Jumat, 03 Desember 2010

bertahan (cerpen)

Gadis kecil itu menggelembungkan pipinya, membuatnya terlihat bulat, sambil mengamit boneka beruang kecil di dekapan tangan kirinya, ia berdiri di ambang pintu.


“Mama mana pa ?” tanya gadis itu ketus, dan kembali menggelembungkan pipinya. Papanya yang sejak tadi membaca koran, baru sadar akan kehadiran anak perempuannya itu.

“Mama pergi, kamu kenapa via ? sini deket papa..”

Dengan berlari kecil, via mendekati papanya dan duduk di sampingnya. “Via sebel sama iel, via enggak mau temenan lagi sama iel..” ujarnya polos, khas anak-anak.

“Kok gitu ? via sama iel kan sahabatan, jadi enggak boleh saling benci..”

“Tapi iel jahat sama via”

“Iel nakalin via ?” via itu menggeleng.

“Iel bikin via nangis ?” lagi-lagi via menggeleng.

“Terus iel bikin salah apa sama via ?”

“Tadikan di sekolah, acara tukeran bekal, terus via udah bawain roti buat iel, tapi iel malah ngasih bekalnya ke zahra, terus seharian mereka ngobrol berdua, via enggak boleh ikutan”

“Via suka ya sama iel ?” goda papanya.

“Ihh, papa, apaan sih, kata bu guru, anak kecil enggak boleh suka-sukaan, via cuma enggak suka aja, zahra ngerebut ielnya via”

Papanya tersenyum penuh arti, menggendong via lalu meletakkan di pangkuannya. “Itu via tahu, lagian via enggak boleh egois, semua itu teman, via, iel, zahra, kalau main ya harus sama-sama..”

“Tapi via enggak suka lihat iel berdua sama zahra”

“Kok gitu sih ? anak papa enggak boleh ah, jadi egois gitu..”

“Kan via itu putri, iel pangerannya, kalau pangerannya direbut, nanti via sama siapa ?” papanya terkekeh pelan, ia mengusap rambut via yang tergerai.

“Tuh kan, berarti via suka sama iel..”

“Enggak papa, via enggak suka. Tapi via sama iel itu, putri sama pangeran, enggak bisa dipisahin” sahut via masih keukeuh dengan jawabannya.

“Via tahu enggak, kadang apa yang manusia rencanain, belum tentu sesuai sama apa yang Tuhan rencanain”

“Beneran ? kan kata papa, kalau kita rajin berdoa dan jadi anak baik, Tuhan akan sayang sama kita dan ngabulin semua doa kita, iyakan ?”

Papanya menatap mata via yang bening, putri tunggalnya itu, memang cerdas. Mata yang sama seperti mata ibunya, sifat ingin tahu yang sama seperti ibunya pula, dan ego yang dimilikinya itu, rasa-rasanya juga mirip dengan ibunya.

“Via, mau dengerin cerita papa enggak ?”

“Cerita apa ? tentang putri yang cantik sama pangeran berkuda putih ya ?”

“Haha..mau enggak nih ?”

“Mau..”

“Ini cerita tentang...”

***

Suara riuh penonton, menjadi pengiring penuh semangat. Teriakan serta yel-yel yang terus berkumandang tanpa henti, bagai genderang yang berisi energi tak terbatas. Pertandingan basket antar sma sejabodetabek, memang selalu begini.

“Gimana fy, udah berapa-berapa ?” seorang laki-laki dengan mata sipit, dan masih berbalut seragam bola, duduk di samping seorang gadis manis, yang dari tadi termasuk yang paling kencang, dalam soal teriak-meneriaki.

“Eh elo vin, udah 77-68, buat sekolah kita..” sahut ify menoleh sekilas, lalu kembali memperhatikan pertandingan.

“Bagus deh, rio udah masukin berapa kali ?”

“20an lebihlah, hampir 30 malah kayanya”

“Sadis tuh bocah, abis ini kita ditraktir nih fy..”

“Yoaa..” ujar ify sambil mengacungkan jempolnya, dan baru-baru benar menoleh ke arah alvin. “Lho, vin kok elo pakai...? ya ampun !! gue lupa lo juga tanding, gimana-gimana ?!!” sambung ify heboh sendiri.

Alvin menutup kedua telingannya, mendengar teriakan ify. “Santai fy..”

“Hehe...jadi gimana pertandingan lo ?”

“Lumayanlah, 3-0”

“Menang ?”

“Iya dong”

“Siapa yang ngegolin ?”

“Gue..”

“Tiga-tiganya ?”

“Iya”

Ify menatap alvin tidak percaya, bukan soal gol yang alvin buat, tapi cara alvin menyampaikan berita itu, yang datar-datar saja. “Itu sih bukan lumayan vin, itu namanya hebat..aaaa..selamat yaaa..”

“Haha..oke-oke. Entar pas final, lo sama rio wajib nonton ya, enggak mau tahu gue”

“Sip. Asik, gue ditraktir dobel nih..”

“Dih, siapa juga yang mau nraktir lo..”

“Ya elo sama riolah hahaha..”

-----

Dua orang laki-laki itu sama-sama diam, meski mata mereka mengisyaratkan bahwa mereka berdua tidak suka ada di tempat ini, bosan lebih tepatnya. Penampilan mereka sama-sama berantakan, rambut yang acak-acakkan, luka lebam di wajah mereka, serta noda darah di kemeja putih mereka yang keluar dan tidak terkancing rapi.

“Kalian itu mau jadi apa sih ?!! kerjaannya berantem terus ! bangga kalau bisa ikut tawuran ?! bangga !”

“Jawab saya !!” seorang laki-laki tua di hadapan mereka, yang mempunyai kumis melingkar menyaingi kumis pak raden, dan selalu dihadiahi predikat sebagai guru tergalak dan tersangar oleh setiap angkatan.

“Mereka yang ngejek sekolah kita duluan pak, saya enggak bisa tinggal diam dong kalau sekolah saya di injak-injak” sahut seorang anak yang duduk di sisi kanan.

“Tapi bukan dengan cara tawuran seperti ini mario !! mereka itu hanya anak-anak dari sekolah negeri pinggiran, bukan sekolah unggulan seperti kita ! gunakan dong akal sehat kamu !!”

“Akal sehat saya bilang, saya harus ngelawan mereka pak !” timpal seorang yang satunya lagi.

“Saya belum kasih kamu kesempatan buat ngomong alvin !”

“Tapi saya mau ngomong pak !”

“Udahlah pak, udah hampir satu jam kita duduk disini, dengerin bapak ngoceh kesana-kemari, bapak mau ngasih kita hukuman apa ? skorsing ?” sela rio, ia benar-benar sudah muak terus-terusan ada disini.

“Jangan kurang ajar ya kamu !”

“Kalau bapak tidak ingat, sama prestasi kalian berdua di bidang basket dan bola, rasanya bapak ingin sekali mengeluarkan kalian dari sekolah ini..”

“Kalau mau ngeluarin saya ya keluarin aja” potong alvin.

“Diam kamu alvin !”

“Baiklah, keputusan bapak untuk kelakuan kalian kali ini, bapak akan menskors kalian selama tiga hari ke depan, dan besok panggil orang tua kalian kemari. Sekarang kalian boleh keluar dari ruangan saya..”

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, dua orang sahabat itu keluar begitu saja. Terlihat ify yang sepertinya sudah menunggu sejak tadi seperti biasa, langsung menghampiri mereka.

“Kalian tuh ya, kapan sih mau sadarnya ? ini udah ke 54 kalinya kalian masuk ke ruang BP, dan yang ke 14kalinya selama kalian kelas tiga ini”

”Dan sampai kapan sih fy elo mau ngitungin berapa kali kita udah masuk BP ?” tanya rio tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini.

“Ya gue pengen tahu aja, sejauh apa sih, sepak terjang lo berdua di kelas tiga ini, enggak lulus aja lo berdua, tahu rasa deh”

“Kalau gitu, terus hitung ya fy, masih bakal panjang kayanya tuh daftar lo” celetuk alvin dengan cengirannya yang khas.

“Gila ah lo berdua, gue enggak abis pikir deh. Apa sih motif kalian masih tawuran dan nyari gara-gara kaya gini ? empat bulan lagi kita UN ! ujian nasional !” ujar ify sambil mengacungkan empat jarinya, semangat.

“Untung kalian siswa berprestasi, jadi selalu dimaafin. Tapi jangan ngelunjak gini juga dong. Lo enggak inget apa yo, ultimatum beberapa guru tentang nilai lo yang kurang di pelajaran mereka, itu bahaya banget tahu enggak..” ify masih saja melanjutkan orasinya, dan kali ini, seperti biasa, ia menjadikan rio sebagai objek pembahasannya.

“Kenapa selalu gue sih fy ? kenapa lo selalu ribet mikirin tentang gue ?!”

“Ya karena elo itu males, dan harus di ingetin dulu !” alvin hanya bisa terkikik menahan tawa, melihat dua sahabatnya ini mulai beradu argumen sepanjang koridor. Ia sendiri lebih memilih menebar senyumnya untuk setiap siswi yang ia temui.

“....kalau elo pintar gue juga enggak akan capai-capai peduliin nilai-nilai lo yang ada di bawah standar itu !”

“Jadi lo mau bilang gue bego fy ?!”

“Kan udah gue bilang tadi, lo itu malas. Nyatanya pas kelas satu, lo pernah kan ngalahin nilai matematik gue, walaupun cuma sekali sih, tapi tambah kesini, lo tuh malah tambah ancur, mau jadi apa sih lo ?!”

“Urusan gue dong mau jadi apa, kok elo yang ribet ? emak bapak gue aja santai..”

“Lo itu laki-laki, laki-laki itu bakal jadi tulang punggung keluarga, tapi kalau laki-lakinya kaya lo sih, susah banget deh di harepinnya”

“Udah ah, enggak akan selesai kita debat ! bibir gue berdarah, nyut-nyutan, dan malah lo ajakin kaya gini ! sekali-kali sama alvin kek..” gerutu rio kesal.

“Alvin kan udah punya cewe-cewenya yang banyak itu, buat ngurusin dia, beda sama lo..”

“Apa...”

“Eits, apa tuh tadi nama gue disebut-sebut ?” alvin memotong kata-kata rio, menyelinap di antara dua orang itu, menghentikan perdebatan mereka.

“Tau ah, gue mau balik ke kelas aja..”

“Ya elah fy, udah tinggal 20menit lagi bel, nanggung. Enggak ikut pelajaran sekali, enggak akan bikin ranking satu lo yang abadi itu lepas kok..” tahan alvin.

“Sekali apanya ? setiap kalian masuk BP, gue pasti cabut !”

“Emang kita yang nyuruh..” cibir rio, cari perkara. Untung alvin buru-buru, merangkul ify, dan memberi jarak yang cukup diantara ify dan rio.

“Udah-udah, temenin kita aja ke uks ya ? kalau bukan lo, siapa dong yang bakal ngobatin kita..” bujuk alvin, setengah memaksa, karena ia langsung saja menyeret ify agar berjalan bersamanya, dan memberi kode ke arah rio agar mengikuti mereka.

Panas. Itulah yang rio rasakan, ketika dengan matanya sendiri, ia melihat ify mengoleskan betadine di pelipis alvin yang terluka. Tapi gengsinya yang besar, dan mengingat baru beberapa menit yang lalu mereka adu mulut, rio pun hanya bisa menelan kekesalan itu mentah-mentah, menendang-nendangi tempat sampah, yang sesungguhnya tidak mempunyai salah apapun terhadapnya.

“Buset dah yo, itu tempat sampah abis ngelakuin apa sih sama lo ?” goda alvin, yang dengan tampang inoccentnya, membuat ia tampak sangat menikmati perhatian ify.

“Itu tadi ada kecoa disitu, jadi mau gue bunuh aja rasanya” jawab rio asal. Alvin terkekeh. Dua sahabatnya ini, memang sama saja.

Pintu uks terbuka, seorang siswi yang berparas cantik, muncul di baliknya. “Kak alvin, enggak apa-apa kan ?”

“Nah fy, berhubung cewek gue udah dateng, jadi sekarang lo mending urusin aja tuh sih rio, thanks ya..”

Ify menoleh ke arah rio, dalam hatinya ia tidak tega melihat rio seperti itu, tapi egonya yang keras, seolah menghalangi ia untuk menghampiri rio dengan segera. Ia kembali menatap alvin, dan menggeleng.

“Udah sana ah, jangan ganggu gue sama shilla..” ujar alvin santai, dan tanpa aba-aba langsung mendorong ify mendekat ke arah rio. “ Yo, si ify mau ngobatin lo tuh..” teriaknya asal.

“Kalau enggak mau, enggak usah aja” celetuk rio, tetap berlindung dibalik kegengsiannya. Ify tidak menggubris itu, ia mulai mengobati rio, tanpa suara.

“Awww..pelan bisa kali fy..” erang rio, ketika ify entah sengaja atau tidak, menekan titik yang mengeluarkan darah.

“Berani tawuran masa takut sama betadine” ejek ify. Rio mendengus pelan. Gadis di depannya ini, terlalu tangguh untuk di luluhkan begitu saja. Meski setiap kali bertemu mereka jarang akur, tapi tidak sedetikpun rio bisa berhenti untuk mengagumi ify.

“Jangan berantem lagi, lo udah kelas tiga yo, jangan sampai prestasi basket lo ketutup sama prestasi tawuran dan kenakalan lo ini, sama sekali enggak bisa dibanggain..” ify memulai lagi ceramahnya. Tapi kali ini rio memilih diam. Karena saat seperti inilah, ify terlihat berbeda dimatanya. Tampak bercahaya dan memancarkan sinar-sinar yang tidak kuasa ia tolak.

“Kasian juga sama nyokap lo, masa sampai famous gitu disekolahan gara-gara udah keseringan di panggil..”

“Fy..”

“Apa ?” ify menatap rio, yang ternyata sedang menatapnya. Untuk sesaat, mereka berhenti di tempat masing-masing, memandang ke satu titik, dimana pantulan bola mata mereka saling berbaur, dan seolah menjadi satu. Membiaskan roman-roman merah jambu yang merekah ruah, berbuncah di dalam hati mereka.

Sorot mata yang tegas dan cerdas, yang selalu menampilkan sosok ify yang nyata dan apa adanya. Yang cerewet namun berbobot. Dan sorot mata yang teduh dan menentramkan, yang selalu menggambarkan sosok rio yang bisa di andalkan. Yang bandel namun berprestasi.

“Thanks ya..” bisik rio lembut.

“Sama-sama..” balas ify manis. Untuk beberapa detik, keadaan jadi sedikit kikuk. Tanpa saling mengetahui, dua-duanya sama-sama terbayang, pancaran mata masing-masing tadi. Agar tidak terlihat gugup, ify membereskan alat-alat yang tadi ia gunakan dan memasukkannya kembali ke dalam kotak obat.

Rio memperhatikan punggung ify, rambutnya yang bergerak pelan, tertiup angin. Hal kecil yang entah kenapa terlihat begitu indah. “Ify..”

“Iya, kenapa yo ?”

“Eh..itu..” rio menggaruk tengkuknya, bibirnya tadi bergerak sendiri memanggil nama ify, dan sekarang ia tidak mengerti harus apa.

“Apa yo ? masih ada yang belum gue obatin ?”

“Enggak..enggak..itu..ehm..alvin..” sahut rio reflek, saat melihat ke arah alvin.

“Alvin kenapa ?”

“Kita gangguin alvin yuk, biar si playboy glodok itu kena batunya..” usul rio sambil tersenyum jahil, ify mengangguk setuju.

“Ohh, jadi ini vin ? terus yang kemarin anak basket itu, si agni lo kemanain ?” tanya rio setengah berteriak ke arah alvin.

“Lha, bukannya zeva ya vin ? kayanya pas di toko buku, lo perginya sama dia deh” timpal ify masang wajah tanpa dosa.

“Ya udahlah, kita berdua balik deh ya, enggak mau ganggu. Tapi nanti di kelas, kalau ditanyain angel gimana ? bilang aja lo disini sama anak kelas dua ?” sambung rio lagi. Alvin menatap mereka berdua geram, seolah siap menerkam tanpa ampun. Rio dan ify langsung saja menghambur keluar uks.

“Satu..” hitung rio sepelan mungkin. Mereka berdua masih duduk di depan uks.

“..dua..” lanjut ify.

“...tiga..” ujar keduanya kompak.

“PLAK ! KITA PUTUS KAK !”

Dan tawa rio serta ifypun, membahana, memenuhi lorong-lorong di sekitar uks.

-----

Alvin menatap rio tidak mengerti, tidak mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya itu. Rio sendiri memberikan tatapan yang tidak kalah tajamnya untuk alvin. Rahang-rahangnya mengeras, tangan kanannya mengepal, menyimpan sejuta emosinya.

“Apa ?! lo mau pukul gue ? pukul !” tantang alvin, sambil mendorong rio ke dinding.

“Jangan samain ify sama cewek-cewek lain yang bersedia jadi cewek lo !!” hardik rio kencang.

“Ify sahabat gue juga yo !! gue enggak sejahat itu !”

“Gue lihat sendiri vin ! gue lihat ify nangis di pelukan lo ! apa maksudnya ?!!”

“Bug !” sebuah hantaman kencang mendarat mulus di pipi rio. “Dengerin gue, ify mau ke jepang, beasiswa, dan dia nangis karena dia enggak ngerti gimana cara nyampaiinya ke elo, dia enggak mau pisah sama lo”

Rio mencoba mencerna kata-kata alvin, perlahan semakin ia mencoba mengendurkan emosinya, ia mulai bisa berpikir dingin. Tubuhnya merosot di dinding. “Je..jepang ?”

“Gue rasa dia belum jauh, kejar dia, jangan jadi pengecut, bilang kalau lo sayang sama dia” sahut alvin tegas, menyandang tasnya yang tadi ia jatuhkan di lantai, dan membiarkan rio seorang diri.

Butuh beberapa detik bagi rio untuk berpikir. Dan di detik yang ke sepuluh, tanpa pikir panjang lagi, dengan kecepatan ekstra ia langsung berlari, ia harus mengejar ify, harus.

“Doain gue ya vin..” ujar rio saat mendahului alvin di gerbang sekolah, alvin hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Ia telah mengetahui itu sejak lama, terlalu mudah melihat cinta yang sama di mata rio ataupun ify, hanya mereka berdua yang terlalu bodoh saja hingga tidak menyadari itu.

Berlari dan terus berlari, itu yang rio bisa lakukan saat ini. Ia tidak bisa menemukan ify di halte depan sekolah tempat ify biasa menunggu metromini, jadi rio memutuskan untuk terus saja berlari, sepanjang jalur yang ia tahu, ify lalui.

Tidak peduli akan tatapan orang-orang di jalan, dan peluh yang mulai membasahi seragamnya. Rio harus meminta maaf pada ify saat ini juga. Harus saat ini, tidak bisa ditawar lagi. Di tikungan setelah lampu merah, rio melihat ify yang turun dari metromini dan berganti ke metromini yang lain, tanpa rasa lelah sedikitpun, rio terus berlari, bahkan mencoba menambah kecepatannya.

“IFY !!” panggilnya kencang, berharap ify akan mendengar, dan berhenti untuknya.

“Fy..Ify !!”

Metromini yang rio yakini, ify naiki tetap saja melaju. Namun rio tidak menyerah. Awan mendung mulai nampak, rintik-rintik air mulai menyapa bumi. Dan kaki rio tetap saja terus bergerak, meski entah telah berapa kilometer ia lalui tanpa beristirahat sedetikpun.

“IFY !!”

Dan akhirnya di depan komplek rumah ify, metromini itu berhenti, menurunkan ify, yang tidak sama sekali memandang ke arah rio. Padahal rio yakin dengan sangat, ify mengetahui keberadaannya. Gadis itu memang benar-benar berbeda, atau terlalu berego tinggi ?

“Tunggu fy..hosh..hosh..” tangan rio berhasil mencekal pergelangan tangan ify. Dan ify tetap saja, tidak mau memandang rio sedikitpun.

“Hufttt..” rio menstabilkan nafasnya dulu, merilekskan organ-organ tubuhnya yang baru saja ia ajak bergulat dengan waktu. “Gue..hhh..minta maaf..”

“Ohh, ya udah, lepasin tangan gue” sahut ify datar. Membiarkan rio terpaku shock dengan reaksi yang ia dapat. Ify berjalan menjauh dari rio, berlari-lari kecil sambil menutupi kepalanya agar tidak terkena hujan.

Tidak mau kehilangan dan dipaksa berlari lagi, rio langsung menyongsong ify, memeluknya dari belakang. “Gue enggak mau lo ke jepang..” bisiknya, lirih, dan membuat ify terdiam.

“Gue enggak bisa..gue..enggak mau jauh dari lo..” sambung rio lagi.

Ify tidak merespon apapun, ia masih saja diam. Kata-kata rio itu, serasa beban yang memaksanya untuk tetap tinggal.

“I..love..you..”

Tiga kata keramat penuh makna itu terlontar juga dari bibir rio. Di ucapkan dalam hujan yang mulai menderas. Dengan sedikit terbata, namun dalam satu tarikan nafas yang mantap dan tidak main-main. Delapan huruf yang mewakilkan lebih dari sejuta perasaan yang ada di dalam hati.

“Love you too..” balas ify, pelan, hanya bisa di dengar oleh rio dan hujan. Rio tersenyum sumringah, ia langsung saja menggendong ify dengan kedua tangannya. Berputar bersama, tertawa, seolah sedang menunjukkan pada dunia, gadis itu miliknya sekarang, saat ini, dan semoga seterusnya.

Setelah puas bermain hujan berdua, ify dan rio akhirnya memilih untuk berteduh. Rio meremas kedua tangan ify yang terasa dingin, mencoba menghangatkannya. “Mau pulang sekarang ? kayanya udah reda tuh, lagian bibir kamu juga udah putih gitu ?”

“Boleh..”

“Ya udah yo, eh tunggu..” rio berjongkok memunggungi ify.

“Mau ngapain yo ?”

“Gendong kamu sampai ke rumah..”

“Serius ?”

“Iya, cepetan naik makanya” ify menganggukan kepalanya, dan langsung naik ke punggung rio. Dan dua sejoli itu, berjalan berdua, menyusuri jalanan komplek yang basah, membiarkan udara menyelinap di antara mereka, menunjukkan pada semua bahwa mereka bisa bersatu.

“Kamu enggak capai apa, tadi udah lari dari sekolah sampai sini buat aku ?”

“Kan buat kamu, masa capai sih..”

“Huu..belum apa-apa aja udah gombal”

“Kan aku temennya alvin, sedikit banyak ketularanlah”

“Ihh, aku enggak mau ya, punya pacar playboy gitu”

“Haha, aku sih cuma buat kamu doanglah”

“Yakin ?”

“Banget”

“Sampai kapan ?”

“Sampai kapanpun. Sampai kita nikah, dan punya anak, sampai kita nikahin anak-anak kita, sampai kita jadi tua, selama itu..”

“Jauh amat kamu ngebayanginnya yo”

“Biarin. Aku janji sama kamu, aku bakal belajar yang benar, jadi orang sukses dan bahagiaan kamu selamanya”

“Amin..”

-----

Hari yang dibenci rio itu tiba, keberangkatan ify ke jepang. Kalau tidak ingat ini beasiswa dan kesempatan sekali seumur hidup, rasanya rio ingin membawa ify kabur ke suatu tempat, dan membiarkan pesawat itu terbang tanpa kekasihnya.

“Kamu beneran harus berangkat ?”

“Yo, tolong deh ya, gue aja udah muak denger pertanyaan itu, gimana ify” oceh alvin, yang bertindak sebagai supir mereka kali ini.

“Enggak usah nyamber deh vin” sahut rio kesal.

“Abisan elo yo, enggak bosen-bosen pertanyaannya itu terus”

“Coba aja kalau cewek lo mau pergi ke luar negeri, baru balik empat tahun kemudian, pasti lo bawel juga kaya gue”

“Enggak ah, motto gue kan, hilang satu dateng yang lain” jawab alvin enteng.

“Udah ah lo berdua..empat tahun lagi lo berubah dong vin, kalau gue balik kesini, udah ada satu yang lo kenalin ke gue, dan emang satu-satunya” ujar ify, membuat alvin terkekeh.

“Enggak janji ya fy..”

“Dasar ah lo..”

“Haha..udah gih, lo berdua turun disini, gue cari parkiran” perintah alvin, memposisikan mobilnya di pinggir selasar bandara. Rio langsung bergegas menurunkan koper-koper yang ify bawa dan meletakkannya di trolley. Lalu mendorongnya untuk ify.

Ify menghampiri agen beasiswa yang telah menunggunya, rio hanya memperhatikan itu, tidak lama lagi, mereka akan berpisah, dan baru bisa bertemu bertahun-tahun kemudian. Sesuatu yang baru rio bayangkan saja, sudah membuatnya merasa ingin menyerah.

“Aku kayanya harus masuk sekarang deh, ada yang masih harus diurus lagi di dalam”

“Enggak bisa nanti ? nunggu alvin gitu dulu kek..” sahut rio mencari alasan untuk terus bisa menahan ify.

“Aku harus masuk yo..”

“Please, sebentar lagi..” pinta rio sedikit memelas.

“Kita kan udah obrolin ini sebelumnya, jangan bikin aku berat kaya gini dong, aku kan juga belajar disana”

Rio menyerah, ify tetaplah ify. Ia memegang kedua pipi ify, lalu mengecup kening ify lembut, cukup lama, cukup membuat orang-orang yang ada disekitar mereka berhenti sejenak untuk mengamati itu.

“Aku sayang sama kamu, sayang banget, aku berangkat ya..” tidak ingin air matanya menetes dan membuat suasana ini menjadi mengharu biru, ify segera beranjak untuk menjemput mimpinya.

“Aku bakal jemput kamu disini fy, empat tahun lagi, aku bakal menunggu kamu fy, menunggu kamu..” ujar rio lantang, mengiringi langkah kaki ify yang menjauh.

Sepeninggal ify, rio duduk di bangku panjang, tangannya merogoh sebuah kotak berwarna biru yang baru saja ia keluarkan dari kantong celananya.

“Lho, ify mana yo ?” tanya alvin yang baru muncul.

“Udah berangkat..”

“Kok enggak nungguin gue..” gerutu alvin, ikut duduk disampinng rio. “Lho, itu, enggak jadi lo kasih ?”

“Enggak..” rio menggeleng. “Gue rasa sekarang bukan waktu yang tepat, empat tahun lagi, gue akan menanti empat tahun lagi vin”

“Sip bro, apapun, gue dukung elo” sahut alvin sambil menepuk-nepuk pundak rio.

-----

Tidak ada yang berubah, itulah yang ify lihat. Semua tetap sama, malah bertambah tidak karuan. Empat tahun menetap di negeri modern penuh teknologi, membuat ify jadi agak lebih kritis melihat pembangunan negaranya sendiri.

Ia menoleh kesana-kemari, mencoba melihat, kali-kali saja menemukan sosok rio yang empat tahun ini membuatnya rindu hampir setiap saat. Tapi diantara puluhan orang yang berdiri, tidak satupun yang terasa familiar dimatanya.

“Fy..” ify memutar badannya. Senyumnya melebar, dan dengan segera ia langsung memeluk orang yang menyapanya itu, tidak banyak berubah, apalagi mata sipitnya.

“ALVIN ! aaaa..gue kangen banget sama lo..”

“Gue juga..”

“Rio mana ?”

“Ayo ikut gue..” ajak alvin, sambil mengambil alih trolley ify.

“Kemana ? rio janji nunggu gue disini, jemput gue disini”

“Udah ayo ikut aja”

“Huu..dasar tuh orang, ingkar janji..” celetuk ify kesal. Alvin hanya tersenyum kecil, atau tersenyum hampa ?

Mobil alvin melaju menembus jalanan yang sudah lama tidak ify lewati. Tidak bosan-bosannya ify bertanya ke alvin, tentang hampir semua gedung baru yang bermunculan di kota ini.

“Orang tua lo, kapan datang dari bandung fy ?”

“Harusnya sore ini mereka udah sampai sini vin”

“Ohh..” alvin yang selama ini pintar berkata-kata bila dihadapan seorang wanita, kali ini terasa mati kutu dihadapan ify, bukan karena penampilan ify, yang berubah layaknya seorang model. Namun karena ia tidak mengerti, bagaimana cara menjelaskan semuanya pada ify. Ini terlalu rumit.

“Vin, kok kita kesini ?” tanya ify bingung, alvin hanya tersenyum lirih.

“Ayo fy..” tanpa menjawab pertanyaan ify, alvin turun dari mobilnya, dan segera menggandeng ify, membimbingnya sambil berharap dalam hati, akan ada bantuan yang membimbingnya untuk menyampaikan semua ini.

“Kita ngapain vin ?” ify menghentikan langkahnya. “Ini..”

“Ssstt..” alvin meletakkan telunjuknya di bibir ify. “Sebentar lagi..”

Dan mereka berdua berhenti di satu posisi. Bayang-bayang air langsung tercipta di mata ify, ia berkali-kali memandang alvin dan sebuah nisan putih dihadapannya.

“Vin..”

“Rio udah enggak ada, sejak setahun lalu” ujar alvin pelan, dan pedih. Ify langsung jatuh, berlutut di makam rio. Dengan gemetar, tangannya berniat untuk menyentuh nisan berukirkan nama orang yang selama empat tahun ini, tidak sedetikpun absen ia nantikan kehadirannya dalam setiap mimpinya.

“Ini bercanda kan vin ? kalian pasti mau ngerjain gue ? iyakan ?”

“Fy..”

“Rio udah janji mau nungguin gue vin, rio mau jemput gue !!” ify mulai kehilangan kendalinya.

“Dia jadi aktivis kampus, dan dia tetap rio yang emosinya mudah terpancing. Kampusnya terlibat tawuran sama kampus lain, dan dia jadi salah satu korbannya..”

“Stop vin ! cukup !!” teriak ify menutup kedua telinganya.

“Kita semua sengaja enggak mau ngasih tahu lo, sengaja nunggu kepulangan lo fy, maaf..” alvin ikut berlutut di samping ify, memeluk sahabatnya itu.

“I..ini..konyol vin..dia..dia masih tetap ngirim email ke gue..dia..”

“Itu gue fy, gue..”

“Enggak ! itu rio ! rio..” alvin mengeratkan pelukannya, mencoba meredam ify yang terus meronta dan berteriak-teriak.

“Ada satu permintaannya dia, dan izinkan gue untuk memenuhi janji gue ke sahabat gue fy..” bisik alvin. Ify tidak menggubrisnya sama sekali. Matanya hanya tertuju pada segunduk tanah di hadapannya.

Petikan dawai kesedihan, menyeruak pelan, memenuhi sudut-sudut hati. Menyisakan linangan tangis air mata, serta berton-ton kesedihan yang seolah tidak akan berujung. Semua terasa begitu hambar, seakan-akan mati rasa.

***

“...dan sahabat laki-laki itu..” papanya menoleh, dan terlihat malaikat kecilnya itu telah terlelap, menuju dunia mimpinya.

“Alvin..”

“Kamu udah pulang fy ? via ketiduran disini, biar aku gendong ke kamarnya dulu”

Ify tersenyum tipis, ia mengecup pipi putih via. Lalu duduk di hadapan meja riasnya, membersihkan sisa make up yang melekat di wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, alvin telah kembali lagi ke kamar mereka, duduk di ranjang.

“Hebat kamu vin, bisa bikin via tidur sampai sepulas itu”

“Aku baru nyeritain dia sebuah cerita”

“Dongeng putri-putri kesukaannya ?”

“Cerita tentang putri ify dan pangeran rio” ujar alvin pelan. Namun cukup untuk membuat ify menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah alvin.

“Vin..”

“Ada saatnya, via akan tahu, kemana kamu setiap tanggal 10, dan biarkan aku menceritakan itu dari awal fy” ify menatap alvin yang tersenyum ke arahnya, tapi menimbulkan rasa bersalah di hatinya.

“Jadi gimana makam rio ? tetap bersih kan ?” tanya alvin santai.

“Maafin aku vin”

“Buat apa fy ?”

“Untuk semuanya, tujuh tahun, kamu terlalu baik”

“Aku menjalankan amanat sahabatku fy..” lagi-lagi alvin tersenyum. Ia berdiri dan mendekat ke arah ify, menumpukan kedua tangannya di bahu ify. “Mungkin ini unik, mungkin kamu akan selalu mengunjungi makam rio setiap tanggal 10 untuk memperingati hari jadian kalian, mungkin kamu akan selalu mengingat rio sebagai yang pertama, via, baru aku, mungkin kamu akan lebih mengingat makanan kesukaan rio ketimbang aku..tapi aku tidak peduli..anggap saja ini persahabatan yang abadi, dan seorang sahabat tidak akan pernah berhenti di tengah jalan untuk meninggalkan sahabatnya..”

“Kamu..”

“Aku mau bikin kopi, kamu mau ?” ify hanya bisa menggeleng. Alvin mengangguk kecil dan segera keluar dari kamar. Menuju dapur dan menyeduh kopi hitamnya, rasa pahit, tempat pelariannya.

Di halaman belakang rumah, alvin duduk sambil meniup-niup kopinya. Ia sukses sebagai seorang pengacara muda sekarang, mempunyai rumah yang besar, mobil yang bisa dibilang mewah, anak yang lucu dan pintar, dan istri yang cantik. Meski bagian terakhirnya, alvin harus rela berbagi dengan sebuah kenangan yang sampai kapanpun ia berusaha, tidak akan mati.

“Gue udah menjaga ify semampu gue yo, gue udah menyematkan cincin itu seperti yang lo minta, dan sekarang, gue harap lo bisa bahagia disana yo..”

Alvin menyesap kopinya, membiarkan rasa pahit itu memenuhi rongga-rongga mulutnya. Dalam kesendiriannya itu, ia tersenyum lirih. Ini bukan terlalu baik seperti yang ify bilang. Ini hanya sebuah janji. Dan alvin percaya, meski hingga ujung nanti, keadaan akan tetap begini. Setidaknya ia telah berusaha. Lagipula ada via, alasan paling kuat, bagi alvin untuk terus bertahan.

..bertahan, berdiri di satu titik, terus menunggu, dan kadang menyelipkan harapan di dalamnya, menempuh ribuan kilometer, menerjang batas-batas tak terjamah, menyembunyikan segala rasa sakit di dalam hati..bertahan, tidak memerlukan keahlian apapun, hanya kesetiaan, dan sedikit pengorbanan, menunggu meski mungkin yang ditunggu tak akan pernah hadir..bertahan, manusiawi, kadang terlihat bodoh, dan menggelikan..bertahan, tidak peduli seperti apa hari esok, selama kaki masih mampu berdiri tegak..bertahan, untuk yang indah pada waktunya..





1 komentar:

  1. keren banget nind...udah lama ga baca karya kamu..KANGEENNN!!!!! apalagi quote terakhirnya dalam banget...

    BalasHapus