Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Januari 2011

ketika kemarin memudar (cerpen)

Aku mendesah perlahan, ketika nama itu, lagi dan lagi serasa berputar di kepalaku, memenuhi pikiranku hingga sesak, mengajak aku melayang menuju hari-hari yang telah terlewati. Sampai kapan ini akan berhenti, dan membiarkan aku sendiri. Rasa kangen yang selalu menelusup di balik kulitku dan memelukku erat, sesungguhnya sangat-sangat menyiksa dan membuatku tidak nyaman.



Ini tentangnya dan masih tentangnya, seperti biasa. Ia yang selalu membuatku rapuh dan lemah. Ketika mengingat senyumnya, ketika merasakan sentuhannya, ketika ia datang dalam mimpi-mimpi malam, maka saat itu juga, air mataku dapat tumpah, tanpa terbendung sedikitpun.


Satu..dua..tiga..iya ini tahun ketiga. Tahun ketiga dimana kamu meninggalkan aku dengan tiba-tiba, tanpa pamit, tanpa pesan, tanpa pernah aku mengerti kamu dimana dan kenapa. Tapi rasa ini tidak pernah selesai. Selalu saja mengenang bahkan berharap, masa itu akan kembali, setidaknya, kamu akan datang, ke tempat dimana kita pernah bersama-sama, dan menghabiskan waktu.


Dan tempat ini. Tempat yang aku pijaki sekarang. Kelas kosong, berhias dua papan tulis yang menggantung diam di sana, dan deretan bangku serta meja yang menatapku, seolah bertanya, apa yang sedang aku lakukan disini ?


Aku mendekat. Meja nomor tiga dari depan, di barisan sebelah kiri. Seandainya kamu ada disini, ingatkah kamu, ini meja kita. Dengan ujung-ujung jariku, aku merabanya, meski yang kurasakan hanya sentuhan debu-debu kotor. Tapi tetap saja, ia saksi bisu kita, saksi bisu ketika semua cerita tertoreh dan kemudian luruh dalam hidupku.


***


Tiga tahun lalu.


Suasana begitu hening, amat sangat hening. Tangan-tangan saling bertaut satu sama lain, mencoba menenangkan dan saling mentransfer energi positif satu sama lain. Tinggal beberapa menit lagi, dan segala perjuangan tiga tahun ini akan segera mencapai garis akhir. Dan tentu saja semua yang ada di ruangan ini berharap, akhir yang bahagia.


“Selamat pagi siswa-siswi yang bapak cintai dan banggakan..”


Sapaan Pak Wisnu, kepala sekolah kami, sama sekali tidak kami hiraukan. Hanya sedikit yang menjawab, sementara sisanya memilih diam, melantunkan doa-doa penenang dalam hati. Begitu juga denganku.


“Baiklah, karena bapak sudah melihat wajah-wajah tegang di sini, akan bapak umumkan langsung saja..”


Suara degup jantung kencang nyaris tak beraturan, secara ajaib, terdengar dengan jelas memenuhi sudut-sudut aula.


“Dengan bangga bapak sampaikan, angkatan dua puluh delapan, baik yang di penjurusan ipa ataupun ips, lulus seratus persen !”


“Alhamdullilah !!”


“WOII..GUE LULUS !!”


“Njir, gue anak kuliah sekarang !!”


“AHHH LULUS..KITA LULUS !!!”


Segala macam teriakan, ungkapan kebahagiaan langsung bergema dimana-mana. Ekspresi-ekspresi yang tidak mampu di lukiskan hanya dengan kata-kata biasa. Setelah tiga tahun berjibaku dalam putih abu-abu yang memang abu-abu, setelah hampir satu tahun belakangan ini kami semua larut dalam beribu-ribu soal, pelajaran tambahan, try out, hingga bimbingan belajar. Maka hari ini, dengan bangga aku katakan, aku baru saja menutup satu lagi bukuku, untuk kutapaki cerita yang baru, tidak lagi hanya sebagai siswa biasa, tapi telah menjadi maha.


“Fy..lulus Fy, kita lulus Fy..” Shilla berbicara dengan mata yang berkaca-kaca. Bagian dari tangisan haru.


“Iya Shil, lulus, kita anak kuliahan sekarang !” sambungku bangga, dan langsung memeluknya. Kami berdua berpelukkan erat, sangat erat. Karena di balik kebahagiaan ini, kami juga mengerti, perpisahan tampak nyata menatap langkah di depan kami.


“Ehem..”


Aku dan Shilla saling melepaskan pelukan satu sama lain, kami kenal betul, suara siapa yang mengganggu euforia kami berdua. Tepat di hadapan kami, berdiri Alvin dan Rio, yang juga sedang menyunggingkan senyum kebahagiaan ciri khas mereka masing-masing. Dan tanpa aba-aba dari siapapun, aku dan Shilla, langsung kompak memeluk laki-laki di hadapan kami itu. Aku memeluk Alvin, sementara Shilla memeluk Rio.


Bukan. Alvin bukan pacarku. Dan jangan tanya kenapa, kenapa saat itu aku memilih untuk memeluknya. Itu sungguh-sungguh tanpa alasan. Bukan juga karena ia teman sebangkuku.


Karena bila diingat, sepertinya tubuhku sendirilah yang ingin mendekap tubuhnya. Entah untuk alasan apa.


*


Kesenangan pengumuman kelulusan itu, tidak berlangsung lama. Aku dan teman-teman seangkatanku mulai sibuk lagi larut dalam persiapan kami semua untuk menghadapi snmptn. Gerbang keputusan yang akan menentukan nasib kami selanjutnya.


Dan aku begitu semangat mengerjar impianku. Menjadi seorang yang bisa berguna di masyarakat adalah hal yang menjadi prinsipku. Oleh sebab itu, aku membulatkan tekadku untuk bisa masuk dalam jurusan psikologi. Aku harus bisa !


Satu-satunya penghibur yang terselip dalam sederet kegiatan detik-detik menjelang snmptn, adalah prom night. Aku akan datang bersama Alvin. Dia mengajakku kemarin, dan tanpa pikir panjang aku tentu saja langsung mengiyakannya. Dan kalau ada yang bertanya lagi apa alasanku, aku masih belum benar-benar mengerti.


Suara deru mesin mobil terdengar dari depan rumahku, buru-buru aku membuka pintu, untuk melihat siapa yang datang.


“Alvin ? naik mobil ?” tanyaku bingung, belum pernah tiga tahun ini aku berteman dengannya, melihat Alvin menyetir mobil, biasanya ia selalu setia dengan motor bebek hitamnya.


“Hehe..minjem bokap, abis masa gue mau jemput cewek cantik naik motor, kasian di elonya lah..mana lo pakai dress gitu lagi..” ujarnya sambil menunjukku.


“Ohh hehe..ya udah, ayo masuk, gue ambil tas dulu di kamar..” ajakku sambil menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumahku. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, akhirnya aku dan dia bergegas untuk pergi ke prom night di sekolahku.


Tanpa janjian, aku dan Alvin tampak begitu serasi. Aku menggunakan tube dress berwarna hitam dengan cutting asymetris di bagian bawahnya, dan Alvin tampak santai di balik kemeja putih dan blazer hitamnya yang ia gulung hingga ke siku.


“Lo udah jago kan Vin nyetirnya ?” tanyaku polos, tepat ketika Alvin mulai menghidupkan mobil dan menggeser persenelingnya.


Ia terkekeh, dan menatapku. “Kalau gue enggak bisa nyetir, enggak akan deh gue bawa anak orang naik mobil malam-malam kaya gini..”


“Ya kan, gue masih mau hidup panjang Vin..hehe..masih mau ikutan snmptn nih gue..”


“Snmptn daftar apa aja ?”


“UI sama UGM..hehe..”


“Hmm..tahu deh yang pinter, semoga jebol salah satunya yaa..” ujarnya sambil mengelus rambutku pelan. Dan aku sangat menikmati belaiannya ini.


“Amin !! doain gue ya Vin..”


“Selalulah Fy..”


“Makasih..”


“Seandainya lo masuknya ke UGM, berarti lo bakal pergi dong dari Jakarta ?”


“Ya iyalah Vin, masa iya gue mau kuliah jarak jauh, mana bisa..” tukasku, entah polos atau bodoh. Yang jelas, Alvin kembali terkekeh.


“Haha iya-iya..maksud gue, err....berarti lo bakal ninggalin gue, ninggalin Shilla, Rio..”


“Rio kan mau ke ITB, elo juga mau ke UNPAD kan ? kita semua pergi kali dari Jakarta kecuali Shilla..”


“Lo percaya sama long distance nggak Fy ?”


Aku mengerutkan keningku mendengar pertanyaan Alvin. “Kok elo enggak nyambung sih Vin ?”


“Hahaha..iyaya ? lupain aja deh..” kilahnya, kemudian terdiam, dan menatap jalan di depannya. Dan akupun begitu.


Anggaplah saat itu aku tidak peka, tapi percayalah, aku benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaannya saat itu. Dan di tahun-tahun ke depan, itu seperti sebuah kerikil kecil yang menyeret penyesalan dalam hidupku.


Tidak begitu banyak hal penting yang terjadi malam itu, yang aku ingat hanyalah, sepanjang prom night aku dan Alvin terus berdansa berdua. Tanpa ikatan, di balik persahabatan kami, tanpa kata-kata, aku dan dia menikmati semuanya.


Sekeping kenangan yang ternyata tertoreh dalam di kemudian hari.


*


Aku nyaris tak berkedip menatap layar laptopku. Dan sejurus kemudian, sebuah senyum kelegaan, bercampur kebahagiaan dan kebanggaan tak terkira terpeta di bibirku.


Psikologi, UGM. Ya, aku lolos !


“Mama..aku ke UGM ma !!” teriakku masih enggan bangkit dari depan laptopku, masih ingin menatap pengumuman itu. Meski hanya sebaris kalimat. Namun kalimat yang membuncahkan sejuta kebahagiaan dalam hati.


“Drrtt..drrrttt...”


“Halo, gimana Fy ?” suara Alvin langsung menyapaku. Bisa ku tebak, ia juga sedang mendapatkan berita terbaiknya.


“UGM Vin, gue ke jogja..kampus biru hahaha..”


“Congrats yaa..”


“Makasih Alvin...lo sendiri gimana ?”


“Menurut lo gimana ?”


“Pasti lolos, iyakan ?”


“Hehehe..temen lo jadi calon dokter gigi nih Fy”


“Ahh Alvin, selamat ya selamat !! asik deh, entar gue bisa periksa gigi gratis..haha..”


“Woo..eh, ntar malem ada acara enggak ?”


“Enggak, kenapa ?”


“Entar gue ke rumah lo ya ?”


“Oke, gue tunggu, jam berapa ?”


“Jam tujuh mungkin, ya udah deh, sekali lagi selamat ya, awas jangan ikutan stres sama pasien lo entar..hahaha..”


“Si...”


Klik. Belum sempat aku membalas kata-katanya, Alvin telah terlanjur menutup telponnya. Hah, rasanya kebahagianku menjadi tambah berlipat ganda. Dan sekarang, aku malah menjadi mengira-ngira, untuk apa ya Alvin datang ke rumahku nanti malam. Adakah hal yang ingin ia sampaikan ?


Ahh, aku jadi penasaran.


*


Dan ia berdiri di hadapanku sekarang, terlambat dari waktu yang ia bilang. Ini sudah jam sembilan malam, sudah sejak dua jam lalu aku menunggunya, ia datang dengan wajahnya yang babak belur. Tanpa perlu bertanya, aku juga mengerti, apa yang terjadi dengannya.


Tiga tahun bersahabat. Dan satu tahun duduk bersama, membuat aku sangat mengerti dengan apa yang sering Alvin alami.


“Ada apa Vin ?”


Dia tersenyum lirih ke arahku. Hanya tersenyum di tempatnya, tanpa melanjutkan langkahnya. Dia berhenti, dan akhirnya aku yang maju. Menujunya yang berdiri di halaman rumahku.


“Vin, ada yang bisa aku bantu ?”


Ia langsung memelukku. Untuk alasan yang aku mengerti tapi tidak ku ketahui sepenuhnya. Aku melingkarkan tanganku di punggungnya, menepuk-nepuknya, mencoba menghibur speerti layaknya seorang sahabat.


Untuk beberapa saat, kami menelan waktu dalam pelukan ini. Tidak peduli pada ketukan detik yang terpacu cepat. Tangan Alvin semakin memelukku erat. Aku sama sekali tidak memberontak atau risih karenanya. Aku ingin menjadi orang yang menenangkannya, dan itu aku sekarang.


Nada-nada alam dari ketukan air yang menyentuh tanah dalam hujan yang tiba-tiba, mengguyur kami, yang tetap saja, saling berpelukan satu sama lain.


Tubuhku mulai basah, rasa dingin mulai merasukiku. Tapi aku benar-benar tidak ada niatan untuk meminta Alvin melepaskan pelukannya. Ada yang bergetar dalam hati ini, sesuatu yang tidak aku kenal, sesuatu yang baru namun terasa begitu nyata. Teduh dan hangat, bahkan meski gemericik hujan semakin deras tertumpah dari langit nan membentang.


Apa yang terjadi padaku ?


“Fy..” untuk pertama kalinya, sejak kedatangannya, akhirnya bibir itu terbuka.


“Ya ?”


“Gue sayang sama lo..”


*


Hiruk pikuk yang terjadi di stasiun ini, sama sekali tidak menyurutkan air mataku untuk mengalir sederas-derasnya. Tinggal dua puluh menit lagi, sebelum kereta dengan gerbong abu-abunya itu akan membawa tubuhku ke Jogja, kota dimana aku akan menapaki langkah baruku.


“Fy..” Shilla terisak di hadapanku, membuat aku juga terus menangis.


“Ahh Shilla..jangan bikin gue berat dong..” aku kembali memeluk sahabatku itu. Ternyata berpisah tak semudah kelihatannya.


Sahabat adalah kepingan jiwa, terasa seperti mati rasa ketika harus meninggalkannya.


“Fy, take care ya..” ujar Rio tersenyum ke arahku, dan menepuk kepalaku pelan. Aku hanya bisa mengangguk. Ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan sementara ini. Ketidak hadirannya.


Alvin, entahlah ada dimana ia saat ini.


“Alvin marah ya Yo sama gue, karena gue nolak dia ?” tanyaku pelan, tidak melihat Rio, melainkan melihat ke arah pintu masuk stasiun, berharap dapat menemukan sosoknya sedang berjalan ke arahku.


“Gue juga enggak tahu, gue juga enggak bisa ngehubungin dia dari tadi pagi, tapi gue rasa Alvin enggak akan marah sama lo..”


“Tapi dia enggak datang sekarang..” desahku, yang entah mengapa harus kecewa.


“Fy, ayo naik, sebentar lagi keretanya berangkat..” mama mengingatkanku. Aku menghela nafas, ingin menahan waktu, dan menunggu Alvin untuk datang, meski itu tidak mungkin bisa.


Masih dengan air mata berurai, aku memeluk Shilla lagi, hanya saja lebih singkat kali ini, memeluk Rio, dan kemudian berbalik mengikuti mama yang berjalan di depanku. Sebelum naik, lagi-lagi aku menyempatkan diri untuk menoleh ke titik itu, tempat yang aku pandang dengan bias harap bercampur nanar. Ia tetap tidak hadir, sama sekali tidak.


“Nanti kan kalau liburan kamu juga bakalan pulang Fy, udah ah nangisnya..” tegur mama, setengah menasihati. Aku hanya tersenyum.


Kereta mulai berjalan. Perlahan, meninggalkan kota ini, meninggalkan gedung-gedung beton pencakar langit yang sering ku lihat setiap hari. Meninggalkan semuanya.


Dan ia tetap tak nampak. Menghilang. Benar-benar menghilang.


***


Reflek, aku langsung menghapus setitik air mata yang jatuh tanpa kendaliku. Mengingat tentangnya selalu membuatku seperti ini. Aku berdiri dari bangku, yang dulu merupakan bangkuku, untuk sekejap, aku menoleh menatap kursi kosong yang ada tepat di samping kananku. Tempatnya dulu duduk.


Alvin, ada dimana kamu ?


Ya, tiga tahun berlalu, dan aku tetap tidak mengetahuinya. Dan sepertinya memang tidak ada yang mengetahuinya. Rumahnya pindah. Nomornya tidak lagi aktif, sehari setelah keberangkatanku ke Jogja waktu itu. Ia lenyap, tak bersisa.


Dan aku ?


Yang terlalu bodoh ini. Baru menyadari satu hal. Aku mencintainya. Sangat mencintainya.


Tidak ingin terlalu lama ada disini, aku buru-buru beranjak pergi. Lagipula, aku telah membuat janji dengan Rio dan Shilla untuk makan siang bersama.


Di sebuah kafe, di bilangan tebet. Aku menunggu kehadiran mereka berdua. Sesaat ku amati sekelilingku, semua telah berubah. Kota ini berubah terlalu banyak. Dan sayangnya aku tidak di ajak serta dalam perubahan itu. Aku terbenam dalam cerita masa lalu yang aku sesali.


Hidup itu pilihan, termasuk juga sebuah penyesalan.


“IFY !!..ahhh gue kangen !” Shilla langsung menghambur, memelukku, sementara Rio berjalan di belakangnya.


“Gue juga !! haha..liburan semester kemarin gue juga balik ya..”


“Hei Yo, lo tambah item aja ..haha..” sambungku, sambil menjabat erat tangan Rio.


“Iya nih, gue abis pkl Fy..”


“Kemana ?”


“Chevron di Minas..”


“Sumpah lo bisa pkl disana ? ahh keren banget ! ehem..sahabat gue mau jadi tukang minyak, entar kalau udah tajir jangan lupa sama gue, oke..”


Rio dan Shilla hanya terkekeh menyaksikkan tingkahku. Dua sahabatku ini, bisa dibilang adalah contoh pasangan yang wajib ditiru, berpacaran sejak kelas dua sma, berlanjut hingga kuliah sekarang meski tol cipularang memisahkan mereka, namun keduanya tetap saja bisa menjaga kekompakkan untuk menjaga hubungan mereka.


Dan layaknya sebuah persahabatan, kami bertiga mulai asik menceritakan setiap detail pengalaman yang telah kami lalui, apapun itu. Meski terasa ada yang kurang, karena ia tidak ada disini.


Alvin, bisakah kamu kembali ?


“Yo..elo beneran enggak tahu, Alvin ada dimana ?” tanyaku pelan. Setiap bertemu, aku selalu menanyakan ini. Dan bisa saja kan, Rio mulai jengah dengan sikapku ini.


“Fy..gue sama Rio selalu berusaha buat nyari keberadaannya Alvin, kita juga mau ketemu sama dia, tapi ya kaya yang lo lihat, dia enggak meninggalkan jejak sedikitpun buat kita lacak..” Shillalah yang menjawab pertanyaanku. Dan aku hanya bisa tersenyum simpul mendengar jawabannya.


Ia seperti menyatu dengan udara, yang menghilang tanpa jejak, tapi ke alpaannya begitu hebat terasa.


***


Seminggu terakhir, sebelum aku kembali ke Jogja. Rio sudah kembali ke Bandung dan Shilla sedang ada acara di kampusnya. Tidak ada kerjaan di rumah, aku memutuskan untuk berjalan-jalan, sekedar menyegarkan mata.


Aku memasuki sebuah mall di jantung ibu kota, gedungnya yang unik, seperti balok-balok kotak yang miring serta warna dindingnya yang begitu ceria dan berwarna-warni. Berjalan sendirian tanpa tujuan, membuatku hanya mengelilingi tempat ini tanpa jeda.


Hingga langkahku terhenti, dan tubuhku bergetar hebat.


Aku melihatnya. Dan aku yakin itu dia.


Alvin.


Tanpa mengulur waktu, aku mengejarnya, membiarkan wedgesku menghentak lantai dengan brutal. Tak menghiraukan orang-orang lain yang menatapku bingung.


“Alvin..” dan tanpa malu-malu, aku mencekal pergelangan orang itu. Membuatnya menoleh ke arahku.


“Ya..”


“Vin, ini aku, Ify..”


Dia tersenyum, sesuatu yang membuatku tambah yakin bahwa ini dirinya. “Maaf, tapi gue enggak kenal sama lo..”


Aku membeku. Ku lepaskan tanganku dari tangannya, aku berjalan mundur, tubuhku serasa limbung. Hingga akhirnya tanpa aku sadar, aku menabrak orang lain di belakangku. Dan aku terpaku, menatapnya. Suara keramaian yang tadi sangat nyata, kini malah seperti dengungan memekakkan telinga. Aku merasa sendiri, dan sama sekali tidak mengerti.


***


Entah sudah untuk keberapa kalinya. Aku kembali mengamati wajah laki-laki di depanku ini lekat-lekat. Berjuta-juta persen, aku yakin ia Alvin, dan ia memang Alvin, ia mengaku itu. Tapi bukan Alvinku, ia tidak mengenaliku. Dan aku tidak mengerti kenapa.


“Kamu beneran enggak kenal sama aku ?” tanyaku lagi. Lebih dari yang kesepuluh kalinya.


“Harus gue jawab berapa kali sih, gue sama sekali enggak kenal sama elo, maaf..”


Aku tersenyum lirih. Entah untuk alasan bodoh macam apa, tapi aku memintanya untuk duduk bersamaku di sebuah restaurant. Aku masih tidak percaya, sama sekali tidak percaya. Aku rasa hanya ada satu Alvin, dan itu Alvinku.


“Tapi lo perlu tahu satu, gue ini seorang penderita amnesia..”


“Vin..”


“Dan gue enggak ada niatan sama sekali, untuk minta ingatan gue kembali lagi”


Seperti ada Zeus yang sedang menghunuskan petirnya ke dadaku, aku tidak bisa berkata-kata untuk apapun. Mati rasa. Tidak mengerti, mengapa orang yang sekian tahun ini ingin aku temui, terasa begitu berbeda dan tidak aku kenali, bahkan tidak mengenaliku.


“Ke..kenapa..?” tanyaku terbata.


“Kata beberapa orang, masa lalu gue enggak begitu bahagia, gue seorang anak broken home yang sering di hajar sama bokap gue sendiri. Tapi sekarang, gue udah tinggal sama nyokap, gue lebih bahagia di kehidupan kedua gue ini..itu sebabnya gue enggak mau tahu tentang yang dulu..”


“Tapi aku sahabat kamu di masa lalu, aku sayang sama kamu” ujarku lirih, sambil menunduk, tidak berani menatapnya, tidak ingin menangis di depan orang asing yang benar-benar tidak aku kenali sama sekali.


“Maaf kalau gue ngecewain lo, tapi ini pilihan gue. Dan kalau apa yang lo bilang tadi benar, kalau kita memang sahabat, ada baiknya, elo nerima keputusan gue..”


Aku mengangkat wajahku, menghapus air mata yang terlanjur menetes, dan menatapnya. “Hai Alvin, boleh kita kenalan ? aku Ify..” sambil tersenyum, aku mengulurkan tanganku.


“Boleh..gue Alvin..” balasnya sambil tersenyum juga, dan menerima uluran tanganku.


Dan kehangatan tangannya masih sama seperti dulu.


Seperti dulu.


***


Ia benar-benar berubah. Namanya saja yang tetap Alvin. Tapi keseluruhannya berubah, aku rasa, ia bukan saja amnesia tapi telah mengganti nyawanya dengan roh orang lain.


Ilmu psikologiku sama sekali tidak mempan padanya. Ia begitu patuh untuk menjalani prinsipnya yang memetakan perih tak terhingga di jiwaku. Ia telah membungkus rapat cerita lalunya, dan membuangnya ke tempat sampah tanpa niatan untuk sekedar menengoknya sedikit.


Dan aku ? aku mencoba mengikutinya. Berharap dapat menembus barikade pertahanan supernya. Meski itu kini jelas telah terlihat sebagai sebuah kesia-siaan semata. Ini hari terakhir aku disini, dan ia sama sekali tidak pernah bertanya bagaimana kisah kita dulu.


Seolah telah menjadi rutinitasku, hari ini aku kembali menunggunya di tempat yang sama, tempat pertama kali akhirnya aku bertemu dengan ia yang baru.


Sudah hampir setengah jam, dan ia belum juga datang. Padahal tiga jam lagi, aku harus ke stasiun. Aku mengetuk-ngetukkan jariku di meja, sembari menunggu kehadirannya.


“Maaf gue terlambat..”


“Enggak masalah, aku cukup seneng, seminggu ini kamu enggak keberatan buat nemenin aku disini..”


“Senang punya teman baru kaya lo..”


Teman baru ? hei..kita sudah kenal sejak lima tahun yang lalu. Dan kamu menganggap, kita baru kenal satu minggu ini.


“Aku mau pulang ke Jogja..”


“Oh ya ?”


“Dulu, waktu aku mau berangkat kesana untuk pertama kalinya, kamu enggak datang, padahal aku sangat berharap sama kehadiran kamu, yang baru kemarin juga tahu, kalau pada saat itu kamu kecelakaan..”


“Fy, tolong jangan bahas yang udah lewat..”


“Waktu itu, aku mau bilang ke kamu, kalau aku juga sayang sama kamu, aku nyesel nolak kamu malam itu, aku nyesel enggak sadar sama perasaan aku sendiri saat itu..bener-bener nyesel..” tanpa menggubris interupsinya, aku meneruskan kalimatku.


“Dan sekarang ternyata semua kaya gini, kamu bahagia dengan apa yang kamu punya sekarang, memang kesempatan enggak akan datang dua kali..pelajaran paling berharga yang aku ambil dari semua ini..maaf kalau seminggu ini aku ngerecokkin kamu terus, aku pikir, tadinya pasti ada sebuah sisi di dalam diri kamu yang, meski kecil tapi ingin tahu tentang siapa kamu di masa lalu. Tapi aku salah, kamu memang udah punya kehidupan baru, dan aku enggak berhak untuk narik kamu mundur lagi..meski harus dari awal...tapi biarin aku untuk memulai semuanya...pertemanan dan mungkin persahabatan kita..”


Alvin tersenyum, ia meletakkan sebuah kertas yang ia ambil dari saku jaketnya, dan kemudian mendorongnya ke arahku.


“Apa ini ?”


“Baca aja..” ujarnya, sambil mengendikkan dagunya.


Sebuah puisi. Itu yang aku tangkap, ketika menemukan bait-bait yang tertata rapi dalam tulisannya, yang ternyata masih sama.


Pagi pasti berubah malam


Tapi tidak untuknya


Cuaca pasti berubah


Tapi tidak untuknya


Aku menapaki waktu, berjalan maju


Aku mematahkan waktu, berlari mundur


Dia berdiri dan waktu mendorongnya maju


Tetapi waktu tak bisa mengalahkan tegar dirinya


Pagiku paginya


Siangku paginya


Malamku tetap paginya


Seperti terbawa mesin waktu


Yang membuatku tertawa kecil


Kehidupan masa lalu


Kehidupan masa sekarang


Aku membisu


Aku membatu


Diam, takjub, heran


Aku takut, takut kalau aku bukan aku


Rangkaian kalimat menjadi sebuah cerita


Rangkaian cerita menjadi sebuah kalimat


Aku paham sekarang


Bahasa terindahpun tak bisa mengalahkannya


seperti terbangun dari tidur panjang


Memori..memori..memori


Mungkin aku bukan aku


Tapi dia tetap dia


Aku sadar akan hal itu


Aku yang bukan aku


Mungkin akan merubah dia yang tetap dia


Akan merubah pagi jadi malam atau malam jadi pagi


Itu ketakutanku


Ketakutanku akan waktu


Maaf.


“Maksudnya apa Vin ?”


“Semenjak lo datang, dengan segala ketegaran lo untuk mencoba mengajak gue balik dalam cerita yang pernah kita laluin sama-sama, gue sadar, mungkin keputusan gue ini cukup sepihak, gue hidup tujuh belas tahun dalam masa lalu gue, dan baru tiga tahun dalam hidup gue yang baru..pastinya lebih banyak yang berarti dalam tujuh belas tahun itu. Tapi sekali lagi, ini apa yang memang pengen gue jalanin..dan gue cukup berterimakasih atas pengertian lo, dan maaf yang sebesar-besarnya, kalau gue nyakitin elo..”


Ingin rasanya aku berkata-kata, tapi yang terjadi hanyalah, sebuah senyum kecil yang aku persembahkan untuknya.


Masa lalu kami memang terhapus, tak bersisa. Dan aku menyesalinya, tak ku pungkiri itu. Terlalu banyak pengandaian yang tersebar dalam otakku dan ingin tersampaikan untuknya. Untuk mengulang semuanya.


Tapi setidaknya sekarang aku tahu satu, aku tidak akan menyiakan apa yang memang harusnya menjadi milikku. Semua benar..


Kesempatan emas hanya datang satu kali. Sekali kita menolaknya, maka perlu dimulai dari awal lagi untuk mendapatkannya kembali.


TAMAT


Hmmm...sepertinya cerpen ini aneh bin ancur banget enggak sih ??


Kalau ada yang mau mengkritik cerita ini, aku terima dengan senang hati lhoo..secara ya aku sadar banget ini cerpen gagal total..


Dan, terimakasih yang sebesar-besarnya besar buat PANJI TAMA WIBISENA yang udah bersedia minjemin puisinya yang ada di cerita ini..tengkiuuu so muchh ya hehe..maaf kalau enggak sesuai sama isi yang lo maksud (-.-v)


Dan juga buat semua yang mau meluangkan waktunya buat baca, apalagi komen hehehe..


Rabu, 22 Desember 2010

for you (cerpen)

Kembalikan lagi senyumku yang manis seperti dulu



Kurasa kini aku tertahan


Menahan luka yang amat dalam


...


(kembalikan lagi senyumku by melly goeslaw)


***

Pernahkah kamu merasa, tiba-tiba saja kamu tidak mengenali dirimu. Semua terasa berbeda, sama sekali bukan kamu, seperti yang kamu kenal dulu. Ya, mungkin kamu pernah merasakannya, tapi apakah kamu pernah menjalani hidup seperti itu, terus-menerus selama lima tahun ?

Apa ?

Gila katamu ?

Tertawalah. Tapi aku sangat mengerti rasanya.

***

Classmeeting yang membosankan. Sangat-sangat membosankan. Dan aku hanya bisa duduk di depan kelasku, memandangi lapangan yang penuh oleh mereka-mereka yang sepertinya begitu semangat untuk mengisi acara ini. Tidak sepertiku.

“Ceilah, bengong aja lo”

Aku menengok ke sebelah kiriku. “Biarin, suka-suka gue sih, bukan urusan lo ini..”

“Yaelah santai Shil..” ujar orang yang tak lain adalah Ify, sahabatku. “Pasti lagi mikirin si itu..”

“Woo..sok tahu..” elakku.

“Haha..” ia terkekeh, entahlah bagian mana yang menurutnya lucu. “Ngaku aja sih, apa lagi sih, yang seorang Ashilla Zahrantiara pikirin kalau bukan si..eumphhfff”

Tanpa pikir panjang, aku langsung saja menutup mulutnya dengan tanganku, sebelum ia akan menyebutkan nama itu dengan lantang. “Diem, baru gue buka mulat lo ..” ancamku sambil menatapnya tajam, agak sadis memang.

Ify menganggukan kepalanya, dan sedetik kemudian, aku lepaskan tanganku.

“Heh ?! gila lo ! pengap woi gue, kejem amat sih sama temen sendiri” semprotnya kesal, mengibas-ngibaskan tangan ke arah wajahnya, seolah memanggil angin agar mendekat ke arahnya.

“Bodo ! daripada elo frontal nyebut namanya” sahutku enteng.

“Lo kenapa sih ? lagi dapet ? apa pms ? sensi amat neng” Ify misuh-misuh sendiri. Melihatku sikapku, yang aku akui, sedang agak menyebalkan saat ini.

Dengan memasang muka polos, atau datar ? aku hanya menggeleng sambil mengangkat kedua pundakku bersamaan.

“Ahh, cerita dong, elo kenapa ?” pintanya.

“Enggak apa-apa Fy, udah ah, gerbang udah dibuka belum ? mau balik nih gue, gerah banget disini” ujarku, mengalihkan pembicaraan. “Gue ke kelas ya Fy..” sambungku lagi, sambil berdiri dan masuk ke dalam kelas.

Tanpa aku menoleh. Aku tahu pasti, saat ini Ify pasti sedang memandangku dengan pandangannya yang penuh menyelidik itu. Bukan aku tidak ingin membaginya. Hanya saja aku sendiri mulai lelah, jika harus kembali bercerita. Tentang tokoh yang sama, tentang rasa yang sama, bertahun-tahun ini, selalu begitu, tidak pernah berubah sedikitpun.

Ya, tentangnya. Tentang ia yang tak sedikitpun menggubrisku lagi.

Tentang ia..

Si masa lalu yang menyesakkan.

***

Jangan berakhir aku tak ingin berakhir


Satu jam saja kuingin diam berdua


Mengenang yang pernah ada


Jangan berakhir karena esok takkan lagi


Satu jam saja hingga kurasa bahagia


Mengakhiri segalanya


Tapi kini tak mungkin lagi


Katamu semua sudah tak berarti


....


(satu jam saja by lala karmela)


***

Seandainya semua bisa di putar. Bisakah aku memintanya untuk tetap tinggal ? berdiam bersama, di lingkaran kebahagiaan yang saat itu mengelilingi kami. Aku tahu, semua yang dimulai dengan seandainya, adalah ungkapan penyesalan. Yang membuahkan kepahitan, dan kesakitan tak berujung. Apalagi jika kesalahan itu, membuatmu kehilangan. Dan kenangan-kenangan yang adapun, tak ada lagi guna, tak ada lagi arti. Semua hanya semu. Karena rasa di dalamnya telah padam.

Ia merengut senyumku, tidak mengembalikannya.

Dan itu menyesakkan.

***

Aku mendekap bantalku erat. Menyalurkan segala rasa perih yang terasa malam ini. Selalu saja begini. Semua hal tentangnya, selalu memberikan efek samping padaku, dan kali ini, efek itu berupa tangis yang tertahan.

“Gue..enggak..mau nangisin dia lagi..” desahku getir. Berusaha menguatkan diriku sendiri. “Malam ini gue enggak mau labil..enggak mau..” aku meronta untukku sendiri. Seolah dengan begitu, aku tidak lagi akan tenggelam akan pikiran tentangnya.

Meski rasanya, itu nihil.

Inilah aku. Inilah yang terjadi, jika kenangan-kenangan itu berputar kencang di dalam pikiranku. Dan ini tentu saja masih tentangnya.

Dia.

Sesosok laki-laki, yang entah bagaimana caranya membuatku takluk dan tidak mengerti untuk menghentikannya.

Dan lihatlah hari ini. Ify telah menjadi korban karena rasa siksa, yang aku tahu, aku ciptakan sendiri. Ah, kenapa sih aku masih mencintainya ? laki-laki bukan hanya dia seorang kan ? jadi kenapa rasa ini tetap saja bertahan disini, dan tidak ingin beranjak meski seincipun.

Setelah merasa lebih baik. Aku turun dari ranjangku, bersimpuh di depan rak buku, membuka lacinya yang terletak di paling bawah. Aku mengeluarkan sebuah kotak, beberapa kali, aku menghela nafas, dan kira-kira di detik yang kedua puluh, aku membuka kotak itu, mengambil sebuah buku berwarna merah dari dalam sana.

Hanya memandanginya. Untuk beberapa saat. Tapi rasanya sesak. Buku itu menyimpan semuanya.

Bagaimana ia menyatakan perasaannya padaku, lima tahun lalu.

Bagaimana ia meminta ijinku padaku, untuk memanggil aku dengan sebutan yang hanya miliknya, lovely, di bulan kedua setelah kami berpacaran.

Atau bagaimana ia yang selalu memujiku dengan kata-kata lucu, hingga bagiku kata itu hanya berarti jika ia yang mengucapkannya.

Serta bagian paling pahit, yang aku tulis dengan getir, ketika akhirnya semua berakhir. selesai.

Cukup hanya dengan melihatnya, aku kembalikan lagi buku itu. Aku tidak mau melihat isinya. Aku tidak sanggup melihat isinya. Tidak untuk hari ini. Meski hanya untuk satu jam.

***

......


Teruslah berjalan


Teruslah melangkah


Kutahu kau tahu


Aku ada


(Aku Ada by Dewi lestari)

***

Meski hanya sekali. Tapi aku ingin bisa memandangnya lagi. Untuk beberapa detik saja. Ia tidak perlu tahu. Walaupun, jujur saja, aku juga ia ingin mengerti, meski hanya seujung kuku.

Aku masih ada disini.

Bukan hanya raga, tapi juga jiwa.

Dan lagi-lagi ini hanya sebuah khayalan.

Bagian dari harapan yang aku mengerti tidak akan pernah terjadi.

***

“Lo harus move on Shil !”

Kalimat itu lagi. Rasanya, jika aku ini rajin, dan bersedia repot untuk membuat daftar, ini bukan untuk pertama kalinya bahkan mungkin ini sudah terletak di urutan keseratus berapa, kalimat ini terlontar untukku.

Baiklah aku mengerti. Move on. Mencoba untuk bangkit, dan melupakan yang telah berlalu. Tapi, heloooo...ini tidak pernah semudah itu. Aku bisa bangkit, tapi melupakannya ? beri tahu aku, bagaimana caranya, aku bisa melupakan dia, sementara hampir setiap detik, apapun yang ada di sekitarku mengingatkanku kembali padanya.

“Iya..gue tahu” jawabku singkat, cenderung malas.

“Tahun pertama, okelah gue maklum, tahun kedua, masih oke, tahun ketiga, itu udah ngelewatin tiga kali tahun baru dan artinya itu udah masuk tahap waspada, tahun ke empat, oh God, ada banyak cowok di luar sana Shil, dan tahun kelima ?! saatnya elo berhenti dan ngelupain dia, jangan sampai ketemu tahun ke enem !” Ify berceloteh panjang lebar, sambil menjabarkan jarinya. Seperti anak umur lima tahun yang baru belajar menghitung.

“Fy, gimana gue mau lupain dia, kalau tiap hari aja, elo enggak berhenti ngebahas tentang dia”

“Gue cuma ngingetin, sepuluh hari lagi, kita masuk ke tahun yang baru, dan gue enggak mau lo masih aja ngarepin dia”

Aku melengos. Benar juga si Ify, dalam hitungan jari-jari ini, waktu yang baru akan tiba. Dan aku sama sekali tidak menghasilkan perubahan apapun, oke, itu menyedihkan.

“Kasih tahu gue Fy, gimana caranya gue bisa lupain dia..”

Ify memandangku, menghembuskan nafas. “Enggak ada cara yang pasti buat melupakan seseorang, yang ada cuma niat, kemauan, dan kalau itu ada di dalam diri lo, kalau lo berusaha buat ngelawan semua rasa itu pakai niat dan kemauan lo, lo pasti bisa..”

“Gue takut. Berhenti sayang sama dia, sama aja merubah hidup gue. Lima tahun ini, sejak gue bangun pagi sampai gue tidur lagi, dia selalu ada. Dia kaya drugs, gue ketergantungan sama dia. saat gue sedih, saat gue butuh dukungan, yang gue inget pertama adalah dia, kata-katanya yang dulu nyemangatin gue, senyumnya yang selalu bisa bikin gue tenang..gue takut Fy..”

“Tapi mau sampai kapan elo kaya gini ?”

“Kalau ada obat, atau alat yang bisa bikin gue lupa sama dia, pasti gue beli, berapapun harganya” ujarku mulai meracau. Membuat Ify tersenyum simpul.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tanpa aku sadari, tidak hanya ada aku dan Ify di dalam angkot ini. Ada orang lain disini, yang pasti sejak tadi memandangku bingung. Atau memang aku selalu seperti ini ? hidupku terlalu penuh tentangnya. Hingga aku lupa, aku tinggal di salah satu negara dengan penduduk terbanyak. Tapi rasanya jika begini, bahkan tatapan mereka yang biasa aja, seolah seperti meremehkanku, dan obrolan mereka yang sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya denganku, seakan-akan sedang mengejekku.

Aku si cewek lemah

Yang tidak mampu untuk bangkit.

“Riko..” desisku pelan. Sangat pelan. Hingga sepertinya, aku hanya melafalkannya saja, tanpa suara. Tapi Ify yang duduk di depanku, langsung sadar, dan memutar badannya, melihat pemandangan di belakangnya. Lalu ia kembali memandangku lagi, lantas menggenggam tanganku erat.

“Sabar ya Shil..” ujarnya pelan. Dan aku hanya tersenyum.

Angkot yang aku tumpangi ini, memang melewati sekolah Riko.

Siapa dia ?

Oh, aku belum mengenalkannya ya ?

Dialah, si-masa-lalu-tak-kunjung-padam yang sering aku sebut-sebut itu.

Ia sedang berdiri di depan sekolah. Bersama teman-temannya, dan di sampingnya, ia tidak sendiri. Ia bergandengan dengan seorang perempuan. Cantik. Seperti mantan-mantannya yang lain, kecuali aku mungkin. Aku jadi teringat, peristiwa beberapa bulan lalu. Saat aku datang ke sekolahnya karena ada sebuah lomba, dan ya, aku melihat pemandangan yang sama.

“Gue enggak apa-apa kok Fy”

“Bohong”

Ify benar, aku berbohong. Tapi ya sudahlah, ini doaku kan ? aku ingin melihatnya, dan tadi aku melihatnya. Setidaknya, meski ia tidak menyadarinya, sama sekali tidak menyadarinya, dan mungkin tidak akan repot-repot untuk menyadarinya, aku ada.

Disini, untuknya.

***

I tried to run from your side


But each place I hide


It only reminds me of you


.....


(It only reminds me of you by mymp)

***

Rasanya, kemanapun kakiku melangkah, ia tetap saja menempel kuat. Atau karena ia telah terlanjur berkerak di dasar hatiku ?

Dan satu-satunya yang aku lakukan, hanyalah membuat zona amanku. Berlindung di balik selubung itu. Melakukan semua dengan biasa-biasa saja. Ya, aku bisa melakukan semuanya di dalam zona amanku. Melaluinya seperti sebuah alur yang lurus dan memang harus begitu. Sesungguhnya itu membosankan. Amat sangat membosankan.

Tapi bagaiman lagi.

Hanya di dalam sana, aku merasa baik-baik saja.

***

Dan hari ini, aku kembali menjadi remaja yang sedang dalam kegalauan akut. Sampai kapan sih aku harus begini ?

Selalu mengingat segala tentangnya !

Segala tentang kita !

Padahal ia ? aku yakin, mungkin yang ia ingat hanya namaku, selebihnya ? kosong.

Sementara aku ? perlukah aku jabarkan ?

Baiklah.

Aku masih ingat tanggal jadian kita, bahkan tanggal putusnya..

Aku masih ingat apa saja yang ia pernah lakukan bagiku.

Aku masih bisa mengingat dengan jelas, sms-sms apa yang pernah ia kirimkan untukku.

Dan tentu saja, aku juga masih mengingat, hal-hal kecil tentangnya.

Seperti hari ulang tahunnya, dimana aku selalu menahan ngantuk hanya untuk menjadi orang pertama yang mengucapkan hari ulang tahunnya, meski hanya lewat angin.

Atau makanan kesukaannya.

Rumah sakit tempat ia di lahirkan, ini memang tidak penting sih, tapi aku mengetahuinya.

Nomor telepon rumahnya, meski aku sama sekali tidak pernah berani buat menghubungi nomor ini.

Ahh ya, ternyata aku memang sangat menyedihkan ya ?

Silahkan tertawa untukku. Tapi memang itulah yang terjadi.

Aku membenamkan wajahku di bantal, dan air mata itu mulai menetes. Dan saat seperti ini, rasanya jika boleh berandai-andai, aku ingin ia menawarkan pundaknya, atau setidaknya menyodorkanku selembar tisu. Dan dalam tangisku, aku tertawa miris, bagaimana bisa aku berkhayal seperti itu, ia bahkan tidak tahu detik ini aku sedang menangis untuknya. Tidak pernah tahu.

Dan apa yang akan ia lakukan jika ia tahu ?

***

Aku tak percaya lagi


Akan guna matahari


Yang dulu mampu terangi


Sudut gelap hati ini


Aku berhenti berharap


Dan menunggu datang gelap


Sampai nanti suatu saat


Tak ada cinta ku dapat


....


(Berhenti berharap by sheila on7)

***

Bolehkah aku meminta satu ?

Aku hanya ingin semuanya berakhir. benar-benar berakhir, entah bagaimana caranya.

Ini mulai tidak sehat. Ini mulai menggangu, dan tentu saja, lama-lama ini bisa membuatku benar-benar gila.

Oke, aku memang baik-baik saja hingga saat ini. maksudku, aku tetap bisa makan tiga kali sehari, masih tetap bisa bermain bersama teman-temanku, masih bisa melakukan hobiku. Tapi sejauh apa sih aku mampu bertahan ?

Pasti tidak akan lama lagi kan ?

***

Suara denting-denting dari alunan musik klasik yang sepertinya sengaja di putar di kafe ini, mewarnai telingaku, yang entah kenapa, memutuskan untuk duduk sendiri, menghadap secangkir latte tanpa di temani siapapun.

Kafe ini, ada di komplek rumahku, sebuah kafe kecil yang menurutku cukup nyaman untuk mencari ketenangan, apalagi bagi orang-orang seperti aku, yang hidupnya di penuhi oleh dilema-dilema hidup, yang sesungguhnya tidak begitu penting, di bandingkan dengan masalah orang lain yang mungkin saja lebih besar.

Suara klenengan yang khas, menjadi pertanda ada yang membuka pintu masuk. Dan benar saja, ketika aku mengarahkan mataku ke pintu, ada tamu yang baru datang. Tunggu, hei apa-apaan ini ?! kenapa disaat aku sendiri begini, ia malah harus hadir. Ahh, apa yang harus aku lakukan Tuhan ?

Dan ia sadar, akan aku yang sedari tadi terus menatapnya. Sambil tetap menggenggam tangan perempuan, yang tidak aku kenali siapa itu, ia tersenyum ke arahku, dan sepertinya akan segera menghampiriku. Bahkan tanpa kaca, aku bisa merasa wajahku pucat pasi sekarang.

“Hei Shil..”

“Hei..” ujarku dengan suara bergetar dan gugup. Sial !

“Oh ya kenalin, ini Acha sahabat gue”

“Hai..”

Lagi-lagi aku mengulang kata sapaan yang sama. Otakku seperti berhenti bekerja dan mencerna kata untuk sesaat. Tapi tunggu, apa tadi dia bilang ? sahabat.

“Gue Acha..” ujar perempuan itu ramah, menyodorkan tangannya, yang tentu saja langsung aku balas. “Elo mantannya Riko ya ?”

Pertanyaan itu, sudah berapa orang saja yang setiap bertemu denganku, pasti menanyakan itu. Apakah Riko juga mendapat perlakuan yang sama ? sepertinya sih tidak.

“Hehehehe..” aku hanya bisa terkekeh untuk menjawab pertanyaan itu.

“Haha..dulu banget ya Shil, cinta monyetlah” celetuk Riko.

Cinta monyet. Taraa..akhirnya aku mengerti sekarang. Aku hanya cinta monyet baginya. Yayaya..aku memang tidak akan berarti apa-apa lagi. Oke, terimakasih Riko, sepertinya malam ini aku akan kembali menangis lagi.

“Hehe..” kali ini aku tertawa hambar, sangat hambar. “Err..kalian beneran cuma sahabatan doang ?”

Dan mulutku berkhianat. Ia meluncurkan sendiri kalimat itu, pertanyaan bodoh itu, tanpa ijin apapun dari ku. Aku menunduk, berharap mereka berdua tidak tersinggung dengan pertanyaanku.

“Eh ? emang keliatan banget ya Shil ? hehe..iya deh gue ngaku, kita berdua emang lagi pendekatan ehehe..doain aja ya”

Ucapan Riko barusan. Sama saja seperti ada petir dengan kekuatan bermega-mega watt yang baru saja menyerang telak padaku. membuat semuanya langsung hancur berkeping-keping.

“Oh ? ehh..iya..pasti-pasti. Eh, gue udah lama banget disini, mau balik, duluan yaa..bye..good luck” aku langsung nyerocos cepat, secepat yang aku bisa, sebelum air mataku mendahului. Tanpa menghabiskan latteku, aku langsung saja bergegas menuju kasir.

Aku menoleh sekilas, terlihat Riko, dan siapa tadi ? oh iya, Acha. tampak berbicang seru, dan sangat akrab. Aku hanya bisa mendesah pelan.

“Mbak, semuanya jadi dua puluh ribu..”

“Eh, maaf mbak, punya kertas enggak ?”

“Ada, ini..” tidak peduli, meski si mbak kasir ini memandangku bingung, aku tetap saja menulis di kertas yang ia sodorkan, beserta pulpennya tentu saja.

“Berapa tadi mbak ?”

“Dua puluh ribu”

“Ini, dan tolong kasihin kertas ini ke meja itu ya..” pintaku menunjuk meja Riko, sambil menyodorkan selembar dua puluh ribuan. Dan tanpa ingin melihat lagi, aku langsung keluar. Menjauh, kalau perlu menghilang.

***

Hai Riko, taukah kamu, bahwa aku ini pengecut ? hehe


ya, lihat saja, saat tadi kita berkesempatan ngobrol, aku menjadi gagap tiba-tiba, padahal kalau kamu tahu, tiap malam, aku selalu memikirkan tentang kamu lho..


hahaha..jangan bingung ya, tapi sepertinya, rasa cinta, yang kamu bilang cinta monyet itu, masih tertinggal deh disini. Kalau boleh, bisakah kamu mengambilnya ?


Aku udah terlalu lelah buat merasakannya..hehe


Atau setidaknya, ajarkan aku, bagaimana cara bisa melupakanmu. Seperti kamu yang dengan mudahnya melupakan aku..


Pilihan yang pintar Ko, selera kamu bagus-bagus ya, Acha cantik. Good luck buat kalian berdua..


Dan..selamat tahun baru, meski masih beberapa hari lagi..doain aku, biar tahun depan enggak perlu inget sama kamu lagi..


Biar tahun depan, aku enggak perlu begadang setiap hari ulang tahun kamu, cuma untuk jadi orang paling pertama yang ngucapin ke kamu, tanpa kamu tahu..hehe


Makasih Riko, buat semuanya.


Ashilla, si cinta monyetmu.

TAMAT.

Sebelum pergi, pengen ngepost cerpen aneh ini dulu..hehehe

Seperti biasa, di cerpen inipun sangat mengharapkan jejak-jejak yaa,,hehe..komen, saran, kritik..semua di terima dengan senang hati..

Kayanya ini bakalan jadi postingan terakhirku di tahun ini dehh ehehe

So, this is for you, for special someone..just you..

Makasih.

Kamis, 16 Desember 2010

cerita biasa (cerpen)

Ini hanya sebuah kisah biasa.


Tentang persahabatan, tentang masa remaja yang menyenangkan.

Kisah yang bisa kamu temukan dalam hidupmu sendiri.

Percayalah.

Ini hanya tentang persahabatan.

Ini bukan kisah romeo dan juliete.

Hanya sebuah kisah sederhana, dan sangat biasa.

Persahabatan.

***

Suara pantulan bola basket serta derap kaki, bagaikan menjadi pengiring musik yang khas. Belum lagi gelak tawa yang ceria. Suasana kebahagiaan yang sederhana namun luar biasa. Empat anak laki-laki itu, asik larut dalam permainan mereka. Saling mengoper dan melempar bola. Berkejaran dan berlarian. Tidak peduli meski masing-masing dari mereka telah ada di umur tujuh belas, tidak peduli meski di dompet mereka telah terselip kartu tanda penduduk, tidak peduli meski matahari telah turun perlahan ingin kembali ke peraduaannya. Mereka terus saja bermain. Bermain dan bermain.

“Host...host...”

“Lo enggak apa-apa kan ? duduk dulu deh..” dua orang di antara mereka, menepi ke pinggir lapangan. Memaksa salah satu di antaranya, untuk duduk.

“Kenapa ?” tanya yang lain, yang baru datang.

“Dia..”

“Enggak, gue enggak apa-apa, ayo main lagi..” ujarnya yang di suruh duduk tadi.

Tiga laki-laki itu, sekarang menatapnya tajam, seolah-olah mereka berumur jauh lebih tua darinya. Seperti ia adalah anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan dan akan segera di marahi.

“Serius gue enggak apa-apa..” laki-laki itu mencoba menatap mata temannya yang lain, berusaha meyakinkan, meski ia mengerti mukanya saat ini sama sekali tidak menggambarkan kalimat ‘..enggak apa-apa’ yang baru saja di ucapkannya.

“Udahlah, lagian ini juga udah sore, kita mainnya yang udah terlalu lama”

“Jangan berhenti cuma gara-gara gue” masih ujarnya lagi. Ia menyandarkan kepalanya di dinding, masih berusaha mengatur nafasnya.

“Haha..pede banget lo ! lagian gue juga udah capek kok” sahut temannya yang lain. Menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Tapi serius, gue masih bisa main”

“Besok lagi aja deh mainnya, istirahat dulu sekarang..” timpal yang satunya lagi.

“Thanks” desahnya pelan. Ia tersenyum, semuanya juga tersenyum. Senyum yang hangatnya melebihi dekapan selimut setebal apapun. Senyum yang indahnya melebihi keelokan langit sore. Senyum yang menenangkan melebihi kata-kata bijak dari seorang filsafat sejati. Senyum seorang sahabat.

***

Kemenangan terbesar dalam hidup, adalah ketika kamu menemukan sahabat-sahabat terbaik sepanjang masa.

***

Hari senin. Hari yang di tasbihkan menjadi hari yang paling menyebalkan. Bukan salahnya memang, hanya takdir yang membuatnya menjadi yang pertama, apalagi ia hadir setelah hari minggu yang menyenangkan.

Sepi. Itulah yang saat ini di rasakannya. Hari senin yang menyebalkan. Pelajaran matematika yang menjemukan. Dan hari ini ia harus duduk sendiri. Berkali-kali ia menoleh ke sebelah kanannya, yang tetap saja kosong. Tidak berpenghuni.

“Yo..Rio..pssttt..Rio..”

Merasa di panggil. Ia langsung celingukan kesana-kemari. Mencari darimana sumber suara itu berasal.

“Yo, itu Cakka disana..” Lintar yang duduk di belakangnya, menunjuk ke arah jendela kelas mereka. Dan terlihatlah wajah cakka tersembul sebagian disana. Dengan telunjuknya, Rio tahu, Cakka memberinya isyarat untuk keluar kelas. Dan tanpa perlu di beri tahu lebih lanjut lagi, Rio juga mengerti, apa yang akan mereka lakukan.

“Pak..” Rio langsung mengangkat tangannya. “Saya mau ijin ke kamar mandi”

“Cepat sana, cepat..”

“Iya pak..” buru-buru Rio langsung keluar dari kelasnya. Dan menghampiri Cakka.

“Iel mana ?”

“Dia lagi ada ulangan, gimana dong ?” tanya Cakka balik.

“Ya udah tungguin aja bentar”

“Oke deh, ayo..”

“Eh kka, elo kenapa enggak sms aja sih ?”

“Hehe..hape gue mati lupa ngecharge” tukas Cakka. Rio hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan ke arah kelas Iel. Kira-kira tiga puluh menit, mereka menunggu sambil memperhatikan Iel. Dan ketika Iel terlihat sudah selesai bergulat dengan soal-soalnya, dengan tampangnya yang stay cool itu, Rio mulai mengambil bagiannya, menjalankan aksinya.

“Tok..tok..permisi bu..” ujar Rio sopan, berdiri di ambang pintu kelas Iel.

“Ada apa Mario ?”

“Saya mau ijin manggil Gabriel bu, ada urusan sebentar tentang buku tahunan”

Iel yang juga sudah dapat menebak, apa yang sedang di jalankan kedua sahabatnya itu. Hanya tersenyum kecil, sambil bangkit dari kursinya, dan berniat mengumpulkan kertas ujiannya.

“Kamu sudah selesai Gabriel ?”

“Sudah bu..”

“Ya sudah, ibu ijinkan kamu untuk pergi dengan Mario”

“Makasih bu..” dua orang itu, mencium tangan guru mereka, dan segera keluar kelas.

“Cakka mana Yo ?”

“Lagi ngurusin bagiannya..udah ayo kita ke parkiran aja” ajak Rio, sambil merangkul sahabatnya itu. Mereka berdua sudah siap di motor masing-masing, hanya tinggal menunggu Cakka, beberapa kali sudah Iel melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.

“Udah sepuluh menit, keburu bel istirahat entar”

“Sabar Yel..”

“Eh, ngomong-ngomong kita udah lama ya enggak gila kaya gini” ujar Iel sambil memutar-mutar kunci motor di tangannya.

“Haha, hitung-hitung refreshing kelas tiga Yel..” sahut Rio.

“Sori lama..” kedatangan Cakka, memotong obrolan mereka. “Nih lihat dong, apa yang gue punya..”

“Apaan tuh ?” Iel mengambil secarik kertas yang ada di tangan Cakka. “Surat ijin keluar sekolah ? dapet darimana lo ?”

“Serius surat ijin sekolah ? ahh..gila banget lo Kka..sadis” timpal Rio.

“Haha..gue gitu, udah ayo ah, berangkat..” Cakka memakai helmnya, begitu juga Rio dan Iel. Dan ketiga motor itupun melesat meninggalkan parkiran, melewati pos satpam dengan lancar, dan tentu saja melupakan segala macam pelajaran di hari itu.

***

Suara gaduh di luar, membangunkannya. Pandangannya agak buram dan kepalanya agak berat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, ia mencoba untuk menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur.

Klek.

“Cakka ?”

“Wess, udah bangun lo bro..”

“Rio..”

“Kata nyokap lo, lo masih tidur..”

“Iel..”

“Gimana vin, baikkan ?”

“Kalian ngapain kesini ?”

“Mau nemenin elo lah..” sahut ketiganya kompak. Dan mengambil tempat favourite mereka masing-masing. Iel di kaki tempat tidurnya, Cakka di di kursi belajarnya, dan Rio di kusen jendela yang langsung menghadap ke taman.

“Enggak sekolah ?”

Tidak ada yang menyahut, mereka saling berpandang-pandangan dan melemparkan cengiran-cengiran yang Alvin kenal, sebagai cengiran saat mereka berbuat suatu hal gila.

“Kalian cabut ya ?”

Masih tidak ada yang menyahutinya. Membuat Alvin jadi kesal sendiri. “Kalau enggak ada yang jawab, gue usir lo semua” katanya tajam.

“Eh, jangan dong, perjuangan nih bisa kesini, enak banget lo mau ngusir” jawab Cakka akhirnya.

“Ya udah, terus kenapa bisa kalian kesini, ini kan masih jam pelajaran. Kalian cabut beneran..”

“Gitulah Vin” sahut Iel.

“Ahh, gila, parah lo semua !”

“Yah Vin, elo jangan marah gitu dong, maksud kita kan baik, mau jengukin elo, mau nemenin elo, lagian lo tega apa biarin gue duduk sendirian hari ini” ujar Rio, beranjak dari tempatnya mendekat ke arah Alvin.

“Tapi enggak kaya gini juga, kita udah kelas tiga, kalau gue kan emang dispensasi, kalau elo bertiga ? lagian elo kaya enggak biasa duduk sendiri aja sih Yo, dalam sebulan berapa kali sih lo harus duduk sendiri tanpa gue”

“Ini bentuk solidaritas kita sob..” ucap Iel pelan, menyadari nada suara Alvin yang mulai tajam.

“Solidaritas macam apa sih Yel ? gue aja enek kalau harus ada di rumah kaya gini, gue aja pengen bisa terus pergi ke sekolah, tanpa perlu ada halangan apapun, dan elo bertiga malah kaya gini ! sarap tahu enggak !”

Melihat Alvin mencak-mencak seperti itu, Rio, Iel, dan Cakka jadi merasa bersalah sendiri. Mereka saling berpandang-pandangan, dan entah karena naluri batin mereka yang memang sudah terlalu tertanam kuat atau bagaimana, mereka sama-sama tahu, apa yang harus mereka lakukan saat ini.

“Ya udahlah, mungkin better kalau elo istirahat sendiri sekarang, kita balik deh ke sekolah..” ujar Cakka. Berdiri dan mencoba tersenyum ke arah Alvin, yang masih menatapnya tajam.

“Cakka benar, lagian adanya kita disini, malah bikin elo enggak bisa istirahat lagi” timpal Iel.

“Ya udah, kita balik ya Vin, get well soon” sambung Rio. Mereka bertiga beriringan, menuju pintu kamar Alvin.

Alvin menghela nafas, melihat sahabat-sahabatnya itu. Bukan ia tidak senang mereka kemari, hanya saja, cara yang mereka tempuh ini sama sekali tidak Alvin sukai.

“Ouh..shitt..” Alvin mengumpat pelan, ketika ia merasa cairan kental mulai mengalir dari kedua lubang hidungnya, dan kepalanya bertambah berat. Semua tampak berbayang. Alvin berusaha menggapai-gapai tisu, yang tempatnya terletak di meja kecil samping tepat tidurnya.

“Prang !!”

“ALVIN !”

Suara Rio, Iel, dan Cakka seperti bersatu, memanggilnya. Namun semua tampak berputar, berpusar, dan tiba-tiba menggelap. Hitam dan pekat.

***

Wajah-wajah itu langsung tampak memenuhi bola matanya, ketika Alvin akhirnya sadar. Desahan serta senyum lega, terdengar jelas di telinganya.

“Mau minum Vin ?” tawar Iel, yang kini ada di sisi sebelah kirinya.

“Enggak..” sahut Alvin lirih. Ia mencoba mengangkat kepalanya, tapi semua masih terasa berat.

“Jangan di paksain” ujar Rio. Menumpukkan bantal untuk Alvin, agar meski dalam posisi tidur pun, Alvin masih bisa melihat sahabat-sahabatnya itu.

“Kok kalian masih disini ?”

“Vin, kita ini sahabat lo ! enggak mungkin banget tadi kita tetap aja balik ke sekolah, pas ngelihat elo pingsan kaya gitu, udahlah lagian udah jam segini juga, percuma aja balik ke sekolah, bunuh diri yang ada..” cerocos Cakka.

“Sori..” desah Alvin pelan.

“Buat ?” tanya Iel.

“Udah bikin kalian tetap ada disini dan bukannya balik ke sekolah”

“Haha..yang ada juga kita kali, yang bilang makasih, elo udah ngasih kita libur sehari dari pelajaran-pelajaran enggak guna itu”

“Ahh iya, Rio bener. Gue bebas dari matematik sama kimia hari ini, surga banget !” sambung Cakka.

Alvin terkekeh pelan. “Jangan di ulangin lagi, ini terakhir kalinya, kalian cabut dari sekolah, cuma demi gue..”

“Siap bos !” tukas Iel sambil berlagak hormat ke arah Alvin. “Lagian ini kaya nostalgia juga sih, dulu kan smp kita sering banget ngelakuin kaya gini, terakhir kita kaya gini kapan ya ?”

“Awal-awal kelas sebelas, pas gue baru balik dari rumah sakit” sahut Alvin. Ia tidak akan pernah lupa, semua hal yang pernah sahabatnya lakukan untuk dia, meski dengan cara yang tidak tepat, tapi tetap saja, ketulusan di balik itu mampu membuat Alvin dapat membusungka dadanya, membanggakan pada dunia, bahwa ia memiliki sahabat terhebat di muka bumi ini, sukur-sukur hingga ke surga nanti.

“Gimana tadi kaburnya ? emang enggak ditanyain sama satpam ?” kali ini Alvin malah penasaran, apa yang sahabatnya lakukan agar bisa semudah itu keluar dari pagar sekolah mereka. “Atau kalian manjat tembok lagi ?”

“Enggak dong, masa udah mau 2011 gini, masih jaman aja manjet pager, tadi kita pakai cara yang lebih elegan Vin..haha..” jawab Cakka bangga. “Gue berhasil dapetin surat ijin keluar, plus tanda tangan piket hari ini”

“Kok bisa ?” tanya Alvin tidak mengerti.

“Haha..gue gitu..jadi tadi pas gue mau ngelobi satpam, biar ngasih kita ijin keluar, gue ketemu sama Agni, ternyata dia mau ngurusin lomba basket putri di luar, nah ya udah sekalian aja gue minta tolong ke dia, buat sekalian ngambilin surat ijin plus tanda tangannya..canggih kan gue ?” terang Cakka sambil menaik turunkan alisnya.

“Woo..kalau gitu sih, Agni yang canggih, bukan elo..” cibir Rio sambil melayangkan sebuah bantal ke muka Cakka.

“Ahh tetep aja, kalau enggak karena pesona gue, Agni pasti enggak bakal mau ngelakuinnya” sahut Cakka pede, dan kembali melemparkan bantal itu ke arah Rio. Iel dan Alvin hanya bisa tertawa melihat kelakuan dua orang tersebut.

***

Seorang sahabat, tidak akan pernah menjauh seincipun, ketika sahabatnya membutuhkannya.

***

Bel berakhirnya pelajaran terakhir telah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Tapi tiga orang itu masih berkutat dengan pekerjaan baru mereka, yang sama sekali tidak elite, membersihkan kamar mandi sekolah.

“Yel, bagian itu udah gue pel, kenapa elo siram air lagi sih !” protes Cakka.

“Eh ? haha..mana gue tahu Kka, sori deh, ya udah pel lagi sono..” sahut Iel enteng, sama sekali tidak merasa salah.

“Ah elah, elo berdua rame amat dari tadi, kapan selesainya ini ?!” timpal Rio kesal, yang dalam hukuman kali ini, kebagian tugas mengosek toilet.

“Belum selesai juga elo bertiga ?”

“Nah elo Vin, udahan ulangan susulannya ?” bukannya menjawab, Cakka malah melemparkan pertanyaan lain ke Alvin.

“Udah, mana yang bisa gue bantu ?”

“Eits, diem aja lo disitu ! lagian ini hukuman kita bertiga, elo enggak usah ikut campur” perintah Iel.

“Sini ah..” Alvin melepas jaketnya, menggantungnya di pintu, mengambil pel yang ada di tangan Cakka, dan mulai mengepel. “Lagian kalian di hukum kaya gini kan, karena mau nemenin gue..”

“Tapi Vin ...” Rio menatap Alvin, cemas.

“Udah ah, ayo kerja-kerja, biar cepetan beres..”

Tahu, akan percuma saja, jikalau mereka terus melarang Alvin. akhirnya mereka berempat mulai kembali melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Lagipula, sepertinya inilah yang paling pantas di sebut dengan persahabatan. Ada di tempat yang sama, bersama-sama, bukan hanya untuk tertawa, tapi juga untuk letih bersama. Meski di dalam sebuah kamar mandi.

***

Setelah hampir satu setengah jam, berada di kamar mandi yang pengap serta sempit itu. Mereka berempat kini sedang duduk-duduk di gazebo rumah Alvin, menikmati hembusan angin sore yang menyejukkan.

Selalu seperti ini. Rumah Alvin, dan gazebo ini, seperti telah menjadi markas tetap persahabatan mereka. Dulu, saat mereka sd, mereka sering main disini karena Alvin yang memang tidak di perkenankan untuk main terlalu jauh. Tapi semakin kesini, semakin banyak kenangan yang mereka torehkan disana, semakin tidak dapat dipisahkan juga mereka dari gazebo ini.

“Hahh..” Alvin mendesah, dan agaknya terlalu keras, sehingga semua teman-temannya kini mengarahkan wajah mereka ke arahnya.

“Kenapa Vin ?” tanya Rio, yang duduknya paling dekat dengan Alvin.

Alvin menggeleng sambil tersenyum kecil. Pertanyaan ini, seolah menjadi pertanyaan wajib, yang paling sering Rio, Iel, dan Cakka tanyakan padanya. Pertanyaan biasa, yang selalu terdengar penuh kepanikan dan di ucapkan dengan wajah khawatir oleh teman-temannya. Pertanyaan sederhana, namun berarti bagi Alvin, karena hanya dengan pertanyaan itu, Alvin bisa merasakan ketulusan sahabat-sahabatnya.

“Serius enggak kenapa-napa ?” tanya Rio lagi, ketika tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Alvin.

“Sumpah deh gue baik-baik aja, kan kemarin udah mimisannya, masa sekarang lagi” jawab Alvin enteng.

“Ya enggak gitu juga sih Vin, kita kan cuma khawatir aja sama elo” sambung Iel.

“Iya gue tahu..” tukas Alvin. “Tapi lo semua ngerasa enggak sih, semakin kesini, elo semua sama aja kaya nyokap gue, makin protect sama gue..”

“Enak aja lo ngomong, gue di samain sama nyokap lo lagi” sahut Cakka tidak terima.

“Haha..abisan, dulu lo semua enggak gini-gini amat ah, coba sekarang, dikit-dikit pasti khawatir banget sama gue. Ya iya sih gue tahu, sakit gue emang tambah parah, mau mati malah kayanya ta...”

“Vin ! elo asalan banget sih kalau ngomong !” potong Rio. Ia paling tidak suka jika Alvin mulai menyisipkan kata ‘mati’ dalam kalimatnya. Meski Rio tidak bisa memungkiri itu hal yang paling mutlak dalam hidup ini.

Alvin diam melihat kilat kemarahan di mata Rio. Tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Tapi sampai kapan, semua harus pura-pura menganggap bahwa umurnya akan panjang. Alvin bukan lagi, Alvin yang berusia sepuluh tahun, yang diberi tahu bahwa ia menderita sebuah penyakit dan suatu saat nanti ia akan sembuh. Alvin telah mengerti sekarang, bahwa harapan-harapan itu hanya kosong belaka, menguap di telan waktu.

“Dulu, waktu elo pertama kalinya di rawat, saat itu gue ngeyakinin diri gue sendiri kalau elo itu cuma sakit biasa, sekedar demam, dan bakal sembuh..” Iel tiba-tiba saja bersuara di tengah-tengah keheningan itu.

“Dan gue inget banget waktu itu, waktu gue jenguk elo di rumah sakit, nyokap lo nangis dan nyokap gue meluk nyokap lo. Gue sama sekali enggak ngerti, kenapa nyokap kita harus kaya gitu. Waktu itu gue disuruh masuk sendiri ke kamar rawat lo, dan elo baik-baik aja di mata gue, enggak ada yang salah..sama sekali enggak ada..” Iel melanjutkannya. Menerawang dalam waktu yang telah terlewati dengan susah payah.

“Tapi setelah itu, elo enggak lagi boleh ikut pelajaran olahraga sama upacara, enggak lagi boleh main sepedaan sama kita, dan elo jadi minumin obat setiap hari. Tapi waktu itu gue masih mikir, kalau elo masih dalam penyembuhan, dan emang obatnya harus habis kaya antibiotik yang dokter kasih kalau gue lagi sakit..” tersenyum simpul, Iel mengajak semuanya lebur dalam kisah itu.

“Gue juga inget..” sebelum Iel menyambung kata-katanya lagi, Cakka terlebih dulu membuka suaranya. “Gue juga boleh ngomong kan Yel ?”

“Bolehlah Kka..”

“Inget, waktu itu, kita main, gue lupa kita main apa, tapi yang jelas elo mimisan banyak banget. Terus pas sampai ke rumah lo, gue, Rio sama Iel di ajak ngobrol sama nyokap bokap lo, waktu itu gue kira kita bakal di marahin, ternyata enggak. Bokap lo malah bilang, kita harus ngejagain elo, harus ngingetin elo biar enggak sering capek-capek, dan kalau perlu marah sama elo kalau elo enggak mau di kasih tahu. Waktu itu gue tanya kenapa, tapi bokap lo cuma bilang, suatu hari nanti kita bakalan tahu..”

“Terus waktu itu juga, guru-guru jadi perhatian banget sama lo. Mereka pasti panik banget kalau elo pucet dikit aja, dan jujur ya Vin, gue iri berat sama elo waktu itu. Lo tuh kaya jadi anak emas semua guru, enggak ada yang marah kalau elo enggak masuk, dan elo selalu bisa bebas dari kegiatan-kegiatan yang berhubungan sama fisik..” sambung Cakka lagi, tersenyum kecil, mengingat ia yang dulu paling vokal, menganggap guru-guru berlaku tidak adil.

“Gue juga mau dong..” pinta Rio, seolah saat ini adalah waktunya untuk membagi pengalaman mereka tentang Alvin. Cakka hanya mengangguk. Sementara Alvin, si objek yang dibicarakan sejak tadi, hanya bisa diam mendengarkan.

“Kelas satu smp, gue maksa ke nyokap gue buat ngasih tahu apa penyakit lo, dan akhirnya gue tahu. Jadi saat itu, diam-diam gue udah ngerti sakit apa yang ada di tubuh lo. Gue takut banget waktu itu, dan gue sama sekali enggak ngerti apa yang bisa gue lakuin buat bikin elo tetep tinggal disini sama kita..”

“Sampai akhirnya, pas kelas dua smp, dan elo cerita ke kita, lo sakit apa dan kenapa, dan ngelihat elo bisa tegar kaya gitu, gue pikir kenapa gue enggak bisa. Tapi setegar-tegarnya gue, gue tetep aja ngerasa takut, itu sebabnya mungkin kenapa elo nganggep kita jadi lebih protect ketimbang dulu, karena semakin kesini, gue juga semakin ngerti sama keadaan lo, dan semakin kesini, semakin banyak waktu yang kita berempat laluin jadi kenangan..” Rio menepuk-nepuk pundak Alvin pelan.

“Gue bukan siapa-siapa tanpa kalian” ujar Alvin pelan, memandang temannya satu persatu-satu.

“Gue penyakitan dan lemah. Gue enggak pernah aktif di osis kaya kalian bertiga, enggak bisa juga jadi bintang basket atau olahraga lainnya karena fisik gue yang enggak mengijinkan untuk itu, badan gue terlalu kurus dan pucet buat jadi idaman cewek-cewek cantik di sekolah, otak gue apalagi, satu bulan, bisa ada satu minggu sendiri gue enggak ikut pelajaran, orang tahu gue, karena gue sama kalian..”

“Enggak gitu juga ah Vin..” sanggah Iel.

“Kaya gitu Yel. Orang kenal gue, oh Alvin temennya Iel yang mpk itu ya, atau Alvin yang suka sama Rio ketua osis itu kan, ehm..Alvin yang sering nemenin ketua basket si Cakka ya..selalu kaya gitu, tapi coba kalau gue sendiri, orang tahunya ya gue yang penyakitan, jarang masuk, tapi selalu sukses naik kelas..”

“Serius Vin, ada yang bilang gitu ? minta di tampol tuh orang” sungut Cakka sengit.

“Buat apa Kka ? gue enggak peduli. Emang gue kaya gitu kok, emang gue Alvin looser yang ada di antara tiga orang hebat, dan gue enggak keberatan akan hal itu. Yang penting kaliannya mau nerima gue apa adanya, padahal gue suka nyusahin kaya gini, sama sekali enggak ada keuntungannya temenan sama gue”

“Elo ngomong apaan sih Vin ? siapa bilang temenan sama elo enggak ada keuntungannya ? gue bangga punya temen kaya elo, dan akan selalu kaya gitu !” sahut Rio.

“Thanks, kalian emang yang paling the best..”

***

Tidak akan ada perpisahan yang menyenangkan, yang ada hanya doa agar suatu saat dapat berjumpa kembali

***

Deruan nafas yang tidak teratur, rasa sakit yang bagai meremas tulang-tulang secara sengaja, darah yang terus mengalir bagai kran air yang lupa ditutup, dan kesadaran yang perlahan dan demi perlahan tergerus.

“Vin..Alvin..”

Suara itu. Seperti ada tangan yang mengguncang-guncang tubuhnya. Tapi jangankan untuk membuka matanya, bahkan dalam ke adaan terpejam seperti inipun, rasa sakit itu terus saja mendera tanpa ampun. Terus saja memeluknya erat.

“Alvin, lo denger gue kan ? ini gue Rio, Alvin !!”

“ALVIN !! VIN !!”

Dan semua tiba-tiba seperti diam. Berhenti. Tidak ada lagi suara, sama sekali tidak. Tapi rasa sakit itu masih saja tersisa. Membuat seluruh tubuhnya terasa berat.

***

Doa dan lantunan harapan, bergaung terus menerus di dalam hati mereka. Tangan-tangan di angkat, menengadah, meminta kepada Ia, satu-satunya Zat yang paling berkuasa atas segala kuasa di alam ini.

Ini bukan untuk pertama kalinya. Sudah berpuluh-puluh kali, mereka pernah ada di kondisi yang sama seperti ini. Menanti tanpa harapan yang pasti. Berharap masih ada satu hari atau malah lebih, untuk di tambahkan pada umur Alvin.

Tangan Rio bergetar hebat. Bayangan wajah pucat Alvin, dan darah yang terus keluar dari lubang hidungnya, terasa terus berkelebat di pikirannya. Rio benar-benar tidak menyangka akan menemukan Alvin dalam keadaan seperti itu. Ia memandangi ujung kaosnya, yang penuh bercak darah.

“Dia pasti baik-baik aja Yo..” ujar Iel yang duduk di sebelahnya, meski gurat kecemasan juga terpeta jelas di wajahnya.

“Alvin kuat, kita harus percaya sama dia” timpal Cakka.

Kedua orang tua Alvin tersenyum tipis, melihat bahwa anak mereka, memiliki sahabat yang tidak sedetikpun pernah berniat untuk pergi, meski keadaannya seperti ini. Bukankag itu suatu yang patut di banggakan ?

Seorang dokter keluar dari kamar perawatan Alvin, yang langsung mereka hampiri. “Kalian semua di tunggu oleh Alvin di dalam”

“Sudah, kalian bertiga aja yang masuk duluan, om sama tante biar ketemu sama dokter dulu” bujuk papanya Alvin. ketiga orang itu mengangguk, dan segera masuk ke dalam kamar Alvin.

“Hei..” sapa Alvin parau, mencoba tersenyum di balik masker oksigen yang menyelubungi wajahnya.

“Lo bikin gue takut Vin” sahut Rio.

“Gue masih ada disini” ujar Alvin pelan. “Untuk beberapa waktu..” sambungnya lirih.

“Berhenti ngomong, seolah-olah lo mau mati besok” celetuk Iel datar, menatap Alvin memohon.

“Kita kenapa sih ? jangan pada kaya gini ah lo semua, kitakan harusnya seneng, Alvin udah sadar” Cakka mencoba untuk tidak ikut terpengaruh pada suasana, yang entah kenapa terasa begitu suram ini.

“Gue pengen kita ngeband lagi”

“Apa Vin ?” tanya Cakka, yang agak kesulitan mendengar perkataan Alvin.

“Ngeband, gue mau ngeband lagi..” ulang Alvin.

“Iya, entar kalau elo udah keluar dari sini, kita ngeband lagi” jawab Iel. Layaknya seorang ayah, yang menjanjikan sesuatu pada anaknya.

Dan semua tiba-tiba saja diam. Duduk mengelilingi Alvin. Namun meski tanpa kata-kata, semua terasa tersampaikan, rasa sayang itu, kepedulian itu, aroma persaudaraan yang kental. Semuanya, begitu terasa.

***

Semua saling berbisik-bisik. Tidak mengerti, mengapa harus di kumpulkan di aula sekolah siang-siang begini. Dan segala kasak-kusuk itu kian menjadi-jadi, ketika Alvin, Rio, Iel dan Cakka keluar ke atas panggung dan mengambil alat musik masing-masing.

“Siang semuanya..” sapa Alvin, yang kali ini bertindak sebagai vokalis.

“Maaf kalau gue ganggu waktu belajar kalian, oh ya by the way, kalian kenal enggak ya sama gue ? kalau sama, yang ada di belakang, pasti kenal semua doang, ada Rio, Cakka dan Iel. Gue sendiri Alvin, angkatan 28, dari 12 ips 1, mungkin banyak yang enggak kenal gue karena gue jarang masuk, tapi sekali ini aja, gue pengen ngasih sesuatu buat sekolah ini..”

Cakka yang ada di balik drum, Iel yang memegang Bass serta Rio dengan gitarnya, menatap Alvin lirih. Hanya ini yang bisa mereka bertiga lakukan, memohon kepada sekolah, agar bersedia mengijinkan untuk acara kecil ini. keinginan mereka hanya satu, hanya ingin, Alvin tidak hanya menorehkan kenangan di hati mereka bertiga, tapi juga di seluruh sekolah ini.

Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali

Kita berbincang tentang memori di masa itu

Peluk tubuhku usapkan juga air mataku

Kita terharu seakan tidak bertemu lagi

Suara Alvin yang sedikit serak, entah mengapa terasa mengirisi ulu hati Cakka, Rio dan Iel. Belum lagi lagu pilihan yang Alvin pilih ini.



Bersenang-senanglah

Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan

Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah

Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua



Sampai jumpa kawanku

S'moga kita selalu

Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Sampai jumpa kawanku

S'moga kita selalu

Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan



Bersenang-senanglah

Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan

Di hari nanti...



Mungkin diriku masih ingin bersama kalian

Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian

“Prokkk....prokkk..”

“Makasih semuanya..” untuk pertama kalinya, Alvin merasa ia bisa melakukan sesuatu, tidak hanya bergantung pada orang lain. Tapi rasa bangga sesaat itu, tiba-tiba saja berganti menjadi rasa sakit yang tidak tertahankan, dan semua kembali gelap. Benar-benar gelap.

***

Titik-titik air mata, masih saja menetes meski hanya satu-satu. Tidak ada yang akan tetap berdiri tegak, ketika sahabat terbaik akhirnya pergi. Semua akan terasa pekat dan gelap. Dan mungkin akan berlangsung untuk beberapa waktu. Tapi siapa peduli. Yang terbaik yang pernah ada di hidupmu baru saja pergi. Kamu berhak untuk menangisinya.

Bukan cengeng. Bukan juga lemah. Ini hanya fase kehidupan, manusiawi. Setidaknya percayalah, kamu telah memberikan semua yang terbaik yang kamu punya, untuknya, yang kamu bilang sahabat.

Dan saat kamu meyakini, bahwa ia telah cukup bahagia, maka lepaskanlah, karena percuma saja terus menahannya. Sahabat terbaik datang untuk menemani langkahmu. Jadi teruslah pegang itu, meski ia pergi, kakinya tidak akan pernah beranjak jauh dari tempatmu.

Yang terbaik, adalah ia yang datang, untuk siap kamu bagi dengan segala dukamu, dan tidak pernah dendam saat kamu lupa membagi tawamu untuknya.

***

Kisah biasa kan ?

Hanya tentang persahabatan.

Persahabatan yang indah. Namun tetap saja, hanya sebuah..

Cerita biasa..

TAMAT.

*nengok kanan kiri* jangan ada yang nimpuk aku, oke ??

sebenernya aku pernah janji enggak akan nyiksa alvin lagi..

tapi...

banyak banget yang minta aku bikin cerita yang nyiksa begini..

Jadi, cerita ini, spesial buat mereka yang minta cerita penyiksaan .. semoga sih enggak ngecewain, walaupun kayanya bakal ngecewain –“ hehehe

Tinggalin jejak yaa..berupa apapun deh, komen, kritik, saran..wall di fb, atau twitter hehehe..

Twitterku >> @nindhiyaa

Fyi, lagunya sebuah kisah klasik by sheila on7

Makasih.

Jumat, 03 Desember 2010

bertahan (cerpen)

Gadis kecil itu menggelembungkan pipinya, membuatnya terlihat bulat, sambil mengamit boneka beruang kecil di dekapan tangan kirinya, ia berdiri di ambang pintu.


“Mama mana pa ?” tanya gadis itu ketus, dan kembali menggelembungkan pipinya. Papanya yang sejak tadi membaca koran, baru sadar akan kehadiran anak perempuannya itu.

“Mama pergi, kamu kenapa via ? sini deket papa..”

Dengan berlari kecil, via mendekati papanya dan duduk di sampingnya. “Via sebel sama iel, via enggak mau temenan lagi sama iel..” ujarnya polos, khas anak-anak.

“Kok gitu ? via sama iel kan sahabatan, jadi enggak boleh saling benci..”

“Tapi iel jahat sama via”

“Iel nakalin via ?” via itu menggeleng.

“Iel bikin via nangis ?” lagi-lagi via menggeleng.

“Terus iel bikin salah apa sama via ?”

“Tadikan di sekolah, acara tukeran bekal, terus via udah bawain roti buat iel, tapi iel malah ngasih bekalnya ke zahra, terus seharian mereka ngobrol berdua, via enggak boleh ikutan”

“Via suka ya sama iel ?” goda papanya.

“Ihh, papa, apaan sih, kata bu guru, anak kecil enggak boleh suka-sukaan, via cuma enggak suka aja, zahra ngerebut ielnya via”

Papanya tersenyum penuh arti, menggendong via lalu meletakkan di pangkuannya. “Itu via tahu, lagian via enggak boleh egois, semua itu teman, via, iel, zahra, kalau main ya harus sama-sama..”

“Tapi via enggak suka lihat iel berdua sama zahra”

“Kok gitu sih ? anak papa enggak boleh ah, jadi egois gitu..”

“Kan via itu putri, iel pangerannya, kalau pangerannya direbut, nanti via sama siapa ?” papanya terkekeh pelan, ia mengusap rambut via yang tergerai.

“Tuh kan, berarti via suka sama iel..”

“Enggak papa, via enggak suka. Tapi via sama iel itu, putri sama pangeran, enggak bisa dipisahin” sahut via masih keukeuh dengan jawabannya.

“Via tahu enggak, kadang apa yang manusia rencanain, belum tentu sesuai sama apa yang Tuhan rencanain”

“Beneran ? kan kata papa, kalau kita rajin berdoa dan jadi anak baik, Tuhan akan sayang sama kita dan ngabulin semua doa kita, iyakan ?”

Papanya menatap mata via yang bening, putri tunggalnya itu, memang cerdas. Mata yang sama seperti mata ibunya, sifat ingin tahu yang sama seperti ibunya pula, dan ego yang dimilikinya itu, rasa-rasanya juga mirip dengan ibunya.

“Via, mau dengerin cerita papa enggak ?”

“Cerita apa ? tentang putri yang cantik sama pangeran berkuda putih ya ?”

“Haha..mau enggak nih ?”

“Mau..”

“Ini cerita tentang...”

***

Suara riuh penonton, menjadi pengiring penuh semangat. Teriakan serta yel-yel yang terus berkumandang tanpa henti, bagai genderang yang berisi energi tak terbatas. Pertandingan basket antar sma sejabodetabek, memang selalu begini.

“Gimana fy, udah berapa-berapa ?” seorang laki-laki dengan mata sipit, dan masih berbalut seragam bola, duduk di samping seorang gadis manis, yang dari tadi termasuk yang paling kencang, dalam soal teriak-meneriaki.

“Eh elo vin, udah 77-68, buat sekolah kita..” sahut ify menoleh sekilas, lalu kembali memperhatikan pertandingan.

“Bagus deh, rio udah masukin berapa kali ?”

“20an lebihlah, hampir 30 malah kayanya”

“Sadis tuh bocah, abis ini kita ditraktir nih fy..”

“Yoaa..” ujar ify sambil mengacungkan jempolnya, dan baru-baru benar menoleh ke arah alvin. “Lho, vin kok elo pakai...? ya ampun !! gue lupa lo juga tanding, gimana-gimana ?!!” sambung ify heboh sendiri.

Alvin menutup kedua telingannya, mendengar teriakan ify. “Santai fy..”

“Hehe...jadi gimana pertandingan lo ?”

“Lumayanlah, 3-0”

“Menang ?”

“Iya dong”

“Siapa yang ngegolin ?”

“Gue..”

“Tiga-tiganya ?”

“Iya”

Ify menatap alvin tidak percaya, bukan soal gol yang alvin buat, tapi cara alvin menyampaikan berita itu, yang datar-datar saja. “Itu sih bukan lumayan vin, itu namanya hebat..aaaa..selamat yaaa..”

“Haha..oke-oke. Entar pas final, lo sama rio wajib nonton ya, enggak mau tahu gue”

“Sip. Asik, gue ditraktir dobel nih..”

“Dih, siapa juga yang mau nraktir lo..”

“Ya elo sama riolah hahaha..”

-----

Dua orang laki-laki itu sama-sama diam, meski mata mereka mengisyaratkan bahwa mereka berdua tidak suka ada di tempat ini, bosan lebih tepatnya. Penampilan mereka sama-sama berantakan, rambut yang acak-acakkan, luka lebam di wajah mereka, serta noda darah di kemeja putih mereka yang keluar dan tidak terkancing rapi.

“Kalian itu mau jadi apa sih ?!! kerjaannya berantem terus ! bangga kalau bisa ikut tawuran ?! bangga !”

“Jawab saya !!” seorang laki-laki tua di hadapan mereka, yang mempunyai kumis melingkar menyaingi kumis pak raden, dan selalu dihadiahi predikat sebagai guru tergalak dan tersangar oleh setiap angkatan.

“Mereka yang ngejek sekolah kita duluan pak, saya enggak bisa tinggal diam dong kalau sekolah saya di injak-injak” sahut seorang anak yang duduk di sisi kanan.

“Tapi bukan dengan cara tawuran seperti ini mario !! mereka itu hanya anak-anak dari sekolah negeri pinggiran, bukan sekolah unggulan seperti kita ! gunakan dong akal sehat kamu !!”

“Akal sehat saya bilang, saya harus ngelawan mereka pak !” timpal seorang yang satunya lagi.

“Saya belum kasih kamu kesempatan buat ngomong alvin !”

“Tapi saya mau ngomong pak !”

“Udahlah pak, udah hampir satu jam kita duduk disini, dengerin bapak ngoceh kesana-kemari, bapak mau ngasih kita hukuman apa ? skorsing ?” sela rio, ia benar-benar sudah muak terus-terusan ada disini.

“Jangan kurang ajar ya kamu !”

“Kalau bapak tidak ingat, sama prestasi kalian berdua di bidang basket dan bola, rasanya bapak ingin sekali mengeluarkan kalian dari sekolah ini..”

“Kalau mau ngeluarin saya ya keluarin aja” potong alvin.

“Diam kamu alvin !”

“Baiklah, keputusan bapak untuk kelakuan kalian kali ini, bapak akan menskors kalian selama tiga hari ke depan, dan besok panggil orang tua kalian kemari. Sekarang kalian boleh keluar dari ruangan saya..”

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, dua orang sahabat itu keluar begitu saja. Terlihat ify yang sepertinya sudah menunggu sejak tadi seperti biasa, langsung menghampiri mereka.

“Kalian tuh ya, kapan sih mau sadarnya ? ini udah ke 54 kalinya kalian masuk ke ruang BP, dan yang ke 14kalinya selama kalian kelas tiga ini”

”Dan sampai kapan sih fy elo mau ngitungin berapa kali kita udah masuk BP ?” tanya rio tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini.

“Ya gue pengen tahu aja, sejauh apa sih, sepak terjang lo berdua di kelas tiga ini, enggak lulus aja lo berdua, tahu rasa deh”

“Kalau gitu, terus hitung ya fy, masih bakal panjang kayanya tuh daftar lo” celetuk alvin dengan cengirannya yang khas.

“Gila ah lo berdua, gue enggak abis pikir deh. Apa sih motif kalian masih tawuran dan nyari gara-gara kaya gini ? empat bulan lagi kita UN ! ujian nasional !” ujar ify sambil mengacungkan empat jarinya, semangat.

“Untung kalian siswa berprestasi, jadi selalu dimaafin. Tapi jangan ngelunjak gini juga dong. Lo enggak inget apa yo, ultimatum beberapa guru tentang nilai lo yang kurang di pelajaran mereka, itu bahaya banget tahu enggak..” ify masih saja melanjutkan orasinya, dan kali ini, seperti biasa, ia menjadikan rio sebagai objek pembahasannya.

“Kenapa selalu gue sih fy ? kenapa lo selalu ribet mikirin tentang gue ?!”

“Ya karena elo itu males, dan harus di ingetin dulu !” alvin hanya bisa terkikik menahan tawa, melihat dua sahabatnya ini mulai beradu argumen sepanjang koridor. Ia sendiri lebih memilih menebar senyumnya untuk setiap siswi yang ia temui.

“....kalau elo pintar gue juga enggak akan capai-capai peduliin nilai-nilai lo yang ada di bawah standar itu !”

“Jadi lo mau bilang gue bego fy ?!”

“Kan udah gue bilang tadi, lo itu malas. Nyatanya pas kelas satu, lo pernah kan ngalahin nilai matematik gue, walaupun cuma sekali sih, tapi tambah kesini, lo tuh malah tambah ancur, mau jadi apa sih lo ?!”

“Urusan gue dong mau jadi apa, kok elo yang ribet ? emak bapak gue aja santai..”

“Lo itu laki-laki, laki-laki itu bakal jadi tulang punggung keluarga, tapi kalau laki-lakinya kaya lo sih, susah banget deh di harepinnya”

“Udah ah, enggak akan selesai kita debat ! bibir gue berdarah, nyut-nyutan, dan malah lo ajakin kaya gini ! sekali-kali sama alvin kek..” gerutu rio kesal.

“Alvin kan udah punya cewe-cewenya yang banyak itu, buat ngurusin dia, beda sama lo..”

“Apa...”

“Eits, apa tuh tadi nama gue disebut-sebut ?” alvin memotong kata-kata rio, menyelinap di antara dua orang itu, menghentikan perdebatan mereka.

“Tau ah, gue mau balik ke kelas aja..”

“Ya elah fy, udah tinggal 20menit lagi bel, nanggung. Enggak ikut pelajaran sekali, enggak akan bikin ranking satu lo yang abadi itu lepas kok..” tahan alvin.

“Sekali apanya ? setiap kalian masuk BP, gue pasti cabut !”

“Emang kita yang nyuruh..” cibir rio, cari perkara. Untung alvin buru-buru, merangkul ify, dan memberi jarak yang cukup diantara ify dan rio.

“Udah-udah, temenin kita aja ke uks ya ? kalau bukan lo, siapa dong yang bakal ngobatin kita..” bujuk alvin, setengah memaksa, karena ia langsung saja menyeret ify agar berjalan bersamanya, dan memberi kode ke arah rio agar mengikuti mereka.

Panas. Itulah yang rio rasakan, ketika dengan matanya sendiri, ia melihat ify mengoleskan betadine di pelipis alvin yang terluka. Tapi gengsinya yang besar, dan mengingat baru beberapa menit yang lalu mereka adu mulut, rio pun hanya bisa menelan kekesalan itu mentah-mentah, menendang-nendangi tempat sampah, yang sesungguhnya tidak mempunyai salah apapun terhadapnya.

“Buset dah yo, itu tempat sampah abis ngelakuin apa sih sama lo ?” goda alvin, yang dengan tampang inoccentnya, membuat ia tampak sangat menikmati perhatian ify.

“Itu tadi ada kecoa disitu, jadi mau gue bunuh aja rasanya” jawab rio asal. Alvin terkekeh. Dua sahabatnya ini, memang sama saja.

Pintu uks terbuka, seorang siswi yang berparas cantik, muncul di baliknya. “Kak alvin, enggak apa-apa kan ?”

“Nah fy, berhubung cewek gue udah dateng, jadi sekarang lo mending urusin aja tuh sih rio, thanks ya..”

Ify menoleh ke arah rio, dalam hatinya ia tidak tega melihat rio seperti itu, tapi egonya yang keras, seolah menghalangi ia untuk menghampiri rio dengan segera. Ia kembali menatap alvin, dan menggeleng.

“Udah sana ah, jangan ganggu gue sama shilla..” ujar alvin santai, dan tanpa aba-aba langsung mendorong ify mendekat ke arah rio. “ Yo, si ify mau ngobatin lo tuh..” teriaknya asal.

“Kalau enggak mau, enggak usah aja” celetuk rio, tetap berlindung dibalik kegengsiannya. Ify tidak menggubris itu, ia mulai mengobati rio, tanpa suara.

“Awww..pelan bisa kali fy..” erang rio, ketika ify entah sengaja atau tidak, menekan titik yang mengeluarkan darah.

“Berani tawuran masa takut sama betadine” ejek ify. Rio mendengus pelan. Gadis di depannya ini, terlalu tangguh untuk di luluhkan begitu saja. Meski setiap kali bertemu mereka jarang akur, tapi tidak sedetikpun rio bisa berhenti untuk mengagumi ify.

“Jangan berantem lagi, lo udah kelas tiga yo, jangan sampai prestasi basket lo ketutup sama prestasi tawuran dan kenakalan lo ini, sama sekali enggak bisa dibanggain..” ify memulai lagi ceramahnya. Tapi kali ini rio memilih diam. Karena saat seperti inilah, ify terlihat berbeda dimatanya. Tampak bercahaya dan memancarkan sinar-sinar yang tidak kuasa ia tolak.

“Kasian juga sama nyokap lo, masa sampai famous gitu disekolahan gara-gara udah keseringan di panggil..”

“Fy..”

“Apa ?” ify menatap rio, yang ternyata sedang menatapnya. Untuk sesaat, mereka berhenti di tempat masing-masing, memandang ke satu titik, dimana pantulan bola mata mereka saling berbaur, dan seolah menjadi satu. Membiaskan roman-roman merah jambu yang merekah ruah, berbuncah di dalam hati mereka.

Sorot mata yang tegas dan cerdas, yang selalu menampilkan sosok ify yang nyata dan apa adanya. Yang cerewet namun berbobot. Dan sorot mata yang teduh dan menentramkan, yang selalu menggambarkan sosok rio yang bisa di andalkan. Yang bandel namun berprestasi.

“Thanks ya..” bisik rio lembut.

“Sama-sama..” balas ify manis. Untuk beberapa detik, keadaan jadi sedikit kikuk. Tanpa saling mengetahui, dua-duanya sama-sama terbayang, pancaran mata masing-masing tadi. Agar tidak terlihat gugup, ify membereskan alat-alat yang tadi ia gunakan dan memasukkannya kembali ke dalam kotak obat.

Rio memperhatikan punggung ify, rambutnya yang bergerak pelan, tertiup angin. Hal kecil yang entah kenapa terlihat begitu indah. “Ify..”

“Iya, kenapa yo ?”

“Eh..itu..” rio menggaruk tengkuknya, bibirnya tadi bergerak sendiri memanggil nama ify, dan sekarang ia tidak mengerti harus apa.

“Apa yo ? masih ada yang belum gue obatin ?”

“Enggak..enggak..itu..ehm..alvin..” sahut rio reflek, saat melihat ke arah alvin.

“Alvin kenapa ?”

“Kita gangguin alvin yuk, biar si playboy glodok itu kena batunya..” usul rio sambil tersenyum jahil, ify mengangguk setuju.

“Ohh, jadi ini vin ? terus yang kemarin anak basket itu, si agni lo kemanain ?” tanya rio setengah berteriak ke arah alvin.

“Lha, bukannya zeva ya vin ? kayanya pas di toko buku, lo perginya sama dia deh” timpal ify masang wajah tanpa dosa.

“Ya udahlah, kita berdua balik deh ya, enggak mau ganggu. Tapi nanti di kelas, kalau ditanyain angel gimana ? bilang aja lo disini sama anak kelas dua ?” sambung rio lagi. Alvin menatap mereka berdua geram, seolah siap menerkam tanpa ampun. Rio dan ify langsung saja menghambur keluar uks.

“Satu..” hitung rio sepelan mungkin. Mereka berdua masih duduk di depan uks.

“..dua..” lanjut ify.

“...tiga..” ujar keduanya kompak.

“PLAK ! KITA PUTUS KAK !”

Dan tawa rio serta ifypun, membahana, memenuhi lorong-lorong di sekitar uks.

-----

Alvin menatap rio tidak mengerti, tidak mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya itu. Rio sendiri memberikan tatapan yang tidak kalah tajamnya untuk alvin. Rahang-rahangnya mengeras, tangan kanannya mengepal, menyimpan sejuta emosinya.

“Apa ?! lo mau pukul gue ? pukul !” tantang alvin, sambil mendorong rio ke dinding.

“Jangan samain ify sama cewek-cewek lain yang bersedia jadi cewek lo !!” hardik rio kencang.

“Ify sahabat gue juga yo !! gue enggak sejahat itu !”

“Gue lihat sendiri vin ! gue lihat ify nangis di pelukan lo ! apa maksudnya ?!!”

“Bug !” sebuah hantaman kencang mendarat mulus di pipi rio. “Dengerin gue, ify mau ke jepang, beasiswa, dan dia nangis karena dia enggak ngerti gimana cara nyampaiinya ke elo, dia enggak mau pisah sama lo”

Rio mencoba mencerna kata-kata alvin, perlahan semakin ia mencoba mengendurkan emosinya, ia mulai bisa berpikir dingin. Tubuhnya merosot di dinding. “Je..jepang ?”

“Gue rasa dia belum jauh, kejar dia, jangan jadi pengecut, bilang kalau lo sayang sama dia” sahut alvin tegas, menyandang tasnya yang tadi ia jatuhkan di lantai, dan membiarkan rio seorang diri.

Butuh beberapa detik bagi rio untuk berpikir. Dan di detik yang ke sepuluh, tanpa pikir panjang lagi, dengan kecepatan ekstra ia langsung berlari, ia harus mengejar ify, harus.

“Doain gue ya vin..” ujar rio saat mendahului alvin di gerbang sekolah, alvin hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ia telah mengetahui itu sejak lama, terlalu mudah melihat cinta yang sama di mata rio ataupun ify, hanya mereka berdua yang terlalu bodoh saja hingga tidak menyadari itu.

Berlari dan terus berlari, itu yang rio bisa lakukan saat ini. Ia tidak bisa menemukan ify di halte depan sekolah tempat ify biasa menunggu metromini, jadi rio memutuskan untuk terus saja berlari, sepanjang jalur yang ia tahu, ify lalui.

Tidak peduli akan tatapan orang-orang di jalan, dan peluh yang mulai membasahi seragamnya. Rio harus meminta maaf pada ify saat ini juga. Harus saat ini, tidak bisa ditawar lagi. Di tikungan setelah lampu merah, rio melihat ify yang turun dari metromini dan berganti ke metromini yang lain, tanpa rasa lelah sedikitpun, rio terus berlari, bahkan mencoba menambah kecepatannya.

“IFY !!” panggilnya kencang, berharap ify akan mendengar, dan berhenti untuknya.

“Fy..Ify !!”

Metromini yang rio yakini, ify naiki tetap saja melaju. Namun rio tidak menyerah. Awan mendung mulai nampak, rintik-rintik air mulai menyapa bumi. Dan kaki rio tetap saja terus bergerak, meski entah telah berapa kilometer ia lalui tanpa beristirahat sedetikpun.

“IFY !!”

Dan akhirnya di depan komplek rumah ify, metromini itu berhenti, menurunkan ify, yang tidak sama sekali memandang ke arah rio. Padahal rio yakin dengan sangat, ify mengetahui keberadaannya. Gadis itu memang benar-benar berbeda, atau terlalu berego tinggi ?

“Tunggu fy..hosh..hosh..” tangan rio berhasil mencekal pergelangan tangan ify. Dan ify tetap saja, tidak mau memandang rio sedikitpun.

“Hufttt..” rio menstabilkan nafasnya dulu, merilekskan organ-organ tubuhnya yang baru saja ia ajak bergulat dengan waktu. “Gue..hhh..minta maaf..”

“Ohh, ya udah, lepasin tangan gue” sahut ify datar. Membiarkan rio terpaku shock dengan reaksi yang ia dapat. Ify berjalan menjauh dari rio, berlari-lari kecil sambil menutupi kepalanya agar tidak terkena hujan.

Tidak mau kehilangan dan dipaksa berlari lagi, rio langsung menyongsong ify, memeluknya dari belakang. “Gue enggak mau lo ke jepang..” bisiknya, lirih, dan membuat ify terdiam.

“Gue enggak bisa..gue..enggak mau jauh dari lo..” sambung rio lagi.

Ify tidak merespon apapun, ia masih saja diam. Kata-kata rio itu, serasa beban yang memaksanya untuk tetap tinggal.

“I..love..you..”

Tiga kata keramat penuh makna itu terlontar juga dari bibir rio. Di ucapkan dalam hujan yang mulai menderas. Dengan sedikit terbata, namun dalam satu tarikan nafas yang mantap dan tidak main-main. Delapan huruf yang mewakilkan lebih dari sejuta perasaan yang ada di dalam hati.

“Love you too..” balas ify, pelan, hanya bisa di dengar oleh rio dan hujan. Rio tersenyum sumringah, ia langsung saja menggendong ify dengan kedua tangannya. Berputar bersama, tertawa, seolah sedang menunjukkan pada dunia, gadis itu miliknya sekarang, saat ini, dan semoga seterusnya.

Setelah puas bermain hujan berdua, ify dan rio akhirnya memilih untuk berteduh. Rio meremas kedua tangan ify yang terasa dingin, mencoba menghangatkannya. “Mau pulang sekarang ? kayanya udah reda tuh, lagian bibir kamu juga udah putih gitu ?”

“Boleh..”

“Ya udah yo, eh tunggu..” rio berjongkok memunggungi ify.

“Mau ngapain yo ?”

“Gendong kamu sampai ke rumah..”

“Serius ?”

“Iya, cepetan naik makanya” ify menganggukan kepalanya, dan langsung naik ke punggung rio. Dan dua sejoli itu, berjalan berdua, menyusuri jalanan komplek yang basah, membiarkan udara menyelinap di antara mereka, menunjukkan pada semua bahwa mereka bisa bersatu.

“Kamu enggak capai apa, tadi udah lari dari sekolah sampai sini buat aku ?”

“Kan buat kamu, masa capai sih..”

“Huu..belum apa-apa aja udah gombal”

“Kan aku temennya alvin, sedikit banyak ketularanlah”

“Ihh, aku enggak mau ya, punya pacar playboy gitu”

“Haha, aku sih cuma buat kamu doanglah”

“Yakin ?”

“Banget”

“Sampai kapan ?”

“Sampai kapanpun. Sampai kita nikah, dan punya anak, sampai kita nikahin anak-anak kita, sampai kita jadi tua, selama itu..”

“Jauh amat kamu ngebayanginnya yo”

“Biarin. Aku janji sama kamu, aku bakal belajar yang benar, jadi orang sukses dan bahagiaan kamu selamanya”

“Amin..”

-----

Hari yang dibenci rio itu tiba, keberangkatan ify ke jepang. Kalau tidak ingat ini beasiswa dan kesempatan sekali seumur hidup, rasanya rio ingin membawa ify kabur ke suatu tempat, dan membiarkan pesawat itu terbang tanpa kekasihnya.

“Kamu beneran harus berangkat ?”

“Yo, tolong deh ya, gue aja udah muak denger pertanyaan itu, gimana ify” oceh alvin, yang bertindak sebagai supir mereka kali ini.

“Enggak usah nyamber deh vin” sahut rio kesal.

“Abisan elo yo, enggak bosen-bosen pertanyaannya itu terus”

“Coba aja kalau cewek lo mau pergi ke luar negeri, baru balik empat tahun kemudian, pasti lo bawel juga kaya gue”

“Enggak ah, motto gue kan, hilang satu dateng yang lain” jawab alvin enteng.

“Udah ah lo berdua..empat tahun lagi lo berubah dong vin, kalau gue balik kesini, udah ada satu yang lo kenalin ke gue, dan emang satu-satunya” ujar ify, membuat alvin terkekeh.

“Enggak janji ya fy..”

“Dasar ah lo..”

“Haha..udah gih, lo berdua turun disini, gue cari parkiran” perintah alvin, memposisikan mobilnya di pinggir selasar bandara. Rio langsung bergegas menurunkan koper-koper yang ify bawa dan meletakkannya di trolley. Lalu mendorongnya untuk ify.

Ify menghampiri agen beasiswa yang telah menunggunya, rio hanya memperhatikan itu, tidak lama lagi, mereka akan berpisah, dan baru bisa bertemu bertahun-tahun kemudian. Sesuatu yang baru rio bayangkan saja, sudah membuatnya merasa ingin menyerah.

“Aku kayanya harus masuk sekarang deh, ada yang masih harus diurus lagi di dalam”

“Enggak bisa nanti ? nunggu alvin gitu dulu kek..” sahut rio mencari alasan untuk terus bisa menahan ify.

“Aku harus masuk yo..”

“Please, sebentar lagi..” pinta rio sedikit memelas.

“Kita kan udah obrolin ini sebelumnya, jangan bikin aku berat kaya gini dong, aku kan juga belajar disana”

Rio menyerah, ify tetaplah ify. Ia memegang kedua pipi ify, lalu mengecup kening ify lembut, cukup lama, cukup membuat orang-orang yang ada disekitar mereka berhenti sejenak untuk mengamati itu.

“Aku sayang sama kamu, sayang banget, aku berangkat ya..” tidak ingin air matanya menetes dan membuat suasana ini menjadi mengharu biru, ify segera beranjak untuk menjemput mimpinya.

“Aku bakal jemput kamu disini fy, empat tahun lagi, aku bakal menunggu kamu fy, menunggu kamu..” ujar rio lantang, mengiringi langkah kaki ify yang menjauh.

Sepeninggal ify, rio duduk di bangku panjang, tangannya merogoh sebuah kotak berwarna biru yang baru saja ia keluarkan dari kantong celananya.

“Lho, ify mana yo ?” tanya alvin yang baru muncul.

“Udah berangkat..”

“Kok enggak nungguin gue..” gerutu alvin, ikut duduk disampinng rio. “Lho, itu, enggak jadi lo kasih ?”

“Enggak..” rio menggeleng. “Gue rasa sekarang bukan waktu yang tepat, empat tahun lagi, gue akan menanti empat tahun lagi vin”

“Sip bro, apapun, gue dukung elo” sahut alvin sambil menepuk-nepuk pundak rio.

-----

Tidak ada yang berubah, itulah yang ify lihat. Semua tetap sama, malah bertambah tidak karuan. Empat tahun menetap di negeri modern penuh teknologi, membuat ify jadi agak lebih kritis melihat pembangunan negaranya sendiri.

Ia menoleh kesana-kemari, mencoba melihat, kali-kali saja menemukan sosok rio yang empat tahun ini membuatnya rindu hampir setiap saat. Tapi diantara puluhan orang yang berdiri, tidak satupun yang terasa familiar dimatanya.

“Fy..” ify memutar badannya. Senyumnya melebar, dan dengan segera ia langsung memeluk orang yang menyapanya itu, tidak banyak berubah, apalagi mata sipitnya.

“ALVIN ! aaaa..gue kangen banget sama lo..”

“Gue juga..”

“Rio mana ?”

“Ayo ikut gue..” ajak alvin, sambil mengambil alih trolley ify.

“Kemana ? rio janji nunggu gue disini, jemput gue disini”

“Udah ayo ikut aja”

“Huu..dasar tuh orang, ingkar janji..” celetuk ify kesal. Alvin hanya tersenyum kecil, atau tersenyum hampa ?

Mobil alvin melaju menembus jalanan yang sudah lama tidak ify lewati. Tidak bosan-bosannya ify bertanya ke alvin, tentang hampir semua gedung baru yang bermunculan di kota ini.

“Orang tua lo, kapan datang dari bandung fy ?”

“Harusnya sore ini mereka udah sampai sini vin”

“Ohh..” alvin yang selama ini pintar berkata-kata bila dihadapan seorang wanita, kali ini terasa mati kutu dihadapan ify, bukan karena penampilan ify, yang berubah layaknya seorang model. Namun karena ia tidak mengerti, bagaimana cara menjelaskan semuanya pada ify. Ini terlalu rumit.

“Vin, kok kita kesini ?” tanya ify bingung, alvin hanya tersenyum lirih.

“Ayo fy..” tanpa menjawab pertanyaan ify, alvin turun dari mobilnya, dan segera menggandeng ify, membimbingnya sambil berharap dalam hati, akan ada bantuan yang membimbingnya untuk menyampaikan semua ini.

“Kita ngapain vin ?” ify menghentikan langkahnya. “Ini..”

“Ssstt..” alvin meletakkan telunjuknya di bibir ify. “Sebentar lagi..”

Dan mereka berdua berhenti di satu posisi. Bayang-bayang air langsung tercipta di mata ify, ia berkali-kali memandang alvin dan sebuah nisan putih dihadapannya.

“Vin..”

“Rio udah enggak ada, sejak setahun lalu” ujar alvin pelan, dan pedih. Ify langsung jatuh, berlutut di makam rio. Dengan gemetar, tangannya berniat untuk menyentuh nisan berukirkan nama orang yang selama empat tahun ini, tidak sedetikpun absen ia nantikan kehadirannya dalam setiap mimpinya.

“Ini bercanda kan vin ? kalian pasti mau ngerjain gue ? iyakan ?”

“Fy..”

“Rio udah janji mau nungguin gue vin, rio mau jemput gue !!” ify mulai kehilangan kendalinya.

“Dia jadi aktivis kampus, dan dia tetap rio yang emosinya mudah terpancing. Kampusnya terlibat tawuran sama kampus lain, dan dia jadi salah satu korbannya..”

“Stop vin ! cukup !!” teriak ify menutup kedua telinganya.

“Kita semua sengaja enggak mau ngasih tahu lo, sengaja nunggu kepulangan lo fy, maaf..” alvin ikut berlutut di samping ify, memeluk sahabatnya itu.

“I..ini..konyol vin..dia..dia masih tetap ngirim email ke gue..dia..”

“Itu gue fy, gue..”

“Enggak ! itu rio ! rio..” alvin mengeratkan pelukannya, mencoba meredam ify yang terus meronta dan berteriak-teriak.

“Ada satu permintaannya dia, dan izinkan gue untuk memenuhi janji gue ke sahabat gue fy..” bisik alvin. Ify tidak menggubrisnya sama sekali. Matanya hanya tertuju pada segunduk tanah di hadapannya.

Petikan dawai kesedihan, menyeruak pelan, memenuhi sudut-sudut hati. Menyisakan linangan tangis air mata, serta berton-ton kesedihan yang seolah tidak akan berujung. Semua terasa begitu hambar, seakan-akan mati rasa.

***

“...dan sahabat laki-laki itu..” papanya menoleh, dan terlihat malaikat kecilnya itu telah terlelap, menuju dunia mimpinya.

“Alvin..”

“Kamu udah pulang fy ? via ketiduran disini, biar aku gendong ke kamarnya dulu”

Ify tersenyum tipis, ia mengecup pipi putih via. Lalu duduk di hadapan meja riasnya, membersihkan sisa make up yang melekat di wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, alvin telah kembali lagi ke kamar mereka, duduk di ranjang.

“Hebat kamu vin, bisa bikin via tidur sampai sepulas itu”

“Aku baru nyeritain dia sebuah cerita”

“Dongeng putri-putri kesukaannya ?”

“Cerita tentang putri ify dan pangeran rio” ujar alvin pelan. Namun cukup untuk membuat ify menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah alvin.

“Vin..”

“Ada saatnya, via akan tahu, kemana kamu setiap tanggal 10, dan biarkan aku menceritakan itu dari awal fy” ify menatap alvin yang tersenyum ke arahnya, tapi menimbulkan rasa bersalah di hatinya.

“Jadi gimana makam rio ? tetap bersih kan ?” tanya alvin santai.

“Maafin aku vin”

“Buat apa fy ?”

“Untuk semuanya, tujuh tahun, kamu terlalu baik”

“Aku menjalankan amanat sahabatku fy..” lagi-lagi alvin tersenyum. Ia berdiri dan mendekat ke arah ify, menumpukan kedua tangannya di bahu ify. “Mungkin ini unik, mungkin kamu akan selalu mengunjungi makam rio setiap tanggal 10 untuk memperingati hari jadian kalian, mungkin kamu akan selalu mengingat rio sebagai yang pertama, via, baru aku, mungkin kamu akan lebih mengingat makanan kesukaan rio ketimbang aku..tapi aku tidak peduli..anggap saja ini persahabatan yang abadi, dan seorang sahabat tidak akan pernah berhenti di tengah jalan untuk meninggalkan sahabatnya..”

“Kamu..”

“Aku mau bikin kopi, kamu mau ?” ify hanya bisa menggeleng. Alvin mengangguk kecil dan segera keluar dari kamar. Menuju dapur dan menyeduh kopi hitamnya, rasa pahit, tempat pelariannya.

Di halaman belakang rumah, alvin duduk sambil meniup-niup kopinya. Ia sukses sebagai seorang pengacara muda sekarang, mempunyai rumah yang besar, mobil yang bisa dibilang mewah, anak yang lucu dan pintar, dan istri yang cantik. Meski bagian terakhirnya, alvin harus rela berbagi dengan sebuah kenangan yang sampai kapanpun ia berusaha, tidak akan mati.

“Gue udah menjaga ify semampu gue yo, gue udah menyematkan cincin itu seperti yang lo minta, dan sekarang, gue harap lo bisa bahagia disana yo..”

Alvin menyesap kopinya, membiarkan rasa pahit itu memenuhi rongga-rongga mulutnya. Dalam kesendiriannya itu, ia tersenyum lirih. Ini bukan terlalu baik seperti yang ify bilang. Ini hanya sebuah janji. Dan alvin percaya, meski hingga ujung nanti, keadaan akan tetap begini. Setidaknya ia telah berusaha. Lagipula ada via, alasan paling kuat, bagi alvin untuk terus bertahan.

..bertahan, berdiri di satu titik, terus menunggu, dan kadang menyelipkan harapan di dalamnya, menempuh ribuan kilometer, menerjang batas-batas tak terjamah, menyembunyikan segala rasa sakit di dalam hati..bertahan, tidak memerlukan keahlian apapun, hanya kesetiaan, dan sedikit pengorbanan, menunggu meski mungkin yang ditunggu tak akan pernah hadir..bertahan, manusiawi, kadang terlihat bodoh, dan menggelikan..bertahan, tidak peduli seperti apa hari esok, selama kaki masih mampu berdiri tegak..bertahan, untuk yang indah pada waktunya..