak pernah baik-baik saja bila melihat sosoknya. Tidak memiliki tujuan yang jelas, aku memilih untuk berhenti di sebuah taman dekat parkiran, yang sepi namun terasa tenang.

..selamat jalan kekasih..


manis yang berujung perih..


kisah yang sungguh terlalu indah..


kini semua berakhir sudah..

Sayup-sayup, angin masih membawa suaranya, meski tidak sejelas tadi. Aku duduk di atas sebuah bangku, tepat di bawah lampu taman, rasanya lebih baik memang bila aku menyingkir saat ini. Lima menit aku lewati hanya dengan diam, bertingkah layaknya orang autis dengan dunia kesendirianku. Aku menghela napasku beberapa kali, untuk memperlancar aliran darahku yang terasa tiba-tiba membeku karena melihat senyumnya tadi.

Aku memejamkan mataku, dan berharap dapat menemukan sebuah rasa nyaman. Namun naas, wajahnya malah tergambar jelas di pikiranku, tentu saja beserta senyumannya, yang dulu atau mungkin sekarang, selalu juara untuk menahan hatiku.

“Ayolah, kisah kalian udah berakhir empat tahun yang lalu..” desahku masih dengan mata tertutup sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Apanya yang empat tahun ?”

Tubuhku terlonjak kaget, mendapati suaranya terdengar jelas di sampingku. Dengan segera aku membuka mataku, dan benar saja, ia sedang duduk di sampingku. Sambil tersenyum dan seolah tanpa dosa, tahukah ia, mengagetkan kesunyian orang pukul sembilan malam seperti ini dapat mengakibatkan serangan bulu kuduk berdiri.

“A..alvin ?” panggilku lirih. Aku tadi telah sengaja menghindarinya, dan sekarang ia malah duduk disini.

“Hei ze, lama enggak ketemu..” sapanya, masih ramah seperti dulu. Aku hanya bisa tersenyum, karena darahku menjadi beku kembali.

Ia bersiul-siul kecil, lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. “Cess..” Alvin menyalakan rokoknya.

“Lo ngerokok ?” tanyaku kaget sambil memutar bola mataku. Hei ada apa dengannya hingga seperti ini, pikirku.

Alvin nampak tersenyum, ia menghisap rokoknya, lalu membuang asapnya dari kedua lubang hidungnya, sungguh terlihat jago.

“Uhuk..uhuk..” aku yang memang tidak bisa terkena asap rokok, langsung merasa sesak dengan asap rokoknya.

“Sori..” ujarnya, ia menghisap rokoknya sekali lagi, lalu langsung membuangnya ke tanah dan menginjak puntung rokok itu dengan ujung sepatu ketsnya.

“Mentang-mentang jadi anak band, sekarang mainannya rokok nih..” cibirku pelan. Lagi-lagi ia hanya tersenyum. Hingga aku rasanya ingin menutup mulutnya menggunakan plester agar ia berhenti tersenyum dan berhenti membuat degup jantungku menjadi tidak beraturan seperti ini.

“Gimana penampilan gue tadi ?” aku berpikir cukup lama, sejujurnya aku tidak melihat ia sama sekali bernyanyi bersama bandnya. Aku langsung berbalik menjauh saat aku sadar ia yang akan mengisi acara, aku hanya mendengar suaranya dari jauh.

“Ehm..pilihan lagu yang bagus..” ujarku asal sambil gantian tersenyum ke arahnya, meski aku tahu, senyum ini sama sekali tidak berarti apapun untuknya.

“Biasannya band gue manggung enggak pernah bawain lagu slow kaya tadi, tapi gue baru putus sama cewek gue, dan dia juga dateng ke acara ini, jadi ya udah deh, sekalian aja gue nyanyi lagu itu”

“Oh..” sahutku datar, atau lebih tepatnya, aku juga tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah aku senang karena ia telah sendiri lagi saat ini ? tentu saja aku tidak mau terlalu melambungkan harapan tinggi.

Kami berdua lalu terdiam. Ia nampak lebih asik bermain-main tanah dengan sepatunya, sementara aku sendiri, hah, seperti yang pernah aku bilang, aku tidak pernah bisa baik-baik saja bila bertemu dengannya, selalu ada yang salah dengan tubuhku.

“Drrtt..drrtt..” aku merogoh tasku, mengambil hpku yang mungil, lalu membaca sms yang masuk.

“Eh vin, sori temen gue udah nunggu di depan, gue balik duluan ya” pamitku dan langsung pergi meninggalkannya. Kira-kira di langkahku yang ke sepuluh, suaranya memanggil namaku. “Zeva..”

“Hah, iya ?” tanyaku sambil berbalik ke arahnya.

“Besok mau nemenin gue enggak ?” tanyanya balik setengah berteriak.

“Kemana ?”

“Pantai, bagus kok..” aku hanya bisa menganggukan kepalaku, ia mengacungkan jempolnya, dan aku langsung berbalik lagi memunggunginya, aku tidak mau ia memergoki pipiku yang sedang memerah.

“Gue jemput jam delapan yaa..” sambungnya lagi. Dan aku terus berjalan menjauh, sambil diam-diam tersenyum, meski separuh hatiku takut, takut setelah kebahagiaan ini, akan ada air mata yang tumpah.

***

Entah telah untuk ke berapa kalinya, aku mematut penampilanku di kaca. Sudah berkali-kali aku berganti pakaian, mulai dari celana pendek, baby doll, rok mini, tank top, tube top, kemeja over size hingga dress telah aku coba. Padahal aku jelas-jelas tahu, tujuan kami adalah ke pantai.

“Ayolah ze, paling-paling alvin cuma minta lo nemenin dia yang abis putus dari ceweknya. Lagian ke pantai doang, ngapain lo harus rapi-rapi amat..” gumamku, kali ini sambil mencoba harem pants. Dan tentu saja aku tambah terlihat konyol.

“Teen..teeen..”

“Ze, temen kamu udah jemput tuh !” teriakan mama dan suara klakson mobil Alvin bercampur, menambah kepanikanku.

Pilihanku akhirnya jatuh, pada sebuah jeans belel tiga perempat, kaos berwarna kuning, sendal, dan sebuah tas selempang putih. Aku langsung menghampiri alvin yang menungguku di depan mobilnya, sambil mencepol rambutku yang panjang secara asal.

“Maaf lama..” ucapku langsung. Ia nampak menawan di balik kaos abu-abu yang di tumpuk dengan kemeja biru, celana pendek, serta kacamata hitamnya. Membuatku menjadi sedikit menyesal dengan dandanan asalku ini.

“Ya udah ayo naik, entar keburu siang..” aku mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang perjalanan, kita lebih banyak berdiam diri. Aku lebih tertarik memperhatikan hutan-hutan jati di kanan kiri jalan yang kita lewati, lagipula aku tidak tahu harus mulai darimana mengobrol dengannya.

“Dulu kita malah enggak pernah jalan kaya gini ya..” ujarnya memecah kebisuan ini. aku tersenyum tipis, tidak mengerti mengapa ia harus memulai dengan kata ‘dulu’.

“Abis dulu kamu backstreet sih, jadi susah banget ngajakkin kamu jalan, lagian kita masih smp juga sih ya waktu itu..” tambahnya lagi, masih menyelipkan kata ‘dulu’.

“Padahal dulu aku pengen banget ngabisin banyak waktu sama kamu..” entah dia sadar atau malah sengaja, kata ‘dulu’ lagi-lagi ada dalam kalimatnya.

“Jadi anggap aja sekarang, kita nebus waktu-waktu yang dulu lewat gitu aja ya”

“Maksudnya ?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan rasa kaget dan bingungku dengan pernyataannya tadi. Tapi bukannya menjawab, ia malah hanya tersenyum, lalu kembali konsen menyetir.

Seiring semakin menjauhnya perjalanan ini dari kota, pemandangan yang menemanipun semakin indah, tapi itu semua sudah tidak dapat menarik hasratku lagi, aku telah terlanjur di buat penasaran dengan kata-katanya beberapa menit yang lalu.

Setelah hampir satu setengah jam menyusuri jalanan yang tidak familiar untukku, akhirnya mobil alvin berhenti di pinggir tebing kapur. Ia mengajakku turun dan melewati jalan setapak kecil dari batuan-batuan berwarna putih.

“Yakin nih ada pantai di tempat kaya gini ?” tanyaku.

“Tuh..” ia yang berjalan di depanku, berhenti dan menunjuk hamparan pasir putih yang indah dan lautan biru yang megah di hadapan kami. Layaknya seorang anak kecil yang melihat sekarung permen, aku langsung berlari ke arah pantai itu, tertawa riang, dan ia hanya tersenyum kecil sambil mengamatiku.

Aku tersenyum sendiri, bila ombak menerpa betisku dan membawa pasir-pasirnya yang lembut ke sela-sela jariku. Seolah ini pertama kalinya aku melihat pantai. Sementara alvin hanya duduk di bawah pohon kelapa yang tampak teduh. Puas bermain air sendiri, aku berjalan ke arah alvin dan ikut duduk di sampingnya.

“Kamu suka ?”

“Ka..kamu ?” tanyaku bingung, sudah lama rasanya, tidak mendengar suara itu memanggilku dengan ‘kamu’ sejak empat tahun lalu tepatnya.

“Bolehkan ? atau udah ada yang lain yang manggil kamu dengan kamu ?”

“Enggak sih, cuma aneh aja, tiba-tiba..ehm..kamu manggil aku gitu..” ujarku ikut terbawa dengannya.

“Jadi kamu suka dengan ini ?” ulangnya lagi.

“Suka banget, pantai ini keren banget”

“Hampir semua mantan aku yang pernah aku ajak kesini juga pada suka” aku hanya meringis mendengarnya, baru beberapa detik yang lalu ia membuatku tersenyum lebar dengan panggilan ‘kamu’nya.

“Kamu enggak pernah ngajak aku kesini”

“Kan tadi aku udah bilang, dulu, susah banget ngajak kamu keluar, lagian juga dulu aku belum bisa bawa mobil sih..”

“Kamu kenapa ngajak aku kesini ?”

Dia tersenyum tipis ke arahku, bukannya memberiku jawaban, ia malah mengulurkan tangannya, mengajakku berdiri.

“Mau kemana ?”

“Ikut aja yuk” ujarnya pendek. Aku menurutinya, aku menyahut tangannya, dan jemarinya mulai menggenggam tanganku, membangkitkan getaran-getaran kecil di dalam tubuhku. Sepanjang jalan aku lebih banyak menunduk, tidak ingin terlihat terlalu gugup di depannya.

Ia terus menuntunku, kami berjalan melewati pasir-pasir putih, hingga jalan-jalan berbatu yang penuh dengan krikil. Dan sekali lagi aku dibuat terkagum-kagum oleh pemandangan yang ia tunjukkan. Dari tempatku berdiri sekarang, aku bisa melihat deburan ombak yang pecah saat menghantam karam, dengan latar air laut yang tenang.

“Aku selalu ngajak mantan aku ke pantai ini, tapi cuma kamu yang aku ajak ke tempat ini” ujarnya nyaring, agar suaranya tidak tenggelam oleh suara ombak yang lebih besar.

Aku menoleh ke arahnya, sungguh-sungguh tidak mengerti apa maksudnya melakukan ini. “Kalau gitu, kenapa kamu ajak aku kesini ?”

“Dulu, waktu aku nemuin pantai ini, aku udah janji sama diri aku sendiri, aku bakal ngajak cewek pertama aku kesini. Tapi saat kita jadian, aku belum sempat ngajak kamu, karena aku juga enggak tahu gimana caranya. Dan sekarang kesempatan itu baru muncul..”

Pengakuan itu tentu saja membuat hatiku bergetar lebih hebat dari sebelumnya. Apakah ia sedang mencoba membuka jalan di antara hubungan ini yang telah lama mati ? Apakah ia sadar bahwa kata-katanya barusan dapat membuatku berharap lebih ? Atau apakah ini hanya sekedar pemenuhan janji pribadinya ? hmm, pertanyaan-pertanyaan aneh langsung menyerbu otakku dengan tiba-tiba.

Tanpa sadar, aku terdiam memikirkan semua itu. Pandanganku mengarah ke laut, namun bukan bayangan airnya yang memenuhi mataku. Aku menjadi terlalu sibuk dengan semua dugaan yang ada.

“Ze..” panggil Alvin. “Zeva..” ulangnya lagi.

“Sreett..” ia menarik kuciranku, membuat rambutku menjadi berkibar tertiup angin, dan membawa kembali kesadaranku yang barusan menghilang tertelan lamunanku.

“Alvin !” teriakku sambil mencoba merebut kembali kunciran yang kini ia genggam erat di tangan kanannya. Dengan gesit, ia terus menghindarkannya dariku.

“Makanya jangan ngelamun” ujarnya lalu menjulurkan lidahnya. “Ayo kejar aku..” lanjutnya lagi menantangku.

Kami mulai berlari-larian. Dan ini tidak adil bagiku. Ia yang seorang pemain basket di sekolahnya, tentu saja memiliki kecepatan berlari lebih kencang daripadaku, yang selalu berada di urutan paling belakang saat pengambilan nilai lari di sekolah.

Sesekali ia memelankan larinya sambil tertawa melihat aku yang semakin kewalahan mengejarnya, namun setiap aku hampir mendekatinya, ia kembali menambah kecepatannya. Rasanya ia memang benar-benar niat membuatku kelelahan.

Setelah hampir dua puluh menit berlari, aku menyerah. Kedua tangannku ku tumpukan di atas lututku, dan aku mulai mengatur nafasku, perlahan-lahan. “Alvin, aku nyerah..” ujarku masih dengan nafas yang tersengal-sengal.

Aku memilih untuk duduk di atas pasir dan meluruskan kakiku. Entahlah alvin lari kemana, tenagaku telah habis bila harus mengejarnya lagi. Dengan tangan yang aku kepalkan, aku menepuk-nepuk kakiku yang terasa pegal. Setidaknya lukisan alam keindahan laut di depanku ini, bisa mengurangi rasa kesalku.

“Nih..” alvin menyodorkan kunciran itu tepat di depan mukaku, lantas ia ikut duduk di sampingku. “Pasti masih malas kalau disuruh olahraga” lanjutnya lagi.

“Biarin dong” sahutku sewot sambil kembali mencepol rambutku.

Ia terkekeh melihatku. “Haha, kamu masih sama aja ya ternyata..”

“Apanya ?”

“Semuanya”

‘ya, termasuk rasa sayang aku ke kamu alvin’ batinku miris. Ia mengambil beberapa batu kecil di sekitar kami dan mulai melemparkannya ke laut. Aku hanya memandanginya, dia yang sudah banyak berubah.

“Seminggu yang lalu, aku baru selesai baca novel kamu”

“Kamu baca novel aku ? makasih ya..” sahutku senang.

“Dan rasanya aku kenal kisah yang ada di dalam novel itu..” aku langsung membeku mendengar ucapannya.

“Mungkin aku kepedean, tapi tokoh utama laki-laki disitu, aku banget” sambungnya lagi. Aku hanya bisa menggigit bagian bawah bibirku.

“Apa itu cerita kita ?” ia melihat ke arahku, tapi aku malah membuang pandanganku ke arah lain. Berharap aku menemukan penyangkalan untuk ini semua.

“Ada satu kalimat yang entah kenapa nempel banget di otak aku, kalimat waktu tokoh utama perempuan melihat di balik hujan, mantannya sama perempuan lain. Aku adalah orang yang akan selalu mencintainya...”

“Dari tempat dimana aku berada, di balik ke bahagiannya, di atas segala penyesalanku” aku memotong kata-katanya, dan melanjutkan kalimatnya.

“Jadi ?”

“Apanya yang jadi, aku rasa tanpa perlu aku cerita, kamu udah bisa nebak sendirikan” sahutku, mencoba memberanikan diri menatap matanya. Lagi-lagi ia hanya tersenyum ke arahku.

“Sebesar apa ?” meski pertanyaan ini terdengar aneh, namun aku merasa tahu kemana ia menggiring pembicaraan kami.

“Enggak tahu. Enggak sebesar, sampai aku rela mati atau malah mau mati berdua sama kamu. Tapi aku cukup mampu, untuk selalu ikut tertawa di saat melihat kamu bahagia sama orang lain”

“Sejauh ini ? setelah empat tahun ?”

“Silahkan kamu ketawa, tapi aku bahkan masih inget tanggal jadian kita, kapan kamu pertama kali manggil aku sayang, momen-momen kecil kita berdua, sampai sms-sms jayus kamu buat aku” tahu sudah tidak ada celah untuk menghindar, aku rasa ini saat yang tepat untuk memberitahunya semua.

Aku menghela nafas sejenak. “Aku minta maaf, maaf karena aku terus-terusan hidup di dalam kenangan kita..”

Ia menghampiriku, dan merengkuh kepalaku agar bersandar di dadanya. “Aku udah berubah. Aku bukan alvin empat tahun yang lalu”

“Aku tahu, seandainya aku juga bisa berubah seperti itu” bisikku. Suasana langsung berubah seketika. Pantai yang sepi, angin yang kencang, ombak yang menderu, menjadi latar yang terlalu sempurna, untuk percakapan yang harusnya di lakukan empat tahun ini.

“Dulu aku sayang banget sama kamu. Dan aku masih enggak ngerti, gimana kamu lebih percaya sama kata-kata orang lain, ketimbang aku. Kamu lepasin aku gitu aja, kamu tahu ? itu rasanya sakit..”

“Maaf..” ujarku.

“Kita pisah, dan kita enggak pernah jadi baik-baik. Saat itu aku berusaha, berusaha untuk yakinin diri aku kalau aku bisa tanpa kamu, dan ternyata aku bisa, aku bisa berubah..” lanjutnya lagi. Kami berdua sama-sama memandang ke arah lautan lepas.

“Sampai kamu datang lagi, untuk minta maaf sama aku. Kamu pasti masih ingat dengan jelas, gimana saat itu aku menolak kehadiran kamu. Aku tahu, tindakanku terlalu pengecut saat itu, dan alasanku terlalu dangkal, aku dendam sama kamu, dan aku mau kamu ngerasain apa yang aku rasain karena ulah kamu” aku benar-benar hanya bisa mendengarkan ceritanya dalam kebisuan ini.

“Dan akhirnya aku sadar, kaya gitu cuma bakal bikin sampah di hati aku. Akhirnya kita jadi teman, tapi kaya yang aku bilang, aku udah berubah, begitupun dengan semua rasa itu. Aku enggak munafik, ada waktu-waktu dimana aku bisa senyum-senyum sendiri saat aku ingat kamu, pacar pertamaku, cinta pertamaku..”

“Waktu aku lagi nemenin adek aku ke toko buku, aku lihat novel kamu, dan aku bangga, orang yang aku kenal sekarang jadi terkenal. Jujur, aku enggak suka baca novel cewek kaya gitu, tapi entah kenapa, aku langsung tertarik dengan kata-kata yang ada di cover belakang novel itu”

“Kamu tahu rasanya menyesal ? jika tidak, percayalah padaku, jangan pernah mencoba untuk melakukan kesalahan, apalagi sampai melepaskan ia yang kamu sayang, begitu saja..” lagi-lagi aku memotong kata-katanya, lagipula itukan novelku, tentu aku juga tahu, kalimat apa yang ia maksud.

“Ya, kata-kata itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung beli novel kamu, dan aku langsung baca. Sepanjang membaca novel itu, aku bahkan ngerasa bisa nebak bagian bab berikutnya, aku tahu, ada adegan makan bakso berdua setelah latihan drama di sekolah, aku tahu, ada surprise ulang tahu pakai tepung, dan aku juga tahu, bagaimana cara mereka putus, tanpa perlu aku baca novel itu sampai selesai. Hebat kan aku ?” aku hanya tersenyum simpul menanggapinya.

“Tiba-tiba kemarin, aku lihat kamu di antara orang-orang yang datang. Dan aku memang udah punya rencana sebelumnya, aku pengen kita ketemu, aku pengen kita ngebahas ini. cerita kita memang udah selesai, tapi terlalu banyak bagian gantung yang kita biarin gitu aja kan..”

“Seharian ini kita bareng, seharian ini aku berusaha untuk melihat kamu dari mata yang sama seperti empat tahun lalu. Tapi itu ternyata enggak segampang yang aku kira. Aku bisa balik sama kamu, tapi aku enggak bisa, balik jadi alvinnya kamu yang dulu”

Entahlah, tapi aku merasa setuju dengan ucapannya barusan. Keadaan kembali hening beberapa menit. Aku mengangkat wajahku, melihat ke arahnya, tampaknya ini bagianku untuk berbicara.

“Kamu orang pertama yang aku ijinin untuk masuk dan memenuhi relung-relung hati aku, dan kamu juga orang pertama yang ngasih tahu aku, rasanya sakit, sakit karena aku terlalu dalam mencintai seseorang”

“Aku tahu, kesalahan ini bermula dari aku. Aku bersedia kembali dan memperbaiki semuanya, kalau itu memang bisa. Tapi kaya yang kamu bilang, kamu udah berubah, dan aku bahkan enggak kenal, kamu yang sekarang kaya apa. Aku takut, takut sebenarnya alvin yang aku sayang, adalah alvin yang empat tahun lalu, bukan alvin yang saat ini duduk di samping aku..”

“Dan untuk semua perasaan ini, aku siap. Siap untuk melepaskan kamu, siap untuk melepaskan semua harapan aku..aku siap..”

“Aku sadar, kalaupun kita kembali bersama, mungkin perasaan itu cuma bakal jadi sesuatu yang semu. Aku sadar, cinta kita enggak lagi sama. Kita bukan lagi anak smp yang ngelihat cinta sebagai sesuatu keinginan untuk terlihat lebih dewasa. Kita berdua sekarang, jelas-jelas tahu, cinta lebih kepada kebutuhan untuk saling mengisi satu sama lain..”

“Kamu satu-satunya yang aku sayang, sejauh ini. empat tahun, dan aku enggak pernah lagi menjalani hubungan yang terasa sama atau malah lebih dari milik kita. Tapi aku enggak akan maksain apapun, aku juga enggak akan ngebebanin kamu dengan perasaanku, aku tahu, ini saatnya aku melepas kamu..” Alvin meraba rambutku, lalu mengusapnya pelan, dan sejurus kemudian ia mengecup ubun-ubunku.

“Maafin aku ze..”

“Kamu enggak salah apa-apa..”

“Aku udah coba, tapi enggak bisa, aku mau, kalau aku kembali sayang sama kamu lagi, aku mencintai kamu sesempurna dulu, tanpa cela sedikitpun, aku enggak mau cuma ngasih kamu sekedar rasa sayang. Makasih untuk semua pengertian kamu..” aku hanya mengangguk. Diam-diam aku sedang menahan air mataku, bagaimanapun aku ini perempuan, mahluk yang akan menumpahkan segala yang ia rasa melalui cairan bening itu.

Setelah empat tahun, aku hanya mencintainya, untukku sendiri secara diam-diam. Hari ini aku berikrar untuk melepaskannya, untuk membebaskannya dari belengguku, karena aku tahu, bukan aku lagi yang bisa membuat dunianya berwarna, karena aku tahu, bunga yang telah layu tidak akan pernah segar kembali, seperti juga cinta ini.

Ia berdiri dan menyodorkan tangannya ke arahku. “Mau pulang sekarang ?”

Aku menerima tangannya, dan mengangguk. Kami kembali ke mobil, dan kembali berdiam diri. Separuh perjalanan, nampaknya ia mulai jengah dengan keadaaan ini, ia mulai mengutak-atik radionya, mencari saluran yang bisa di tangkap mobilnya di tengah tempat sepi ini.

Dan entah sebuah kebetulan, atau mungkin memang kehendak nasib. Sebuah lagu mengalun, memenuhi mobil ini, ikut mengisi perjalanan pulang kami.

Menahun, ku tunggu kata-kata


Yang merangkum semua


Dan kini ku harap ku dimengerti


Walau sekali saja pelukku






Tiada yang tersembunyi


Tak perlu mengingkari


Rasa sakitmu


Rasa sakitku






Tiada lagi alasan


Inilah kejujuran


Pedih adanya


Namun ini jawabnya

Aku melirik ke arahnya, dan tampaknya ia pun mengerti dengan maksudku. Ia tersenyum tipis, begitupun denganku. Aku dan Alvin mulai ikut bernyanyi.



Lepaskanku segenap jiwamu


Tanpa harus ku berdusta


Karena kaulah satu yang kusayang


Dan tak layak kau didera






Sadari diriku pun kan sendiri


Di dini hari yang sepi


Tetapi apalah arti bersama, berdua


Namun semu semata






Tiada yang terobati


Di dalam peluk ini


Tapi rasakan semua


Sebelum kau kulepas selamanya






Tak juga kupaksakan


Setitik pengertian


Bahwa ini adanya


Cinta yang tak lagi sama






Lepaskanku segenap jiwamu


Tanpa harus ku berdusta


Karena kaulah satu yang kusayang


Dan tak layak kau didera






Dan kini ku berharap ku dimengerti


Walau sekali saja pelukku

***

Mobilnya berhenti tepat di depan rumahku. Aku tersenyum ke arahnya, dan bergegas segera turun dari mobil. “Makasih ya buat hari ini..”

Tanpa menoleh, aku berjalan cepat ke dalam rumah. Aku ingin segera masuk ke kamar, dan memeluk bantalku, menumpahkan semua air mata yang sejak tadi masih aku tahan. Ketika tiba-tiba sebuah tangan menarik tanganku hingga berbalik, dan langsung mendekapku bersama tubuhnya.

Alvin memelukku. Tanpa kata-kata, ia terus mengeratkan pelukannya. Sesuatu yang bahkan dulu tidak pernah kami lakukan, namun meski baru pertama, rasanya tetap hangat untukku.

“Kenapa ?” tanyaku pelan.

“Maaf..” bisiknya. “Anggap aja ini pelukan persahabatan dari aku” sambungnya lagi. Aku hanya tersenyum, toh aku juga menikmati ini. Akhirnya alvin melepaskan pelukannya, ia tersenyum ke arahku, dan mengacak sedikit poniku.

“Aku pulang ya, setelah ini kita bisa kan sahabatan kaya dulu lagi ?” tanyanya. Aku hanya tersenyum, ia melambaikan tangannya sambil menjauh, dan kembali ke mobilnya. Aku sendiri juga langsung masuk ke dalam rumah, seiring dengan suara mobilnya yang mulai menghilang.

Terlihat kedua orang tuaku sedang duduk di ruang keluarga, wajah mereka tampak agak berbeda. Aku duduk di samping mamaku. “Kenapa ma ?” tanyaku penasaran.

“Ayah pindah ke semarang ze, kamu mau ikut pindah, atau...”

“Iya mah aku ikut pindah” jawabku cepat sebelum mamaku menyelesaikan bicaranya.

“Yakin ? enggak sayang sama sekolah kamu, tinggal setahun lagi lho” ujar ayahku.

Aku hanya menggeleng. “Aku mau ikut pindah. Ya udah, aku capek, mau ke kamar..” pamitku langsung ngacir ke kamar.

Di atas ranjangku, aku memeluk diriku sendiri dengan kedua tanganku, merasakan aroma tubuh alvin yang masih terasa jelas di tubuhku. Setitik air mataku mengalir dari ujung-ujung mata.

“Maaf alvin, aku enggak seberani yang kamu kira, aku takut untuk benar-benar melepas kamu, aku takut, karena aku mencintaimu..”

Jumat, 10 September 2010

happy ied all :)

heloooooooooooooo...........

my lovely bloggy.........................

and all my followers (haha, pd amat ya gue :p)

gema takbir udah mulai terdengar ke pelosok negeri, hari kemenangan udah di depan mata, kesucian hati menyelinap di sanubari kita masing-masing..

happy ied ya semuaaa

minal aidzin wal faidzin
mohon maaf lahir dan batin
1431 H




ayo kita semua balik jadi fitrah lagi :))

Selasa, 07 September 2010

buka bersama sahabat SUPER

hari ini gue ngepost dua kali lho :p
hahahaha
baikkan gue ? :)

sahabat enggak akan pernah berubah sekalipun raganya jauh dari kita

setuju kan ?

itu juga yang terjadi di antara gue, dita, listi, galuh, febby dan juga harry .

bersahabat dari smp, dan harus pisah sma, enggak bikin persahabatan kita harus pisah juga. walaupun enggak gampang, tapi kita selalu berusaha buat terus ngejaga ini.

seperti, tahun-tahun sebelumnya, bulan puasa kali ini, kita berenam juga ngerencanain buat buka puasa bareng. apalagi kita ngerasa, tahun depan belum tentu juga kita bisa kumpul lagi.

tapiiii, sama kaya tahun sebelumnya juga, nyamain jadwal enam orang dengan lima sekolah yang berbeda dan hari les yang enggak sama, cukup bikin agak pusing juga. setelah mikir sana mikir sini, runding sana runding sini, kita semua setuju buat bukber tanggal 5 sepetember.

masalah waktu selesai, kita beralih ke masalah tempat. lagi-lagi, sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita menerapkan sistem yang kita pelajari di sd, musyawarah untuk mufakat. mulai dari citos, plaza semanggi, pim sampai EX kita obrolin, tapi mentok-mentoknya kita sepakat bukber di...jeng..jeng..jeng...bengkel kuliner jatiwaringin..

udah tinggal nunggu hari H. masalah masih aja dateng. febby sama galuh tiba-tiba bilang enggak bisa ikut. kecewa sih, tapi mau gimana lagi, masa iya mau di paksa. bukan sahabat yang baik itu mah namanya.

ehhh pas sehari mau berangkat, ternyata galuh bisa ikut. ya udah deh, jadinya kita ketemuan tuh berlima. sedih sih, tahun ini febby enggak ikut, tapi nurut kata-katanya abang bondan prakoso, ya sudahlah..

tipikal persahabatan kita tuh, agak unik. kalo lagi smsan, chat atau twitteran, kita bakal bawel dengan pamer punya banyak cerita. tapiiii, kalo udah ketemu, enggak ada deh satupun yang cerita serius. sepanjang ketemuan, kita semua cuma saling cela-celaan enggak penting, dan ketawa-tawa enggak jelas.enggak ada deh sejarahnya kalo kita ketemuan, terus ada acara mellow-mellow bareng gitu, hahaha

walaupun kaya gitu, mungkin itu kali ya, yang bikin gue ngerasa enjoy aja ada di tengah mereka. karena, gue bisa jadi diri gue sendiri saat sama mereka.

di bengkel kuliner, kita berempat (gue, dita, listi, galuh) kompak mesen steak. ada yang sirloin, chicken, tenderloin dan rib. terus ya udah deh, sisa hari itu, kita abisin sambil ngobrol-ngobrol. di warnain sama teriakan listi dan galuh kalo ada kucing, di hiasin sama blitz kameranya dita, di lengkapin sama celetukan-celetukan iseng buat harry, dan di sempurnain sama tawa kita berlima, buat selalu mengenang hari itu, sampai kapanpun, selamanya..

ini nih beberapa gambar yang bisa gue pamerin :


dita ~ galuh ~ listi ~ gue


listi ~ gue

listi ~ gue ~ dita ~ galuh

dita ~ listi ~ galuh

galuh ~ harry (fotografer pribadi kita)


terimakasih, untuk kenangan indah ini
love you all

last sanlat in senior high school

halooo semua...
gue lagi rajin ngepost nihhh..
seneng kan ??? iya dong pasti..hahaha

postingan kali ini tentang "PESANTREN KILAT TERAKHIR DI SMA"
ehmmm...jangan salah, jangan sedih, jangan kecewa..
walaupun judulnya terkesan berat dan agak gimana gitu (gimana dong ? -_-)
isi postingan kali ini, gue akan dengan sangat bermurah hati menampilkan aib-aib gue beserta temen-temen gue ..hahahaha..


jadiii...seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, sekolah gue mengadakan sanlat a.k.a pesantren kilat. anak kelas dua belas tahun ini, dapet jatah terakhir buat sanlat, tepatnya tanggal 1 september kemarin.

di mulai dari pagi (re : 06.30) kita semua uda kumpul di musholla, baca-baca Al-quran, doa-doa dan sebagainya. berhubung masih pagi, masih pada jadi anak baik-baik nih kita. terus, mulai jam sebelasan gitu, gue sama temen gue, yang bernama dita fitri, mulai deh muncul gejala-gejala gilanya, dan dengan sukses, selamat, dan sejahtera, kita berhasil menghasilkan foto ini :

 Gimana, cantik kan gue ??? hahaha *yang ga bilang iya, gue sumpel pake golok lhoo..


selepas sholat zuhur, mulai deh, tanduk-tanduk setannya pada keluar semua, termasuk gue sih. gara-gara kepanasan, dan ngantuk pol, gue memilih untuk duduk di luar musholla, di bagian terasnya gitu. disana, udah deh, gue beneran menggila, masih bersama partner in crazy gue tentunya, dita fitri hahaha

jam satuan gitu, mata gue udah mulai kiyep-kiyep, pengaruh angin juga sih yang dengan indahnya, bertiup-tiup di sekitar gue. akhirnya, dengan sukses gue tidur. yaa, di saat-saat anak-anak lain, pada nonton film yang emang di puterin sama panitia, gue malah asik-asikan bermimpi-mimpi ria.

menjelang jam tigaan gitu, anak-anak udah mulai kaya cacing kelaparan, hahaha. tingkahnya udah pada aneh-aneh, kira-kira seperti inilah :


 



hahaha, enggak ada tampang-tampang tobatnya sama sekali kan ?


yaaa..jadi inilah, pengalaman sanlat terkahir gue di sma. sama sekali enggak ada nilai-nilai edukatifnya, hehehe. baru deh pas mau selesai, kita semua agak mikir 'gila ya, ini terakhir kita kaya gini, malah enggak ada bener-benernya dari tadi'

maaf banget deh buat guru-guru gue, yang kayanya enggak berhasil bikin anak didiknya ini jadi insaf, bahkan di tahun terakhirnya, hahaha.

walaupun enggak banyak yang gue dapet dari sanlat kali ini, kecuali ketawa, bercanda dan tidur. tapi gue yakin kok, suatu hari nanti, entah kapan, gue pasti akan mengenang saat-saat ini. tahun depan, gue udah jadi mahasiswi, enggak ada lagi acara-acara kaya gini, dan saat itu, gue akan merindukan masa-masa ini, kenangan yang tercipta dengan sendirinya, tapi terukir indah di dalam hati gue.

makasih ya dea sama dita, buat foto-fotonya hehe

thanks girls..

-cheers-

Minggu, 05 September 2010

spamming

aku tidak pernah tahu, atau lebih tepatnya, akutidak pernah menduga, bahwa rasa sakitnya menyesal, tidak akan berlalu begitu saja dengan sendiri. Tidak ada yang baik-baik saja saat ini, tapi sekali lagi aku mengerti, ini memang sesuatu yang pantas untukku, setelah aku begitu saja, membiarkan orang yang aku sayang terjatuh sendiri hingga akhirnya menyerah dan menghilang.


Bukan penyesalan. Ini hanya sebuah rasa pedih. Rasa yang ternyata tidak dapat aku hilangkan dalam sekejap. Rasa yang cara penanganannya tidak ada di dalam buku manapun. Rasa yang begitu hebat tapi tidak diajarkan dalam sekolah bertaraf super sekalipun. Rasa manusiawi yang kehadirannya tidak aku duga sebelumnya, kehilangan.


Ternyata aku masih sama, masih aku yang telah berhenti berharap, karena aku memang tidak ingin kembali, namun masih terus bertahan, karena cinta itu masih ada di dalam hatiku.


Terbenam seperti ini, memang tidak baik untukku. Aku telah berusaha, untuk terus maju. Setidaknya bila orang normal berjalan dua langkah, dan aku hanya setengah langkah, aku mencoba untuk terus berjalan. Karena aku tahu, waktu tidak akan menungguku untuk kembali. Waktu adalah waktu, yang akan tetap berlari sesuai alurnya, tidak peduli pada masalah-masalah yang menimpa para pelaku di dalam lintasannya.


aku memang bersalah dan terbenam di dalamnya. lantas, belum cukupkah semua hukuman ini ? bisakah aku meminta untuk berhenti saat ini ?


aku lelah, lelah karena aku tahu, aku telah sendiri saat ini.


silahkan kamu bahagia, toh memang seperti itu kenyataannya. dan biarkan aku untuk bahagia juga, bahagia tanpa senyumanmu dalam hidupku, bahagia karena aku menemukan matahari baruku, bahagia karena aku telah kembali menjadi aku dan diriku


ajari aku, ajari aku untuk keluar dari semua ini


hanya itu


aku mohon..

faster than you, maybe

Berawal dari iseng-iseng gue ngisi sebuah kuis di majalah GADIS dengan judul HOW FAST YOU GROW UP..


Gue mendapatkan hasil kaya gini :

Wah ! sikap kamu yang tenang banget dan selalu menggunakan logika saat mengambil keputusan memang menunjukkan kamu sudah dewasa, sih ! Sayangnya, untuk usia remaja, kamu terhitung agak terlalu dewasa, nih. Padahal kamu masih boleh lho, mengungkapkan sedih, senang, ataupun kekesalan kamu di depan orang lain. Coba deh sedikit lebih santai dan bersenang-senang. Nanti kamu masih punya banyak waktu untuk serius kok. Masa remaja seperti kita ini sebaiknya kita gunakan untuk mencoba banyak hal baru dan berbuat kesalahan. Jadi, setelah dewasa kita benar-benar bisa belajar dari kesalahan itu. Jangan sampai nanti kamu menyesal karena enggak sempet bersenang-senang.

Sejujurnya sih gue enggak begitu kaget dengan hasil tes gue itu. Yeahh, honestly, what the answer said, is true.

Dari kecil. gue memang bukan model orang yang dengan gampang bisa meluapkan apa yang gue rasa. Gue cenderung tertutup dan selalu berusaha buat fight sendiri. Gue bukan model orang yang terbiasa merengek-rengek untuk mendapatkan sesuatu, dan gue rasa gue sama sekali bukan model cewek manja.

Kalo gue enggak suka sama sesuatu, gue lebih memilih untuk diam, ketimbang speak up. Dan saat gue suka sama sesuatu pun gue enggak akan terlalu meng-ekpose apa yang gue suka itu.

I’m just an ordinary girl. Gue itu cewek yang kehidupannya cuma berkutat, antara sekolah, rumah, tempat les dan teman-teman gue. Kalo enggak ada tugas atau kerjaan lain, gue memilih untuk diam di kamar, mantengin aslep a.k.a laptop gue, atau novel-novel koleksi gue. Di sekolahpun, gue enggak gitu interest buat terlibat banyak, gue bukan OSIS dan gue bukan bagian dari geng populer. Karena buat gue sekolah adalah sekolah, tempat dimana lo, nunjukkin keberadaan lo dengan prestasi lo. Cuma di tengah-tengah temen gue mungkin, gue terlihat sedikit menonjol, tapi cuma di temen-temen yang beneran deket sama gue. Kalo enggak, gue tetep aja cenderung jadi pribadi yang diam.

Sampai akhirnya kesini-sini, gue sadar kalo sikap gue ini enggak sepenuhnya ngasih gue hasil yang positif. Diemnya gue, akhirnya malah menciptakan jarak-jarak terselubung antara gue dan lingkungan sekitar gue. Dan enggak bisa gue sangkal, belakangan ini, masalah itu cukup bikin jiwa gue jadi terkesan labil.

Jadi apa gue harus berubah sekarang ? gue bahkan enggak tahu caranya, buat manja ke orang. Gue terbiasa jadi mandiri dan itu udah kaya sesuatu yang emang gue banget. Bahkan gue pernah mutusin cowok gue, cuma karena dia terlihat terlalu manja di mata gue.

Enggak mungkin juga kan seorang gue yang tadinya biasa-biasa aja, selalu sok buat ngadepin semua apa yang gue rasa sendiri, selalu sok buat mendem semua yang gue pikirin, selalu sok buat pamer ke orang banyak kalo gue baik-baik aja, tiba-tiba jadi sosok yang harus manja dan bergantung sama orang lain.

Mungkin ritme perkembangan jiwa gue memang lebih cepet dari remaja seusia gue lainnya. Tapi bukannya bakal lebih menyenangkan, kalo someday gue bisa melalui menjalani hari-hari gue, sama kaya yang apa temen-temen gue laluin.

Hope it will be in my way, soon..

-cheers-

Sabtu, 04 September 2010

tamiya dan coklat

halooo my lovely bloggy..
siap menampung cerita gue kan ??? hehehe

okeee..judulnya memang agak aneh..
dua hal yang saling bertentangan, tamiya dan coklat

tapi...

tamiya dan coklat, adalah dua hal yang selalu membuat gue mengenang seseorang dengan senyuman :)


hmmm. oke, gue mulai dari tamiya..
mainan cowok yang sempet booming pada saat gue sd
saat itu, dia, sangat tergila-gila dengan mainan ini..
tapi bukan tentang dia dan tamiyanya yang akan gue ceritain..

bermula dari curhat gue ke dia, tentang adek gue yang mau ulang tahun dan gue yang enggak puya duit buat beli kado..
jeng..jeng..jeng..tiba-tiba besoknya, dia ngasih gue sekotak tamiya, yang pas gue buka, udah di rangkai dan di tempelin sticker..

pas gue tanya buat apa, dengan enteng namun berkesan, dia bilang 'itu hadiah buat adek kamu'
huaaaa...bayangin deh, waktu itu kita masih sd ! iya,  sd ! dan dia dengan gentle nya ngelakuin hal kaya gitu :))

masalah dateng pas hari H-nya. adek gue bikin ulah, dan nyokap gue dengan tegas bilang enggak ada hadiah mainan buat adek gue saat itu. tamiya yang udah nginep di tumpukan baju gue selama beberapa hari artinya enggak bisa sampai ke tangan adek gue, tapi ya mau gimana lagi, kata-kata nyokap gue kan paten, enggak bisa di ganggu gugat..

alhasil, gue bilang ke dia, terus kata dia 'yaudah gapapa, kamu simpen aja, kapan-kapan aja ngasihnya'

dan tamiya itu beneran gue simpen. ternyata enggak sampai sebulan kemudian, kita putus. dan tamiya itu, percaya atau enggak, jadi satu-satunya barang yang pernah dia kasih ke gue.

awal-awalnya, tamiya itu cuma terus-terusan gue diemin di tempatnya yang sakral, di timbun sama kaos-kaos gue, hahaha..sampai lama kelamaan, pas gue mulai masuk smp dan mulai ngerasa kangen sama dia. tamiya itu jadi satu-satunya hiburan buat gue..

entah emang takdir atau apa, gue balikan sama dia. kita jalanin lagi masa-masa itu bareng-bareng. kira-kira enam bulan, kita putus lagi gara-gara 'something stupid' yang gue lakuin dengan suksesnya. dan, saat itu, gue baru inget kalo gue masih nyimpen tamiya dari dia.

berniat buat lupain dia, akhirnya gue mencoba untuk melenyapkan segala hal tentang dia. dan ternyata itu enggak semudah nyemplungin baju kotor ke dalem ember. gue enggak sanggup ngebuang tamiya itu sekaligus. dengan sangat-sangar freak, gue ngebuang tamiya itu satu persatu. mulai dari bodynya, baterenya, mesinnya, sampe rodanya..

okee, kalau ada yang baca, silahkan ketawa, tapi emang itu yang gue lakuin.

dan sekarang, walaupun gue udah enggak bisa nemuin tamiya itu lagi di dalam lemari gue. setiap gue inget atau lihat tamiya, pikiran gue akan langsung terbang kesini. yaa, dia, orang yang enggak pernah ngasih benda apapun ke gue, malah dengan perhatiannya inisiatif buat ngasih adek gue, dan walaupun 'kado' itu enggak nyampai, seenggaknya gue jadi punya sesuatu saat itu, untuk mengenang dia..

lanjut ke coklat..


hahaha, bukan kok, gue bukan mau promosi

gue cuma mau ngasih tahu sejelas apa yang emang waktu dia kasih, coklat 'ratu perak'

kaya yang sebelumnya gue singgung dan sindir dengan halus di atas, dia enggak pernah ngasih gue apa-apa, hahaha..

tahu sih gue, saat itu kita cuma anak ingusan yang terlalu cepat dewasa buat ikut masuk dalam hubungan yang orang bilang 'cinta monyet'

males ngebahas monyet, jadi ayo kita fokus tentang coklat :)

gue ini maniak coklat, dari coklat koin yang murah, sampai coklat-coklat eropa yang nominalnya bisa banget buat belanja novel, gue sukaa..

dan dia tahu, tapi enggak pernah ngasih gue coklat hahaha

sampai tiba-tiba, dengan iseng dan berharap berhadiah, gue melontarkan sebuah pertanyaan yang menjurus ke permintaan 'kamu mau enggak beliin aku coklat ?'

dan dia merespon balik kaya gini 'coklat apa ?'

semangat karena gue rasa gayung lagi di angkat, gue pun mulai gencar 'apa aja deh, silver queen juga boleh' ujar gue langsung menyebutkan merk, itupun gue udah tahan diri dengan enggak nyebutin toblerone atau cadburry :p

eh dengan senyumnya itu dia menyetujui permintaan gue, tapi dengan sebuah kalimat yang bikin gue merasa terharu 'oh ya udah, entar ya, aku ngumpulin uang jajan dulu'

haaahhh, oke mungkin gue lebai saat itu gara-gara kebanyakan nonton amigos x siempre, tapi emang kenyataannya dia bikin gue merasa amat teramat sangat spesial saat itu.

seminggu berlalu, gue udah enggak terlalu mikirinlah. sampai, gue lupa kejadian pastinya gimana, dia ngampirin gue, dan ngasih gue sebatang coklat sesuai pesanan gue..

'nih silver queennya, maaf ya lama, abis aku kan harus nyisihin uang jajan dulu seminggu'

dan saat itu, gue bener-bener merasa meleleh dan teharu dengan kata-katanya. rasa coklat yang biasa-biasa aja itu, berasa lebih manis berkali-kali lipat di lidah gue. bahkan kalo saat itu, misalnya dia cuma ngasih gue coklat ayam jago yang harganya masih gopek, mungkin rasanya pun akan sebanding dengan coklat lindt, karena rasa manis itu gue dapet, dari pengorbanannya dia yang sederhana tapi amat sangat berkesan buat gue ..

sampai saat ini, kalo gue lagi makan silver queen, gue akan inget satu-satunya sesuatu yang pernah dia kasih ke gue, meski bukan insiatifnya, tapi nilai kenangan itu berjuta-juta kali lipat berharganya buat gue..

sekarang, gue cuma bisa bilang terimakasih, buat semua hal sederhana yang pernah dia lakuin. enggak ada bunga, enggak ada makan berdua, enggak ada lagu akustik, enggak ada jalan-jalan berdua, tapi dia yang pernah menemani gue dengan segala ke simpelannya yang nyata, cukup buat gue mengerti, kalo kebahagiaan itu memang enggak selalu harus berupa benda mewah dan mahal..

cuma tamiya biasa dan sebatang coklat.

tapi kenangannya, selalu indah buat di ingat :)

ps : malem ini gue lagi enggak mellow, jadi gini deh hehehe

Rabu, 01 September 2010

kasian ya blog gue
hehehe
entar yaa sayang
gue lagi belom ada semangat buat nulis nihh
padahal banyak banget unek-unek yang pengen gue tumpahin
tapi enggak sekarang

sabar yaaa, my lovely bloggy :)